https://www.batamnews.co.id

Owner Dmollis Crafting di Batam

Berawal dari Iseng-iseng, Usaha Crafting Tika Sampai Afrika

Kartika Dwi Putri (28) dan usaha crafting dengan brand Dmollis. (Foto: Johannes Saragih/Batamnews)

Batam - Berawal dari keinginannya untuk persiapan bedding set (mengatur tempat tidur) calon bayinya, Kartika Dwi Putri (28) bisa mendapatkan omset Rp 15 juta per bulannya. Bahkan omset yang didapatnya bisa lebih dari itu. Asalnya dari usaha crafting yang ia kerjakan bersama ibunya.

Tika sapaan akrabnya, wanita yang tengah hamil muda anak kedua ini membuka usaha crafting yang dia beri brand "Dmollis" ini tanpa disengaja. 

Awal ceritanya pada tahun 2014, ketika sedang hamil dan mau melahirkan, ia ingin persiapan untuk si calon bayi dengan bahan yang lucu. 

Saat itu, ia masih memesan di luar dan ternyata harganya terlalu mahal. Tika berinisiatif meminta kepada ibunya untuk membuatkan bedding set, karena dia sendiri belum pandai menjahit saat itu.

"Tanya mama, bisa jaitin nggak? bedding buat set buat calon baby, gitu. Terus dibikinin sama mama dua, dibikinin sprei, sarung bantal, sarung bantal guling," ujarnya kepada batamnews.co.id, Jumat (3/8/2018).

Namun Tika mengaku, setelah bayinya lahir, dia pada saat itu ingin terus menggonta ganti sprei untuk bayinya tersebut karena bosan melihat motif yang itu-itu saja."Jadi saya mau minta mama lagi nggak enak, saya inisiatif jahit sendiri," ucapnya yang berlamat di Tiban 3 blok A8 no 138, Tiban, Sekupang.

Compang camping, berantakan, tapi dibiarain sama mama. Saya jahit dan siap satu produk," lanjutnya.

Tika bercerita, setelah satu produk itu siap. Besoknya dia akan pergi untuk liburan ke luar kota. Di sana dia berpikir bagaimana cara yang efesien untuk membawa selimut untuk bayi yang lucu. Lalu dia membuat sendiri selimut itu sebelum berangkat.

"Setelah jadi barangnya dan sebelum saya berangkat, temen saya ngeliatin itu selimutnya. Temen saya minta untuk dibikinin juga. Saya nggak mau awalnya, saya nggak pede. Terus temen saya maksa, "bikinin donk, nggak apa-apa. Pokoknya bikinin". Akhirnya temen ini setelah saya bikinin, dia posting di medsos. Gara-gara dia posting, yang lain pada ikutan order," kata dia.

Dalam kurun waktu seminggu sebelum dia pergi liburan, Tika sudah mendapat sepuluh orderan karena postingan temannya itu.

"Saya juga kaget, soalnya kan saya nggak kepikiran mau jualan. Tapi saya mikir lumayan nih buat nambah ongkos keluar kota. Jadi mumpung saya di Jakarta, saya beli bahannnya di sana. Memang saya juga ngambil bahannya nggak di Batam, saya ngambil bahannya di Jakarta," ujarnya.

Belum berhenti di sana, setelah dia kembali lagi ke Batam, beberapa teman malah mengorder lagi dengan barang yang lain. Hal ini sempat membuat dia kebingungan. Akhirnya dia nekat membuat orderan tersebut dengan melihat tutorial dari youtube karena dia tidak mempunyai keahlian namun berhasil.

"Akhirnya dari situlah awal semuanya, sampai saya juga bikin instagramnya. Dari situlah orderan masuk terus sampai dari Kalimantan. Saya jahit berdua sama mama, banyaaak banget. Saya sambil ngurus bayi, pokoknya lucu deh. Mana gitu jahitnya masih pakai mesin jahit yang rumahan gitu," kata dia sambil tertawa.

Setelah melihat perkembangan itulah akhirnya dia berfikir untuk serius menjalani usaha ini, hingga akhirnya usahanya berkembang yang dari awalanya hanya satu sampai dua produk, sekarang sudah ada produk lainnya.

"Pada tahun kedua saya memberanikan diri membuat tas wanita, clutch namanya. Clutch itu saya bikin awalnya dari bahan biasa, terus lama-lama saya beranikan bikin pakai bahan kulit. Dari situ lumayan juga penjualannya," ujarnya.

Pada tahun kedua itu juga, dia sudah mengambil karyawan satu orang dan sudah mengirim produknya hingga ke luar negeri.

"Kalau pemesanan yang paling jauh itu saya pernah ngirim ke Afrika. Dia orang Indonesia, nikah dengan orang sana dan dia punya girl shop disana. yang belanja itu istrinya bill gates, jadi dia di sana jualin produk-produk Indonesia. Kalau di Indonesia saya pernah ngirim sampai ke Papua," ungkapnya.

Kenapa memakai nama "Dmollis"?

"Awalnya saya iseng-iseng aja karena saya perlu ID di Instagram, jadi mau pakai bahasa yang lebih cenderung ke produk bayi dan produk home living, Saya lebih mikir makai kata nyaman, cuma kalau diartikan kan jadi "Comfort" kan agak gimana gitu dengernya. Kalau nggak salah itu berasal dari bahasa Latin, artinya nyaman," kata dia.

Saat ini, Tika mengaku rata-rata bisa mendapatkan Rp 15 juta per bulannya dari hasil jualan produknya. Itu bahkan berbeda jika pada saat bulan puasa menjelang hari lebaran, dia bisa mendapatkan dua hingga tiga kali lipat dari pendapatan bulan-bulan biasa.

"Karena orang kalau lebaran pada banyak yang mintain ganti set, apalagi kalau keluarganya banyak yang datang," ungkapnya.

(ude)


Berita Terkait