Dicari Ibu-ibu di Batam untuk Belajar Coding Gratis!

Para pendiri codersjs.org di Batam, Amirul dan Joko saat berkunjung di kantor batamnews (Foto: Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Badan Ekonomi Kreatif bakal mengadakan 'Coding Mum' di Universitas Universal, Sei Panas, Batam, pada 30 April 2018 hingga 9 Mei 2018. Para peserta nanti akan terdiri dari para ibu-ibu rumah tangga.

"Peserta nanti maksimal 20 orang, nanti akan diseleksi sampai sehari sebelum acara, khususnya ibu-ibu rumah tangga," ujar Joko Auditis, Koordinator Coding Mum Batam, kepada batamnews.co.id, Senin (23/4/2018).

Untuk pendaftaran bisa melalui bit.ly/pendaftaranbatam. Syarat peserta ibu rumah tangga, tidak bekerja kantoran, memiliki laptop, dan mengisi formulir pendaftaran. "Dan lolos seleksi panitia," ujar Joko.

Nanti semua coders (sebutan para coding) mendapat pengalaman di bidang coding dan bisa mengembangkan web, serta bisa menjadi internet marketers.

Acara ini juga bekerja sama dengan Codersjs.org, Universitas Universal, dan juga didukung batamnews.co.id, Ruang Kreasi, dan lainnya.

Menurut Joko, yang juga pendiri codersjs.org ini perkembangan dunia digital di Batam cukup bagus. 

Beberapa komunitas bermunculan, mulai dari komunitas coding, co-working space, dan startup-startup lainnya.
Tentu saja ini menjadi angin segar kedepannya untuk industri kreatif di bidang digital. 

Bekraf juga yang akan menyelenggarakan serta memfasilitasi program pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan programmer sebagai alternatif profesi bagi para penyandang disabilitas. 

Program ini diberi nama Coding Mum Disabilitas sebagai pengembangan dari Coding Mum yang telah dilaksanakan di tahun 2018 dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga dan buruh migran Indonesia di luar negeri.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari skenario besar untuk mencapai sasaran strategis Bekraf dalam menyerap tenaga kerja dari sektor industri ekonomi kreatif hingga berjumlah hingga tujuh belas jiwa di tahun 2019.

“Coding Mum Disabilitas diharapkan dapat lebih memberdayakan saudara saudara kita yang karena satu dan lain hal mempunyai kemampuan yang berbeda. Program ini juga sekaligus untuk menjawab tantangan alert coder atau kekurangan tenaga programer di Indonesia,” ujar Pak Triawan.

Kekurangan tenaga - tenaga programer tersebut semakin terasa ketika ekonomi kreatif yang akan dikembangkan yakni yang bertranformasi ke digital. Dibutuhkan setidaknya 100 ribu programer handal untuk membangun 1000 start up yang berkualitas.

Artinya, satu orang start up akan membutuhkan ratusan orang programer untuk mendukung usahanya.
Kekurangan ini membuat perusahaan-perusahaan ekonomi kreatif berbasis teknologi yang sedang tumbuh di Indonesia harus mengimpor tenaga yang dibutuhkan dari India.

(snw)