Warga Asing Ketakutan Keamanan Batam

Ilustrasi

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Warga asing di Batam, Kepulauan Riau, khawatir dengan kasus kriminal yang terjadi hampir setiap hari di kota tersebut. Mereka merasa tidak nyaman tinggal dan berinvestasi di Batam.

Pada triwulan pertama tahun 2015, jumlah kasus kriminal di Batam mencapai 500 kejadian. Kasus-kasus itu meliputi penjambretan, pembegalan, pembunuhan, dan perampokan.

"Kami khawatir karena Batam daerah perdagangan bebas, sementara pendatang dari daerah lainnya yang masuk jumlahnya melebihi kesempatan untuk bekerja di daerah ini," kata Andrew Chan, seorang warga negara Singapura yang sudah bermukim lebih kurang 5 tahun di Batam, Kamis (19/3/2015).

Dia menyayangkan Batam tidak seperti Guang Zhao, di Cina. Pemerintah Guang Zhao memperketat warga daerah dari provinsi lain masuk ke daerah bisnis tersebut. Sehingga otoritas pemerintahan di Guangzhao lebih mudah melakukan pengawasan.

"Harusnya, demikian yang dilakukan Batam. Sebab, jika tingkat keamanan Batam tidak menjamin. Untuk apa investor mau berinvestasi di daerah," tegasnya.

Hal senada juga dikatakan Michael Stevan, warga negara Kanada yang bekerja di galangan kapal di kawasan industri Tanjung Uncang. Dia khawatir jaminan keamanan yang seharusnya menjadi salah satu andalan tidak terealisasi dengan baik. Padahal banyak investasi asing di Batam yang membutuhkan keamanan.

"Jaminan keamanan harusnya ada. Batam sudah ibarat daerah kumuh yang menjadi lahan subur bagi pelaku kriminal. Banyak pelanggan kami di luar negeri membatalkan perjanjian kerja, karena merasa tidak nyaman untuk bekerja dengan kami," katanya.

Ketua Badan Pengusaha Batam Mustofa Wijaya, ketika dikonfirmasi belum dapat memberikan jawabannya. Namun, dia berjanji akan memberikan jawaban terhadap masalah ini secepatnya.

Pengusaha dan anggota Kamar Dagang dan Industri Kepri Sampe Siburian mengatakan tidak tegasnya sistem kependudukan dan bebasnya para pelaku kriminal masuk ke Batam turut memperparah masalah di Batam.

"Masalah Batam saat ini, sudah kompleks. Benang kusut yang harus diuraikan secepatnya ini mendesak dilakukan," katanya.

Bila tidak cepat, investasi sudah tinggal kenangan saja. Sebab, dalam jangka waktu 3 tahun saja Batam sudah ditinggalkan 30 PMA. Angka ini sudah kritis, dan harus dijadikan pelajaran bagi daerah lain. Sebab, hampir sebagian besar warga Batam sudah ‎tidak percaya lagi dengan jaminan keamanan.

 

sumber: metrotv

[snw]