Potret Miris Warga Pinggiran Ibukota Natuna, Terabaikan Program Kesehatan dan Pemukiman Layak
Nazri, salah seorang staff kesehatan Puskesmas Ranai memeriksa tensi salah seorang warga hinterland (pinggiran kota). (Foto: Fox/Batamnews)
Batamnews.co.id, berkesempatan ikut dengan Komunitas sosial di Ranai Kabupaten Natuna, Minggu (10/12/2017). Komunitas yang bernama Forum Kita Peduli Sesama (FKPS) menelusuri perkampungan dengan jalan-jalan tanah dengan medan bergelombang di tengah hutan dan perladangan di Kampung Air Raya, Kelurahan Bandarsyah.
Rumah-rumah warga dengan kondisi tertinggal dan termakan zaman, lapuk dan tampak kurang layak huni disambangi. Sesekali serbuan nyamuk-nyamuk hutan mengerubungi badan saat bertamu di depan pintu rumah warga.
Sugianto, Koordinator FKPS dan anggota komunitas lainnya berinisiatif secara swadaya mengumpulkan sumbangan rutin setiap bulan. "Setiap bulan kami telusuri lokasi yang keadannya seperti ini. Baru ini yang bisa kami lakukan," tukasnya.
Banyak lansia yang ternyata hidup mengenaskan. Ditinggal anak-anak yang sibuk mengurus keluarga barunya.
"Kami mendata orang-orang yang benar-benar miskin. Lansia yang hidup sendiri, dan orang-orang sakit. Bulan ini kami menyalurkan beras. Ada 28 paket yang kami siapkan," ujar Yanto, yang keseharian bekerja sebagai wiraswasta ini.

Para lansia yang disambangi pun tampak gembira. Apalagi rombongan ini juga mengikutkan staff puskesmas untuk pengecekan tensi dan konsultasi kesehatan.
Nazri, staff kesehatan puskesmas ranai yang ikut dalam kegiatan ini melihat kondisi kesehatan para lansia yang kurang terawat.
"Para lansia ini Kita cek tensi mereka. Kita coba nasihati pola hidup sehat dan beri masukan untuk menjaga kondisi tubuh," ungkapnya.
Bahkan, disebuah rumah di pinggir jalan besar pun sebelumnya sempat ditemukan orangtua renta yang tak terurus, sakit dan hidup menyendiri di rumah yang tampak berantakan.

Wajah kemiskinan di ibukota kabupaten Natuna ini sungguh miris. Acap kali mereka cuma didatangi saat menjelang pilkada atau momen-momen tertentu saja. Rumah-rumah di tengah perkampungan yang berada di tengah hutan ini misalnya, seakan terabaikan program kesehatan dan RTLH.
Mardiani, seorang warga RT 01/10 Kampung Air Raya mengungkapkan, rata-rata mayoritas warga masih berpendidikan rendah. Mata pencarian kebanyakan sebagai pekerja serabutan dan nelayan musiman.
"Kalau cuaca baik, ya kadang turun ke laut jadi nelayan. Kalau cuaca jelek pergi ke ladang. Yah kondisinya begini lah, banyak rumah yang kurang layak," tukasnya.
Terkait para lansia terlantar, agaknya warga berharap ada program dari dinas sosial yang bisa mengakomodir kesehatan dan kehidupan para lansia ini.
"Biasanya data-data program yang dipakai pemerintah, data-data lama. Data dari survey BPS, agaknya mereka kurang percaya dengan usulan-usulan RT-RW dan kelurahan," ungkap salah seorang warga.
(fox)

Komentar Via Facebook :