Duh, Oleh-oleh Khas Batam KW Impor Beredar Luas

Duh, Oleh-oleh Khas Batam KW Impor Beredar Luas

Batam - Tak hanya barang-barang tiruan (KW), di Batam juga ada oleh-oleh KW. Oleh-oleh KW itu dilabeli oleh-oleh khas Batam meskipun berasal dari produk impor dari Malaysia.

Tingginya angka wisatawan yang datang ke Batam, membuat orang berlomba-lomba membuat oleh-oleh khas Batam, bahkan dengan menggunakan produk impor. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pasar, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kota Batam Febrialin sudah menemui itu. Pebrialin khawatir oleh-oleh berupa jajanan itu dibeli wisatawan.

Saat ini produk itu banyak beredar. Bentuknya berupa kemasan dengan foto Jembatan Barelang.

“Produk Malaysia memanfaatkan simbol daerah kita, padahal isinya bukan punya kita. Ini persoalan memanfaatkan sumber daya yang kita punya,” kata Pebrialin baru-baru ini.

Pengemasan cokelat dan produk makanan lainnya yang menggunakan  gambar ciri khas daerah dianggap strategi marketing untuk meningkatkan penjualan.

Kejadian seperti ini, pihaknya tidak serta merta dapat menarik produk tersebut. Pihaknya hanya melakukan koordinasi pihak pengawasan pemanfaatan lebel.

Diberitakan sebelumnya, Walikota Batam, Ahmad Dahlan menilai wajar jika masih ada produk impor yang menjadi oleh-oleh wisatawan dari Batam. Karena menurutnya, selama ini perdagangan lintas negara memang terjadi. 

Dahlan menjelaskan bahwa produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang asli dari Batam, baru berkembang sekitar lima tahun terakhir. 

Tepatnya ketika pemerintah mulai menggaungkan program kunjungan wisata Visit Batam di tahun 2010. Dan geliat perkembangan produk UMKM Batam ini mulai terasa 2-3 tahun setelahnya.

“Jangan dikira produk daerah itu ujug-ujug jadi. Tidak ada yang ujug-ujug jadi, semua ada tahapan. Batam ini alhamdulillah langsung laku,” ujar Dahlan.

Ia mengatakan tidak masalah jika produk impor masuk ke Batam. Sebagai penyeimbang, pemerintah terus mendorong produk UMKM daerah untuk berkembang terus sehingga mampu bersaing dengan produk impor.

“Mau dari Malaysia, Thailand, Singapura monggo (silakan). Karena pemerintah daerah mendorong terus produk UKM daerah,” tuturnya.

 

[snw]