Miris! Keluarga di Bintan Makan Biji Cempedak Pengganti Nasi, Tak Punya KTP & BPJS Sejak 1998
Tangkapan layar video amatir menunjukkan momen pria pendamping warga berdialog dengan Bapak Polus (kiri) di kediamannya yang sederhana di Kelurahan Sungai Enam, Bintan. Dalam rekaman yang viral tersebut, terungkap bahwa keluarga ini terpaksa mengonsumsi biji cempedak sebagai makanan pokok dan belum memiliki identitas kependudukan sejak 1998.
Bintan, Batamnews - Kisah memilukan datang dari Kelurahan Sungai Enam, Kabupaten Bintan. Sebuah keluarga terpaksa menjadikan biji cempedak sebagai makanan pokok sehari-hari demi bertahan hidup di tengah sulitnya kondisi ekonomi.
Keluarga Bapak Polus dan istrinya, Ibu Mutamimah, tinggal di kawasan tersebut sejak tahun 1998. Namun hingga kini, mereka tidak memiliki identitas kependudukan yang jelas. Akibatnya, berbagai bantuan sosial seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) tidak pernah mereka terima.
Kondisi ini terungkap setelah rekaman video dan audio viral di media sosial. Dalam rekaman yang diunggah oleh warga bernama Firda, terdengar penjelasan bahwa keluarga itu merendam biji cempedak dalam jumlah banyak agar tahan lama. Biji tersebut direbus berulang kali sebagai pengganti nasi.
Baca juga: Kasus 74 Kg Emas di Sentul: Kejagung Ungkap Modus Operandi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
"Jadi memang stok-stok biji cempedak inilah yang dipakai untuk makan hari-hari. Karena yang ada cuma itu yang bisa dikonsumsi," demikian petikan suara dalam rekaman tersebut.
Penderitaan keluarga ini bertambah berat. Ibu Mutamimah sudah tiga tahun terbaring sakit. Tanpa Kartu BPJS Kesehatan dan identitas resmi, mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dasar.
"Sudah 3 tahun sakit di sini tanpa bisa ke rumah sakit karena tidak ada BPJS dan tidak ada identitas. Jadi mohon fasilitas kesehatan di Bintan untuk datanglah ke sini melihat langsung kondisi Bapak Polus dan istri," ujar narasumber dalam video.
Warga dan pihak pendamping keluarga melayangkan seruan kepada pemangku kebijakan, mulai dari tingkat RT/RW hingga Pemerintah Kabupaten Bintan. Mereka meminta Dinas Sosial dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) segera turun tangan.
Harapan mendesak yang disampaikan:
- Pembuatan identitas kependudukan darurat agar keluarga tercatat secara resmi
- Penyaluran bantuan sosial yang selama ini tidak pernah mereka terima
- Pemberian fasilitas BPJS dan kunjungan medis untuk mengobati Ibu Mutamimah
Baca juga: Kecelakaan di Pelita Batam: Wanita Kritis Ditabrak Mobil, Diduga Sopir Mabuk dan HP Korban Hilang
Warga mengajak masyarakat luas membagikan informasi ini agar mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah setempat.

Komentar Via Facebook :