Kisah Pilu Pria Asal Sumbawa: Dianiaya Sapu Besi Saat Salat, Dieksploitasi Kakak Kandung, Kini Cari Keadilan
Luka memar yang dialami R, pria asal Sumbawa. (Foto: istimewa)
Batam, Batamnews – Rasa putus asa menyelimuti R, seorang pemuda asal Sumbawa. Ia kini terpaksa bersuara demi mencari keadilan dan perlindungan hukum setelah mengaku menjadi korban kekerasan fisik, mental, hingga eksploitasi finansial yang diduga dilakukan oleh kakak kandungnya sendiri.
Penderitaan R semakin lengkap karena ia juga mengaku mendapat intimidasi dari seorang oknum pengacara yang merupakan rekan sang kakak.
Melalui pesan singkat yang penuh keputusasaan kepada Batamnews, R mengisahkan perjalanan hidupnya yang kelam. Sejak kecil, ia sudah menjadi sasaran kekerasan sang kakak. Padahal, R telah menunjukkan loyalitas luar biasa dengan rela putus sekolah demi membantu perekonomian kakaknya. Namun, pengorbanan itu justru dibalas dengan perlakuan tidak manusiawi.
Kekejaman sang kakak merambah ke urusan finansial. R dibujuk untuk mengajukan pinjaman bank menggunakan namanya dengan janji cicilan akan ditanggung. Faktanya, sang kakak diduga lepas tangan. Akibatnya, R kini terancam masuk dalam daftar hitam (blacklist) perbankan karena tunggakan yang tidak terbayar.
Dianiaya Saat Beribadah
Puncak kekerasan fisik yang dialami R sungguh di luar nalar. Ia menyebutkan bahwa seorang oknum pengacara, rekan kakaknya, pernah melakukan penganiayaan berat terhadap dirinya.
"Saya dipukul dengan sapu besi saat sedang melaksanakan shalat hanya karena saya menegurnya. Saya masih menyimpan bukti foto luka memar di badan saya," ungkap R dengan nada getir.
Tak berhenti di situ, R juga kerap dihujani hinaan verbal terkait asal-usul kelahirannya yang meruntuhkan mentalnya. Ia bahkan diancam agar tidak melaporkan dugaan penyalahgunaan narkoba yang diduga dilakukan oleh oknum pengacara tersebut.
Hidup dalam Ketakutan
Kondisi R saat ini sangat memprihatinkan. Kehilangan sosok ayah dan baru saja mengetahui identitas ibu kandungnya melalui media sosial membuat R merasa tidak memiliki tempat bersandar. Selama satu bulan terakhir, ia memilih merantau untuk menyelamatkan diri dari lingkaran setan tersebut. Namun, meski sudah jauh, teror melalui pesan singkat masih terus menghantuinya.
"Saya berada di titik paling rendah dan merasa ingin menyerah pada hidup. Saya hanya ingin hidup tenang tanpa ancaman dan kekerasan," lanjutnya.
Kisah R adalah cermin nyata betapa rentannya korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan intimidasi dari oknum yang memiliki akses hukum.
Saat ini, R sangat berharap ada lembaga bantuan hukum atau pihak berwajib yang bersedia mengulurkan tangan. Ia membutuhkan perlindungan fisik sekaligus bantuan hukum untuk mengusut tuntas kasus penipuan dan penganiayaan yang telah menghancurkan hidupnya.

Komentar Via Facebook :