Penganugerahan Gelar dan Syarat Utamanya
Bang Suherman (kiri) dan Bang Iswandi (kiri). (Foto: istimewa)
Oleh: Abang Mat
Menganugerahkan gelar adat kepada pejabat tinggi negara sudah menjadi kebiasaan Lembaga Adat Melayu di kepulauan Riau. Seolah-olah itu adalah satu kebanggaan. Sehingga gelar-gelar itu terasa tidak sakral lagi bagi masyarakat, karena bukan sesuatu yang istimewa. Hampir setiap pejabat tinggi negara yang datang ke kepulauan Riau, kecenderungannya adalah dikasih gelar. Padahal pejabat yang dianugerahkan gelar itu tidak ada jasanya langsung kepada masyarakat suku melayu disini. Misalnya, melipatgandakan APBD provinsi kepulauan Riau di tahun mendatang.
Saya tak sepenuhnya setuju dengan kriteria yang dipakai Lembaga Adat Melayu dalam menganugerahkan gelar. Dalam pandangan saya, idealnya penganugerahan gelar di lakukan cukup setahun sekali, bila perlu tak setiap tahun. Dan paling banyak yang menerimanya cukup dua atau tiga orang. Dianugerahkan kepada orang yang benar-benar mulia. Supaya gelar itu terasa istimewa dan membanggakan. Bukan hanya bagi penerimanya, tapi juga bagi masyarakat kepulauan Riau. Dan yang pasti adalah penerimanya harus orang-orang yang sudah betul-betul berjasa kepada masyarakat suku melayu.
Dalam pandangan saya sejauh ini, dua orang yang layak mendapatkan gelar dari Lembaga Adat Melayu adalah Iswandi M Yakob, yang lebih dikenal dengan panggilan Abang Long. Dan satu lagi yang juga layak mendapatkan gelar adalah Suherman, yang dikenal dengan kepeduliannya yang tinggi. Dua lelaki ini sudah jelas terbukti berjasa kepada masyarakat. Mereka melakukan hal-hal yang tak dilakukan lelaki-lelaki Melayu lainnya di kepulauan Riau. Setau saya sampai sekarang jasa-jasa mereka belum ditandakan dengan gelar dari Lembaga Adat Melayu. Meskipun mereka tak mengharapkannya sama sekali.
Kita bisa dengan mudah menelusuri bukti-bukti kepahlawanan Abang Long saat beliau memimpin unjuk rasa menentang ketidakadilan negara. Yang mau merobohkan 16 perkampungan melayu di Rempang. Beliau membela hak masyarakat suku melayu yang ditindas oleh pemerintah pusat republik indonesia. Pembelaan ini dilakukan demi mencegah dirampasnya 16 perkampungan itu demi dibuat menjadi kawasan industri dan kawasan perumahan dempet seperti di Batam. Kelantangannya ditujukan kepada Presiden waktu itu, yang tak paham dengan isi naskah yang beliau tandatangani sewaktu beliau digotong ke Beijing.
Satu lagi adalah Suherman. Sudah sering saya melihat dia mengorbankan hidupnya untuk menolong masyarakat, khususnya di Barelang. Yang prasarananya tidak selengkap di pusat kota. Pengabdiannya luar biasa. Padahal dia tergolong orang yang sudah sangat mapan. Contohnya, dia sanggup bangun tengah malam dari tidurnya untuk membawa masyarakat yang memerlukan pertolongan kesehatan darurat ke hospital, bahkan sampai menyebrang lautan. Dan dia melakukan pekerjaan ini bukan dalam rangka kampanye. Beliau adalah orang yang sangat tulus menolong orang lain tanpa mengharapkan pembalasan jasa.
Dua orang inilah yang sangat layak mendapatkan gelar dari Lembaga Adat Melayu. Walaupun tidak sejalan dengan kemauan pemerintah pusat. Misalnya seperti Abang Long yang karena pembelaannya kepada masyarakat, sampai menyebabkan beliau di zalimi negara. Karena kelantangannya waktu itu yang menggemparkan Batam. Saya pribadi menobatkan Abang Long Iswandi dan Abang Suherman sebagai Panglima Melayu di Batam. Dasar dari penggelaran ini adalah karena jasa-jasa mereka kepada masyarakat yang tak ternilai. Terutama saat keadaan sedang genting. Mereka lah panglima yang sesungguhnya.
Demikianlah pandangan singkat saya tentang penganugerahan gelar kepada orang-orang yang dipilih, lewat Lembaga Adat Melayu se-Kepulauan Riau. Sebaiknya dilaksanakan mulai sekarang. Jangan lagi ada kesalahan yang sama terjadi di masa depan. Yaitu penganugerahan gelar secara membabi buta. Maksudnya, asal ada pejabat tinggi dari Jakarta datang, dikasih gelar. Hanya karena mereka pejabat tinggi negara. Tapi anugerahkanlah gelar kepada orang-orang yang benar-benar layak mendapatkannya, yang sudah berjasa kepada masyarakat. Walaupun orang-orang itu tidak berjabatan, tidak kaya, dan tidak tenar.
Dua panglima Melayu yang rendah hati ini layak namanya diabadikan menjadi nama jalan di Batam. Tentunya di jalan-jalan utama. Seperti di Nagoya dan di Batam Centre. Sebagai pengingat dengan jasa mereka. Jalan Iswandi M Yakob dan Jalan Suherman.
---
Penulis adalah alumni SMP 6 Batam. Menganggap pelabuhan Sekupang adalah pelabuhan internasional terbagus di Batam. Pamer Bojo adalah lagu jawa kegemarannya.

Komentar Via Facebook :