Refleksi Hari Ibu 22 Desember

Ibu Kuat Negara Hebat

Ibu Kuat Negara Hebat

Raja Dachroni.

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Raja Dachroni

Tanggal 22 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Namun, esensi dari peringatan ini jauh melampaui sekadar memberikan bunga atau ucapan manis. Ia adalah momen reflektif, untuk merenungi peran perempuan khususnya ibu dalam membentuk wajah bangsa. Ibu bukan hanya sosok domestik yang mengurus rumah tangga, melainkan aktor kunci dalam pembangunan karakter, sosial, bahkan ekonomi masyarakat.

Sejarah Hari Ibu sendiri tidak lepas dari kiprah para perempuan pejuang kemerdekaan yang berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Mereka bukan hanya ibu rumah tangga, tetapi pemikir, penggerak, dan pelaku sejarah. Maka dari itu, membingkai ibu hanya sebagai simbol pengasuhan tanpa mengakui kekuatan sosial-politiknya adalah sebuah penyempitan makna.

Namun di sisi lain, banyak tantangan yang masih membelenggu perempuan, terutama ibu. Beban ganda antara pekerjaan domestik dan publik, serta minimnya perlindungan hukum terhadap kekerasan dalam rumah tangga menjadi pekerjaan rumah serius. Laporan Komnas Perempuan tahun 2024 menunjukkan bahwa mayoritas kasus kekerasan rumah tangga masih menempatkan ibu sebagai korban, baik secara fisik maupun psikis.

Maka, membangun negara hebat lewat ibu tidak bisa hanya menjadi jargon. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan afirmatif: cuti melahirkan yang cukup, perlindungan hukum, akses pendidikan non-formal bagi ibu, serta ruang keterlibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan. Di sinilah negara berperan sebagai fasilitator agar potensi ibu tidak hanya berkembang di dapur, tetapi juga di ruang publik.

Dalam sudut pandang agama Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sejak awal menempatkan perempuan dalam posisi strategis. Kekuatan ibu dalam perspektif Islam pun mendapat tempat yang tinggi. Dalam Al-Qur'an, peran ibu disebutkan dengan penghormatan yang luar biasa, seperti dalam surah Luqman ayat 14, di mana perjuangan mengandung dan menyusui diakui sebagai pengorbanan besar. Hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, menjadi fondasi teologis bahwa kekuatan seorang ibu adalah fondasi peradaban.

Sejarah mencatat tokoh-tokoh seperti Khadijah RA pengusaha sukses dan pendukung dakwah Rasulullah atau Asma binti Abu Bakar yang berani mengantar logistik saat hijrah, adalah contoh ibu yang berdaya dan turut serta dalam perjuangan sosial.

Mengapa ibu disebut sebagai kunci kekuatan negara? Jawabannya sederhana: karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak bangsa. Dalam dekapan ibu, nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, keteguhan, dan kasih sayang mulai ditanamkan. Jika seorang ibu memiliki ketahanan mental, pemahaman keislaman yang kuat, serta wawasan kebangsaan, maka ia akan melahirkan generasi yang kuat dan cinta tanah air.

Data menunjukkan, negara-negara dengan indeks pembangunan manusia (IPM) tinggi memiliki sistem dukungan keluarga dan perempuan yang kuat. Di Skandinavia misalnya, investasi terhadap kesejahteraan ibu melahirkan generasi sehat dan produktif. Di Indonesia sendiri, studi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat bahwa keterlibatan ibu dalam pendidikan anak berdampak signifikan pada capaian akademik dan perilaku sosial anak.

Refleksi Hari Ibu bukanlah tentang nostalgia masa kecil atau romantisasi kasih ibu semata. Ini tentang bagaimana kita sebagai bangsa menempatkan peran ibu secara struktural, fungsional, dan kultural. Ibu yang kuat dalam akhlak, pendidikan, dan ketahanan sosial akan melahirkan bangsa yang tak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Kita butuh ekosistem yang ramah terhadap perempuan, khususnya ibu. Mulai dari rumah yang adil gender, lingkungan sosial yang suportif, hingga kebijakan publik yang mendorong keterlibatan ibu di berbagai sektor. Kesetaraan bukan berarti meniadakan peran keibuan, melainkan menempatkan peran itu dalam kehormatan yang layak.

Ibu bukan hanya pengasuh anak-anak, tetapi penjaga moral bangsa. Dalam pelukannya, masa depan ditimang, nilai-nilai diwariskan, dan peradaban dipupuk. Maka, saat ibu kuat, negara benar-benar bisa menjadi hebat bukan karena kekayaan atau teknologi, tetapi karena kokohnya fondasi sosial yang dibangun oleh perempuan-perempuan tangguh ini.

(“Jika kau ingin menghancurkan sebuah bangsa, hancurkanlah ibu-ibunya. Tapi jika kau ingin membangun bangsa, kuatkan ibu-ibunya.” – anonim). 

Selamat hari ibu, ibu kuat negara hebat!

-------------

Penulis adalah Seorang Ayah Empat Anak dan Pembina Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Tanjungpinang

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :