KADIN Tanjungpinang Prihatin, Jalur Logistik Batam Tersendat, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak Tajam
Wakil Ketua I Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tanjungpinang, Mulyadi Tan. (Foto: istimewa)
Tanjungpinang, Batamnews – Wakil Ketua I Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Tanjungpinang, Mulyadi Tan, menyampaikan keprihatinannya terkait tersendatnya jalur logistik dari Batam ke Tanjungpinang yang belakangan ini terjadi akibat kebijakan dan prosedur kepabeanan di jalur Bea Cukai.
Menurutnya, Batam selama ini menjadi main supply hub bagi kebutuhan pokok dan barang konsumsi masyarakat Tanjungpinang dan Bintan. Ketika jalur logistik dari Batam mengalami “lampu merah” dan akses distribusi menjadi sangat sulit, dampak langsung terasa di pasar dan rumahtangga.
“Harga barang melonjak, pelaku usaha terpukul, dan daya beli masyarakat anjlok. Kita mendengar keluhan dari seluruh lapisan masyarakat: Barang makin mahal, rakyat makin susah,” ujar Mulyadi.
Ia menjelaskan, kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi sudah mengarah pada tekanan ekonomi yang signifikan. Pelaku usaha lokal menghadapi margin yang semakin menipis, bahkan ada yang terancam tutup karena biaya distribusi yang membengkak. Sementara itu, masyarakat sebagai konsumen akhir menanggung beban harga yang kian melambung.
Mulyadi menegaskan bahwa KADIN memahami pentingnya fungsi pengawasan kepabeanan oleh negara. Namun, ia menekankan bahwa kebijakan—seketat apa pun—harus tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi wilayah kepulauan seperti Tanjungpinang yang sangat bergantung pada distribusi dari Batam.
Karena itu, KADIN Tanjungpinang mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk:
-
Membuka jalur logistik yang lebih lancar dan jelas antara Batam–Bintan–Tanjungpinang.
-
Menyederhanakan aturan distribusi barang antar-kepulauan agar tidak memberatkan pelaku usaha lokal.
-
Menghadirkan koordinasi lintas kementerian/lembaga sehingga kebijakan tidak saling bertentangan dengan upaya pemulihan ekonomi daerah.
“Kami siap duduk bersama Bea Cukai dan seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi terbaik. Kepentingan fiskal negara tetap penting, namun jangan sampai masyarakat Kepri yang dikorbankan,” tegasnya.
Harga Bahan Pokok Melonjak
Dampak hambatan logistik kini terlihat jelas melalui kenaikan harga sejumlah bahan pokok di Tanjungpinang. Stok yang semakin menipis membuat harga gula, beras, dan komoditas lain merangkak naik di pasar maupun ritel modern.
Di toko ritel, gula PSM dijual Rp18.500 per kilogram, sementara Gulaku menembus Rp19.500 per kilogram.
Harga beras medium Ratu Pinang naik dari Rp13 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.
Untuk beras kemasan 25 kilogram, lonjakan harga juga cukup terasa:
-
Nasi Padang: Rp305.000
-
Gong-gong: Rp295.000
-
Anggur Merah: Rp395.000
Kenaikan harga ini membuat beban masyarakat semakin berat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Mulyadi menegaskan bahwa ekonomi Tanjungpinang harus tetap bergerak, masyarakat harus dapat hidup layak, dan dunia usaha mesti diberi ruang bernapas untuk tumbuh kembali. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menormalkan alur logistik demi stabilitas harga kebutuhan pokok.

Komentar Via Facebook :