6 Cara Bagi Pemula Mendapatkan Passive Income dari Crypto
Ilustrasi : Freepik
Batam, Batamnews - Memiliki passive income dari aset crypto kini semakin diminati, terutama di tengah berkembangnya teknologi blockchain dan semakin banyaknya peluang di dunia Web3. Tidak hanya sekadar membeli dan menyimpan aset crypto, kini ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilan pasif dari crypto, mulai dari staking, lending, hingga yield farming.
Setiap metode memiliki potensi keuntungan dan risikonya masing-masing, sehingga penting bagi investor untuk memahami cara kerjanya sebelum terjun langsung. Dengan mengetahui cara mendapatkan passive income dari crypto, maka untuk mendapatkan XRP akan semakin mudah. Sebagai informasi xrp to idr saat ini diperdagangkan dengan harga Rp 37.833, tentu anda tidak perlu trading.
Di tahun 2025, peluang untuk meraih passive income crypto untuk pemula pun semakin beragam dan mudah diakses. Berikut ini beberapa cara yang bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan passive income dari crypto:
1. Staking PoS (Proof of Stake)
Staking adalah proses mengunci aset crypto di jaringan blockchain berbasis Proof of Stake (PoS) dengan tujuan membantu memvalidasi transaksi dan menjaga keamanan jaringan. Sebagai bentuk apresiasi, pengguna yang melakukan staking akan mendapatkan reward berupa koin crypto dari blockchain tersebut.
Cara ini menjadi salah satu metode paling populer untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset crypto, sekaligus berkontribusi langsung dalam menjaga stabilitas dan keamanan ekosistem blockchain.
Menariknya, tidak semua jaringan PoS mewajibkan penggunanya untuk menjalankan node validator sendiri. Dalam sistem Delegated Proof of Stake (DPoS), siapa saja bisa ikut staking hanya dengan mendelegasikan aset crypto miliknya ke validator pilihan.
Nantinya, validator akan bertugas memproses transaksi dan membangun blok, kemudian membagikan hasil reward staking secara proporsional kepada para delegator. Sistem ini membuat staking menjadi lebih mudah, terjangkau, dan bisa diikuti oleh siapa saja, tanpa perlu perangkat khusus atau pengetahuan teknis yang rumit.
2. Airdrop
Airdrop adalah salah satu cara proyek crypto membagikan token gratis kepada komunitas mereka sebagai bentuk promosi atau apresiasi. Biasanya, airdrop diberikan kepada pengguna yang sudah pernah berinteraksi dengan platform tertentu.
Salah satu contoh terbaru adalah airdrop dari Sonic SVM (SONIC) pada akhir Desember 2024. Dalam program tersebut, token SONIC dibagikan kepada pengguna yang pernah menggunakan Sonic SVM, sebuah jaringan Layer 2 berbasis gaming di Solana, termasuk mereka yang memainkan game SonicX melalui TikTok.
Untuk mendapatkan airdrop, umumnya pengguna hanya perlu menyelesaikan beberapa tugas sederhana, seperti follow media sosial, mencoba fitur tertentu, atau sekadar membuat wallet.
3. Cloud Mining
Cloud mining merupakan salah satu cara menambang (mining) aset crypto tanpa perlu memiliki perangkat keras (hardware) sendiri. Pada umumnya, aktivitas mining membutuhkan alat khusus dengan spesifikasi tinggi dan biaya yang tidak sedikit. Melalui cloud mining, proses tersebut menjadi lebih praktis karena tidak perlu membeli atau mengelola perangkat mining secara langsung.
Konsep cloud mining cukup sederhana. Pengguna hanya perlu menyewa layanan mining dari penyedia jasa tertentu dengan membayar biaya langganan, baik secara bulanan maupun tahunan. Nantinya, pihak penyedia layanan akan menjalankan proses mining menggunakan perangkat mereka, dan hasil mining tersebut akan dibagikan sesuai dengan porsi yang telah disepakati.
Meski terkesan praktis, pemilihan penyedia layanan cloud mining tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sangat penting untuk memilih platform yang kredibel, memiliki reputasi baik, serta transparan dalam operasionalnya. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko penipuan atau kerugian akibat layanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, sebelum memutuskan untuk bergabung dalam cloud mining, setiap calon pengguna juga perlu melakukan riset secara mendalam. Memahami cara kerja cloud mining, potensi keuntungan, serta risiko yang menyertainya merupakan langkah penting.
4. Crypto Lending
Crypto lending atau pinjam-meminjam aset crypto menjadi salah satu cara populer untuk mendapatkan penghasilan pasif dari aset digital. Mekanismenya cukup sederhana, yaitu dengan menyetorkan aset crypto ke dalam platform tertentu untuk dipinjamkan kepada pengguna lain. Sebagai imbalannya, lender atau pemberi pinjaman akan menerima bunga dari aset yang dipinjamkan tersebut.
Secara umum, ada dua jenis platform crypto lending yang bisa digunakan, yaitu Decentralized Lending dan Real-World Asset (RWA) Lending.
Decentralized Lending
Decentralized lending adalah jenis pinjam-meminjam aset crypto yang paling banyak digunakan di dunia DeFi (Decentralized Finance). Melalui platform ini, lender cukup menyetorkan aset crypto ke dalam liquidity pool. Dana tersebut nantinya bisa dipinjam oleh pengguna lain, dan lender akan memperoleh keuntungan berupa bunga.
Beberapa platform decentralized lending terbesar saat ini antara lain Aave dan Morpho (MORPHO). Platform-platform ini biasanya memiliki sistem otomatis untuk menjaga ketersediaan dana (likuiditas), memastikan keamanan aset, dan mengelola jaminan (collateral) dari pihak peminjam. Dengan sistem ini, lender tidak perlu khawatir karena dana mereka dikelola secara transparan dan aman.
Real-World Asset (RWA) Lending
Selain meminjamkan aset crypto secara langsung, ada juga opsi RWA Lending yang memungkinkan lender meminjamkan dana kepada bisnis atau perusahaan nyata di dunia offline. Perusahaan yang ingin meminjam dari platform ini biasanya telah melalui proses seleksi ketat dan audit untuk memastikan kelayakan dan kredibilitas mereka.
Sama seperti decentralized lending, lender di platform RWA lending juga akan mendapatkan keuntungan berupa bunga. Bedanya, dana yang dipinjamkan digunakan untuk mendukung bisnis di dunia nyata yang memiliki arus kas (cash flow). Beberapa platform RWA lending yang cukup populer antara lain Goldfinch dan Centrifuge (CFG).
5. Masternodes
Masternode merupakan salah satu cara mendapatkan penghasilan pasif dari aset crypto, namun dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan metode lainnya. Secara sederhana, masternode adalah server khusus yang berperan membantu operasional dan keamanan jaringan blockchain.
Tidak hanya sekadar menjaga keamanan jaringan, masternode juga memiliki fungsi tambahan seperti mempercepat proses transaksi, meningkatkan privasi, dan ikut berperan dalam sistem voting atau pengambilan keputusan dalam ekosistem blockchain.
Untuk bisa menjalankan masternode, diperlukan modal yang cukup besar karena harus melakukan staking aset crypto dalam jumlah tertentu sesuai aturan jaringan. Selain itu, kemampuan teknis juga sangat dibutuhkan, terutama untuk proses instalasi, pengaturan server, dan menjaga agar masternode selalu aktif (online) tanpa gangguan.
Meskipun tidak perlu memantau server setiap saat, operator masternode tetap harus rutin melakukan pengecekan kondisi jaringan dan memastikan server tetap berjalan optimal. Dengan menjaga performa masternode, operator berhak mendapatkan imbalan berupa reward dari jaringan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.
6. NFT Royalties
NFT royalties adalah salah satu cara bagi kreator dan seniman untuk mendapatkan penghasilan pasif dari karya digital mereka. Melalui mekanisme ini, kreator akan menerima persentase keuntungan setiap kali NFT miliknya dijual kembali di pasar sekunder. Jadi, semakin sering NFT tersebut berpindah tangan, semakin besar pula potensi penghasilan yang bisa didapatkan.
Potensi penghasilan dari NFT royalties sangat bergantung pada popularitas dan permintaan terhadap NFT tersebut. Pasar NFT sendiri dikenal sangat fluktuatif dan belum terlalu likuid, apalagi sejak tren NFT mengalami penurunan setelah booming di tahun 2021/2022.
Oleh karena itu, peluang untuk mendapatkan penghasilan dari NFT royalties bisa sangat bervariasi, tergantung kondisi pasar dan seberapa aktif NFT tersebut diperdagangkan.
Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif. Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.

Komentar Via Facebook :