Harga Rp66 Juta, Huawei Mate XT Cetak Rekor 400.000 Unit Terjual di China
Huawei Mate XT, smartphone lipat tiga (tri-fold) pertama di dunia.
Jakarta, Batamnews – Huawei Mate XT, smartphone lipat tiga (tri-fold) pertama di dunia, dikabarkan telah terjual lebih dari 400.000 unit sejak peluncurannya. Angka ini terbilang impresif mengingat harga ponsel tersebut mencapai 3.499 euro atau sekitar Rp66 juta per unit.
Diluncurkan pertama kali pada September 2024 bersamaan dengan peluncuran iPhone 16, Huawei Mate XT menjadi simbol kebangkitan Huawei di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa raksasa teknologi asal China tersebut masih mampu berinovasi dengan menghadirkan perangkat berteknologi tinggi, sementara pesaing seperti Apple bahkan belum merilis ponsel lipat.
Baca juga: Harga Resmi iPhone 16 Series di Indonesia Mulai Rp14,9 Juta, Dengan Spesifikasi Terbaru
Meski angka penjualan 400.000 unit tidak sebesar smartphone lipat lainnya di pasaran, pencapaian ini dianggap luar biasa untuk segmen ponsel premium.
Terlebih, Mate XT merupakan generasi pertama dari seri tri-fold Huawei, yang menawarkan inovasi layar lipat tiga yang belum pernah ada sebelumnya.
Meski sukses di pasar domestik, Huawei menghadapi tantangan besar dalam memasarkan Mate XT secara global. Ponsel ini tidak dilengkapi dengan layanan Google, yang menjadi faktor krusial bagi pengguna di banyak negara.
Selain itu, harganya yang lebih mahal di pasar internasional bisa menjadi penghalang bagi calon pembeli.
Mate XT baru diluncurkan secara global pada Februari 2025, namun analis memprediksi penjualannya tidak akan secemerlang di China.
Baca juga: Trend Baru! Ubah Foto Jadi Action Figure Pakai AI ChatGPT, Begini Caranya!
Kendati demikian, kesuksesan awal di pasar domestik membuktikan bahwa Huawei masih memiliki basis pengguna setia yang siap mendukung inovasi terbarunya.
Dengan pencapaian ini, Huawei Mate XT membuktikan bahwa meski dibanderol dengan harga selangit, permintaan untuk produk berkualitas tinggi dengan teknologi mutakhir tetap ada.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana Huawei dapat mempertahankan momentum ini di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Komentar Via Facebook :