Fenomena Hari Tanpa Bayangan: Penentu Arah Kiblat dan Dampaknya di Indonesia
Hari Tanpa Bayangan.
Jakarta, Batamnews - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Astronomi, Thomas Djamaludin, mengungkapkan bahwa fenomena hari tanpa bayangan dapat dimanfaatkan sebagai penentu arah kiblat pada waktu tertentu.
Meskipun tidak berdampak secara luas, fenomena ini memiliki nilai praktis bagi penentuan arah kiblat di berbagai daerah.
Menurut Thomas, fenomena ini terjadi di wilayah yang berada di antara lintang 23,5 derajat utara dan 23,5 derajat selatan. Di Mekkah, hari tanpa bayangan terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli setiap tahunnya.
"Ini menjadi momen penting untuk menentukan arah kiblat," ungkap Thomas dalam wawancara bersama Pro3 RRI, Rabu, 9 Oktober 2024.
Sementara itu, di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, fenomena ini berlangsung antara 8 hingga 14 Oktober, tergantung pada posisi lintang masing-masing kota.
"Setiap tahun, fenomena ini terjadi pada waktu yang sama, tetapi tanggalnya bervariasi tergantung lintang daerah," jelas Thomas.
Selain sebagai penentu arah kiblat, fenomena ini juga memiliki efek samping yang tidak diinginkan, yakni peningkatan suhu.
Namun, menurut Thomas, faktor utama peningkatan suhu bukanlah posisi matahari, melainkan kondisi cuaca dan minimnya pergerakan angin.
Baca juga: Tiga Pelajar Meninggal Dunia Tertimpa Tembok Pembatas SMK Negeri 1 Kota Jambi yang Roboh
"Selama hari tanpa bayangan, orang dapat melihat bayangan mereka tepat di bawah kaki mereka," tambahnya.
Melalui penjelasan ini, Thomas berharap masyarakat dapat lebih memahami fenomena astronomi tersebut dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks penentuan arah kiblat dan fenomena cuaca.
Komentar Via Facebook :