Menjamurnya Bazar di Batam Buat UMKM Menjerit, Apa yang Harus Diperhatikan?
Salah satu event bazzar yang digelar di Kota Batam (Foto: Rul)
Batam, Batamnews - Fenomena menjamurnya event bazar di Kota Batam belakangan ini menciptakan dua sisi mata uang bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Di satu sisi, bazar menjadi peluang emas bagi UMKM untuk memasarkan produknya. Namun, di sisi lain, frekuensi yang terlalu sering mulai menimbulkan keresahan.
Tomi, salah satu pelaku UMKM yang menggantungkan harapan dari satu bazar ke bazar lainnya, membagikan pandangannya.
“Kondisi bazar sekarang bisa dibilang 50/50. Omzet pun tidak seperti beberapa tahun sebelumnya,” ungkapnya pada Senin, 9 September 2024.
Baca juga: OJK Jelaskan Program Dana Pensiun Tambahan dan Anuitas: Aturan Baru POJK 2024
Menurut Tomi, perubahan signifikan terjadi pasca pandemi COVID-19. “Dulu sebelum COVID, bazar itu biasanya diadakan satu hingga dua kali dalam sebulan. Setelah COVID, frekuensi bazar meningkat drastis,” jelasnya.
Meski ia mengakui bahwa hal ini membantu UMKM, Tomi menyoroti penurunan daya beli masyarakat akibat terlalu seringnya event bazar. Selain itu, biaya sewa stand yang cenderung tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM.
“Biaya sewa stand itu bervariasi, tergantung penyelenggara event, lokasi, dan jenis acaranya. Ada yang di bawah satu juta, ada juga yang di atas satu juta, tergantung durasi event,” papar Tomi.
Ia berharap penyelenggara event dapat lebih fleksibel dalam menetapkan harga sewa, sehingga pedagang bisa menawarkan produk dengan harga yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Tomi juga menyuarakan harapannya agar frekuensi event bazar dikurangi sehingga tidak terlalu membebani para pelaku usaha.
“Harapannya ke depan, event-event seperti ini terus berjalan, tapi dengan ritme yang lebih santai,” tambahnya.
Sementara itu, Amin, seorang warga Sekupang yang sering mengunjungi bazar, juga menyampaikan keluh kesahnya.
“Bazar ini bagus, tapi sebaiknya dibuat lebih terjangkau dan hemat. Jangan sampai bazar malah jadi tempat yang mahal,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan adanya dilema dalam upaya mendorong pertumbuhan UMKM di Batam. Di satu sisi, bazar menjadi sarana yang efektif untuk memasarkan produk dan berinteraksi langsung dengan konsumen.
Baca juga: Wahyu Wahyudin Minta Pertamina Segera Perbaiki Kerusakan Pompa Pertalite di Tanjungpinang dan Bintan
Namun, di sisi lain, frekuensi yang terlalu sering dapat menimbulkan kejenuhan pasar dan menurunkan daya beli masyarakat.
Pemerintah Kota Batam dan penyelenggara event diharapkan dapat menemukan solusi yang menguntungkan semua pihak.
Regulasi mengenai frekuensi bazar serta standarisasi biaya sewa stand mungkin perlu dipertimbangkan untuk menjaga keberlangsungan UMKM sekaligus memastikan kualitas event yang diselenggarakan.
Di sisi lain, UMKM juga ditantang untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk mereka guna memenangkan persaingan di tengah maraknya event bazar.
Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan fenomena bazar ini dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi lokal Batam, bukan sebaliknya.

Komentar Via Facebook :