Didahulukan Selangkah Ditinggikan Seranting
Pemimpin Dalam Perspektif Tunjuk Ajar Melayu
Zulyadin, salah seorang tokoh masyarakat Melayu Lingga. (Foto: istimewa)
Oleh: Zulyadin
PEMIMPIN adalah seseorang yang diberikan amanah untuk memajukan negeri dan memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat yang dipimpinnya.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, hendaklah ia mendahulukan kepentingan masyarakat banyak dari pada kepentingan pribadi atau kelompok/golongan.
Selain dari pada itu, seorang pemimpin dituntut memiliki kemampuan leadership yang mumpuni dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya, cakap dan cekatan, berpandangan luas serta berakhlak mulia.
Dalam ungkapan Melayu sering kita dengar istilah "Yang dinamakan pemimpin, didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting”. Didahulukan selangkah bermakna ia berada pada posisi terdepan yang istimewa dibandingkan dengan yang dipimpinnya. Sedangkan Ditinggikan seranting bermakna ia harus berada pada posisi yang khusus dibandingkan dengan rakyatnya.
Pemimpin harus dapat pula memelihara dan menjaga lisannya. Lisan seorang pimpinan bermakna titah atau perintah, tutur katanya harus bijak dan santun.
Baca juga: Anomali Demokrasi
Sebagaimana ungkapan dibawah ini:
Jagalah lisan jangan mengumpat
Karena itu mendatangkan mudharat
Jika hendak berucap kata
Pikirlah dulu jangan serta merta
Jika lisan sebarang berkata
Alamat diri akan celaka
Titah pemimpin harus berimbang
Agar putusan tiada menyimpang
Titah pemimpin haruslah bijak
Disitulah harapan rakyat berpijak
Besar harapan untuk memiliki pemimpin
yang arif dan bijaksana. Kearifannya harus mampu membawa dan menempatkan diri sebagaimana mestinya dalam proses membaur (bersosialisasi). Bijaksana menunjukkan intelektualitas dan perilaku pada pengambilan keputusan.
Oleh karena itu, dalam tunjuk ajar Melayu seorang pemimpin lebih dihormati jika memiliki kearifan dalam bertutur dan bertindak. Kearifan yang dimiliki pemimpin akan menambah rasa kepercayaan rakyat bahwa ia memang benar-benar sosok yang cocok untuk memimpin.
Baca juga: Nizar - Novrizal Mantapkan Langkah Menuju Pilkada Lingga Usai Peroleh Dukungan Gerindra
Jika pemimpin bersikap santun
Niscaya rakyat siap dituntun
Jika pemimpin bersikap arogan
Jangan berharap rakyat akan segan
Pemimpin adalah orang yang dituakan. Begitulah orang Melayu memberikan sebutan adat kepada pemimpin. Yang dituakan bukan berarti merujuk pada umur seseorang. Sebagai mana nukilan Tenas Effendi mengungkap bahwa pemimpin diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun masyarakat dalam arti luas, dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Orang-orang tua Melayu mengatakan: “Bertuah ayam ada induknya, Bertuah serai ada rumpunnya Bertuah rumah ada tuanya Bertuah negeri ada rajanya Bertuah imam ada jemaahnya”.
Perhelatan Pilkada setentak tahun 2024 tinggal menunggu beberapa purnama lagi. Pendaftaran pasangan calon dimulai tanggal 27 - 29 Agustus 2024. Hari pelaksanaan pemungutan suara tanggal 27 November 2024. Pada tanggal krusial inilah pemimpin negeri ini ditentukan.
Kepulauan Riau negeri Segantang Lada, negeri lahirnya Gurindam 12, sejatinya masih berpegang pada adat dan adab serta tunjuk ajar dalam memilih pemimpin. Jika benar pemimpin yang dipilih maka selamatlah negeri ini. Tetapi jika sebaliknya salah yang dipilih maka telungkuplah negeri ini.
Baca juga: Pemkab Lingga Ajak Masyarakat hingga Instansi Vertikal Sinergi Sukseskan Pilkada 2024
Segala cara ingin berkuasa
Alamat negeri akan binasa
Jika pemimpin orangnya alim
Selamat negeri dari yang zalim
Jika pemimpin sebarang berkuasa
Alamat rakyat hidup sengsara
Dihari yang menentukan nanti marilah kita bersama-sama menciptakan situasi dan kondisi yang sejuk dalam memilih pemimpin. Kesejukan tidak hanya terletak pada kondisi aman di daerah. Namun lebih jauh lagi bagaimana kita bermusyawarah pada kesejukan hati nurani kita sendiri dalam menentukan pilihan.
Penulis adalah tokoh masyarakat Melayu Lingga.

Komentar Via Facebook :