Terungkap, Biaya Produksi iPhone 13 Jauh Lebih Murah dari Harga Retail

Terungkap, Biaya Produksi iPhone 13 Jauh Lebih Murah dari Harga Retail

iPhone 13 Pro. (Foto: Apple)

Jakarta - Tak lama lagi, iPhone 13 series segera beredar di Indonesia. Produk baru Apple ini baru saja memperoleh sertifikat TKDN di dalam negeri.

Meski belum beredar, harga iPhone 13 di Indonesia diprediksi tetap tinggi. Tak jauh beda dengan seri sebelumnya, iPhone 12 saat dipasarkan.

Belakangan terungkap, biaya produksi iPhone 13 ini jauh lebih murah dari harga retail. Hal ini diungkap oleh perusahaan konsultan semikonduktor asal Inggris, TechInsights.

Perusahaan itu menunjukkan bahwa iPhone 13 Pro 256 GB memiliki biaya pembuatan sekitar 570 dolar AS atau sekitar Rp 8,1 juta.

Sementara, harga retail iPhone 13 Pro 256 GB di Amerika Serikat sebesar 1.099 dolar AS atau sekitar Rp 15,6 juta. Jadi, rupanya Apple mengenakan harga retail dua kali lebih banyak daripada yang diperlukan untuk memproduksinya. 

Baca: Seri iPhone 13 Sudah Dijual di Batam, Termahal Rp 30 Juta

Biaya produksi ini juga tidak memperhitungkan hal-hal seperti software, tenaga kerja, pengiriman, marketing, R&D, dan lainnya. Kemungkinan besar harga retail iPhone 13 Pro adalah akumulasi dari biaya-biaya tersebut.

Kenaikan harga produksi iPhone 13 Pro dipengaruhi oleh kekurangan komponen semikonduktor. Hal ini menyebabkan harga komponen prosesor Apple A15 Bionic hingga memori NAND jauh lebih mahal untuk diproduksi.

Laporan ini juga mengungkap komponen apa saja yang digunakan untuk merakit iPhone 13 Pro. Ponsel Apple tersebut dilengkapi RAM LPDDR4X 6 GB. 

Baca: Memburu iPhone 13 di Lucky Plaza Batam

Selanjutnya, memiliki pixel kamera selebar 1,7µm, lebih besar daripada iPhone 12 yang memiliki pixel 1,4µm. Di sisi lain, model Pro menawarkan kamera wide dengan pixel 1,9µm, naik dari pixel 1,4µm pendahulunya.

Kemudian, chip Apple A15 Bionic, Audio Codec, Audio Amplifier dan Komponen lainnya berasal dari pemasok seperti Qualcomm, KIOXIA, NXP, STMicroelectronics, USI, Qorvo, dan Broadcom.