Cegah Ekonomi Jatuh ke Jurang Resesi, Pemerintah Disarankan Cetak Uang Baru

Uang rupiah.

Jakarta - Penasehat senior di ASEAN International Advocacy, Shanti Shamdasani menyarankan pemerintah untuk mencetak uang baru guna mencegah resesi ekonomi. Namun kebijakan ini bukan tanpa risiko, karena inflasi akan langsung meroket.

"Untuk menghadapi permasalahan ekonomi ini, bagaimana kalau pemerintah dibantu untuk mencetak uang. Memang dampaknya adalah akan terjadi inflasi, tapi negara kita sudah terlatih dalam mengontrol inflasi. Sedangkan, kita belum bisa mengatasi PDB yang -5,32 persen karena baru pertama kali," jelasnya pada Forum Denpasar 12 yang diselenggarakan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat via live streaming pada Kamis (13/8/2020).

Kebijakan mencetak uang baru perlu dipikirkan pemerintah karena stimulus ekonomi seperti dana Rp7 triliun yang dialirkan dari kementerian tidak langsung dapat dinikmati masyarakat. Dengan mencetak uang baru, masyarakat bisa langsung merasakan dan konsumsi domestik akan naik.

"Setelah mencetak uang ini dilakukan, akan berdampak juga pada peningkatan kredit yang diajukan untuk pengeluaran rumah tangga dan korporasi di bank," katanya.

Namun demikian, kebijakan memperbanyak uang beredar atau Quantitative Easing (QE) selama ini dianggap menyeramkan di Indonesia. Kebijakan ini juga belum pernah dilakukan dalam sejarah negara di Asia. "QE yang dilakukan Indonesia dinilai out of the box dan tidak pernah dilakukan dalam sejarah di Asia."

 

Strategi Pemerintah Pulihkan Ekonomi

 

Pemerintah pusat mempunyai strategi untuk memulihkan perekonomian nasional yang melesu akibat pandemi Covid-19. Salah satunya mengupayakan keterlibatan pemerintah untuk membeli produk UMKM.

Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang juga Menteri BUMN, Erick Thohir menjelaskan, pemulihan perekonomian menjadi satu dari sekian banyak fokus Presiden Joko Widodo.

"Nanti pak presiden akan bicara, bagaimana pemerintah hadir untuk membeli program UMKM. Apakah masker, APD, hasil perkebunan, hasil peternakan, perikanan, pertanian, nanti pemerintah akan coba beli," katanya saat melakukan kunjungan ke Biofarma, Bandung, Selasa (4/8).

Hal ini berkaitan perputaran uang dengan kepastian berlangsungnya produksi pelaku UMKM, atau memberikan berbagai keringanan bantuan kepada para pelaku UMKM. Dengan demikian, ia berharap ada peningkatan daya beli masyarakat.

"Jadi program UMKM itu sangat luar biasa, apakah bunganya ditunda, cicilannya ditunda, diberi modal kerja," ujarnya.

Hal lainnya adalah memberikan masyarakat yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19 berupa bantuan sosial produktif. Seperti, program prakerja maupun padat karya. "Padat karya yang akan berjalan luar biasa di tahun ini dan tahun depan, baik padat karya pangan, maupun padat karya lainnya, ini harus dijalankan," terangnya.

Di sisi lain, fokus uji klinis vaksin menjadi salah satu prioritas dalam menangani pandemi yang terjadi. Keberadaan vaksin sangat penting untuk membuat jalannya roda perekonomian bisa kembali normal.

Sebelum vaksin ditemukan, masyarakat diimbau untuk bisa menjaga diri dan orang lain dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Hal ini menjadi satu-satunya cara untuk menekan persebaran virus.

(fox)