Terungkap, Ruang Isolasi Covid-19 di RSUD Embung Fatimah Panas

Terungkap, Ruang Isolasi Covid-19 di RSUD Embung Fatimah Panas

Ruang isolasi. (Foto: Ilustrasi)

Batam - Anggota DPRD Kota Batam, Siti Nurlela mempertanyakan percakapan pribadi pasien positif 03 Covid-19 yang meninggal dunia di RSUD Embung Fatimah, dalam percakapan tersebut pasien mengeluhkan pelayanan rumah sakit.

“Kepada ibu direktur rumah sakit, coba jelaskan mengenai standard operasional prosedur untuk pasien Covid-19, karena sudah beredar luas japrian dari pasien 03 kemarin,” ujar Siti dalam rapat bersama antara DPRD Kota Batam dengan Dinas Kesehatan beserta perangkat RSUD Embung Fatimah, Rabu (2/4/2020).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur RSUD Embung Fatimah, Ani Dewiyana menjelaskan terkait Gedung Kirana yang dipakai untuk ruang isolasi merawat pasien.

Ia mengatakan gedung itu dibangun dari dana alokasi khusus (DAK) dan selesai pada Desember 2019. “Jadi selesai Desember, dan bukan untuk Covid-19,” ujar Ani.

Namun saat situasi pandemi global sekarang ini, pihaknya kemudian menyulap Gedung Kirana untuk ruang isolasi bagi pasien Covid-19 yang diketahui merupakan penyakit menular.“Kami mengusahakan agar sesuai standar, idealnya setiap ruangan itu memiliki tekanan negatif,” kata dia.

Situasi Ruang isolasi panas

 

 

Suasana rapat koordinasi DPRD Batam dengan Dinkes mengenai penanganan Covid-19. (Foto: Margaretha/Batamnews)

Akan tetapi waktu itu, saat menangani pasien Covid-19, memang diakuinya belum ada alat untuk tekanan negatif. Ruangan isolasi saat ini juga tidak memiliki air conditioner (AC)“Memang tidak boleh pakai AC, jadi situasi ruangan panas, tidak ada kipas juga, karena tidak diperbolehkan juga,” jelasnya.

Selama ini, untuk merawat pasien Covid-19 memang tidak sembarangan, perawat harus diperlengkapi Alat Pelindung Diri, dari mulai jubah, masker, googles (kaca mata) hingga sepatu boat.

Sedangkan untuk memakai APD tersebut, setiap tenaga medis membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Sementara itu, untuk penanganan pasien tersebut sudah diatur jadwal pemberian obat, dan kunjungan dokter.

“Ini dilakukan supaya tidak banyak kontak dengan pasien, tapi saya tahu pasien tersebut memiliki handphone, dan bisa berkomunikasi dengan perawat yang berjaga,” kata Ani.

Sehingga ketika pasien butuh sesuatu dengan waktu cepat, diakuinya ada kekurangan yang dirasakan pasien. Pihaknya menyadari pelayanan mereka belum maksimal. “Kami mohon maaf ketidaklengkapan sarana dan prasana,” ujar Ani.

 

Mengenai alat tekanan negatif ini memang sangat diperlukan bagi pasien Covid-19 sebagai ganti pendingin ruangan. Namun satu alat itu terbilang mahal, diperkirakan Rp 400 juta.

“Sedangkan untuk satu alat itu digunakan untuk hanya untuk satu ruangan saja,” ucapnya.

Namun pihaknya sudah mengevalusi selama ini dalam penanganan pasien Covid-19, maka kedepan mereka akan membuat perawatan infeksius.

Dimana menambahkan sarana dan prasaran yang dibutuhkan seperti CCTV, monitor layar, dan bell. “Dan juga kedepan nanti kami akan siapkan sedot udara,” ucapnya.

(ret)