GITO, Tantangan PLN Batam Hadirkan Listrik Murah

GITO, Tantangan PLN Batam Hadirkan Listrik Murah

Direktur Utama Bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura menandatangani prasasti peresmian GITO di Kabil. (Foto: Dyah/batamnews)

Batam - Bright PLN Batam menghadirkan inovasi baru Gardu Induk Tanpa Operator (GITO). Inovasi ini hadir demi menghadapi tantangan dari perkembangan industri. 

GITO sebagai bentuk alternatif dalam mendukung pengendalian terpusat untuk melakukan proses supervisi secara cepat dan akurat. 

Kehadiran GITO diharapkan dapat memaksimalkan hasil mekanisme penyaluran daya listrik yang lebih efektif dan efisien, serta mengurangi dampak kerugian akibat transmisi. 

Direktur Utama Bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura mengatakan, GITO merupakan jawaban dari tuntutan Industri untuk menghasilkan produksi yang lebih murah, terutama biaya tenaga listrik yang menjadi kebutuhan utama. 

Tuntutan industri saat ini, bukan hanya di Batam saja, tapi di seluruh Indonesia sehingga dapat bersaing dengan negara lain. 

"Kami tidak henti untuk melakukan efisiensi, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jangan terus berpikir untuk menaikkan tarif listrik, bagaimana kalo menurunkan," kata Dadan, Senin (1/4/2019) 

Saat ini, Batam 75 persen energi listrik beroperasi dengan gas, 25 persen batubara. Pembelian gas menghabiskan dana hingga 7,9 dollar. Bahkan bahan bakar PLN Batam sudah hampir 1000 rupiah untuk gas. 

Biaya pokok PLN Batam ke industri tarifnya hanya 1.100 dengan biaya beban. Hitungan ini pun menurut PLN Batam dinilai sudah sangat merugi. Ini salah satu bentuk yang dimau pihak industri. 

"GITO adalah bentuk efisiensi. Tadinya satu shift ada 2 orang. Dengan tanpa orang kita bisa mengeluarkan dengan breaker. By sistem download secara otomatis cost production bisa menurun untuk bisa lanjut," ujarnya.

Fokus PLN Batam bukan lagi pada pembangkit tapi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)

"Saya sekarang tidak berpikir untuk pembangkit gas tapi mau bangun PLTU. Kenapa Kabil? Untuk menunjukkan bahwa efisiensi yg kita lakukan dalam rangka menurunkan tarif listrik secara umum," ucapnya

GM Pembangkit dan Transmisi (Gitran) PLN Batam, Muhammad Naris Tahjri mengatakan ini prestasi dari kawan-kawan bagian pembangkit. Perkembangan dimulai dari Agustus 2018. Langkah yang diambil 2019, adalah dengan benchmarking transmisi Jawa dan Bali.

"Darisana kami temukan tantangan dari keterbatasan operator. Seiring perkembangan teknologi, kami dari Gitran ingin menyukseskan kegiatan ini," katanya. 

Di sana PLN Batam Belajar menyusun GITO. Belajar bagaimana distribusi di Bali dan melakukan invetarisasi untuk GITO untuk difokuskan menjadi 4 GI.

Sebenarnya PLN Batam memiliki 11 Gardu Induk (GI). Ada 8 Gardu Induk yang dibuat menjadi GITO karena 3 Gardu Induk berada di sisi pembangkit jadi harus tetap membutuhkan peranan manusia dalam pengoperasiannya. 

Namun dari 8 GI baru 4 yang sudah selesai, yakni di Nongsa, Batubesar, Muka Kuning dan Kabil. Sementara sisanya akan dilakukan pada Juli 2019 mendatang.

"Masih ada beberapa sistem yg akan dilengkapi, pengamanan, pemeliharaan akan ditingkatkan. Kelengkapan GITO ini akan disempurnakan kemabli," ucapnya. 

Sementara itu, Peter Vincent selaku Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Kabil menyambut baik akan kehadiran GITO di kawasannya. 

"Ini akan sangat membantu Kabil, dan PLN akan lebih bisa menyalurkan listrik secara stabil. Dengan ini sudah berjalan diharapkan membuat stabilitas Kabil," harapnya. 

Menurut data yang disampaikan Peter, sekitar 45 perusahaan yang ada di Kabil mayoritas perusahaan minyak dan hampir 2/3 sudah terisi. Selama satu tahun terakhir ini konsumsi listrik di Kawasan Industri Kabil sudah semakin naik

"Ini khusus untuk industri karena industrinya, industri berat, dan kebutuhan listriknya juga sangat besar. Dengan adanya GITO kebutuhan power yang sangat spesifik ini bisa teratasi," ucapnya.

Keberlangsungan kawasan Industri sangat bergantung pada tenaga listrik karena kebutuhan tinggi sehingga listrik yang murah sangat diharapakan. 

"Kita harapkan dengan lebih murahnya listrik bisa menarik lebih banyak investor," tutupnya. 

(das)