Warga Villa Cemara Batam Dua Kali Digegerkan Penemuan Mayat Bayi

Warga Villa Cemara Batam Dua Kali Digegerkan Penemuan Mayat Bayi

Ilustrasi

Batam - Penemuan jasad bayi perempuan yang dibuang di tempat sampah membuat kaget warga di dekat Perumahan Villa Cemara, Kampung Seraya. Polisi memperkirakan jasad bayi tersebut sudah 3 hari diletakkan di lokasi itu.

Hingga kini siapa ibu bayi masih ditelusiri aparat. "Kami masih melakukan penyelidikan. Dari hasil pemeriksaan diperkirakan sekitar 3 hari berada di tempat sampah," terang Kapolsek Batu Ampar, AKP Ricky Firmansyah, Senin (8/10/2018).

Penemuan bayi di area dekat Perumahan Villa Cemara, Seraya mengingatkan warga sekitar dengan kasus serupa 6 tahun lalu. "Dulu pernah juga kejadian penemuan bayi di parit komplek perumahan. Tahun 2012," ujar Wiwi salah seorang warga

Berdasarkan informasi pada 2012, bayi berusia 4 bulan juga pernah di temukan di parit komplek Perumahan Villa Cemara. Warga awalnya mengira boneka, namun ternyata jasad bayi.

Beberapa bulan lalu, pada Juli 2018 warga di Batuaji juga sempat dihebohkan dengan penemuan mayat bayi terbakar di tempat sampah kawasan Batuaji, Kota Batam. Sang ibu pembuang bayi mengaku malu usai dihamili rekan kerjanya sewaktu bekerja jadi TKI di Malaysia.

Ia lantas membuang bayinya, yang diketahui sudah meninggal beberapa hari usai melahirkan. Namun tak sengaja terbakar oleh warga yang sedang membakar sampah. Tempat sampah itu berada di depan kos-kosan wanita tersebut. Parahnya wanita pembuang bayi itu juga berada di kerumunan warga saat mayat bayinya ditemukan.

Psikolog, Tika Bisono, seperti dikutip Republika.co.id mengatakan, peristiwa pembuangan bayi merupakan fenomena anomali. “Pembuang bayi bisa dibilang sudah dalam kondisi sakit dan menghadapi ketidakjelasan arah,” kata Tika.

Orang tua yang membuang bayi itu, lanjutnya, mungkin juga tak memiliki tempat untuk mengadu dan menyalurkan kebingungannya. Keluarga, sahabat atau pihak yang dipercaya tak ada, sehingga membuang anak menjadi jalan keluar terakhir.

“Karena sudah mati sistem moralnya, sistem empatinya, sistem emosinya, rasa tanggungjawabnya, apalagi keimanannya,” lanjut Psikolog dari Konsultan PIBIS Sinergi ini.

Stres yang terakumulasi, tambahnya, akibat tekanan bertubi-tubi. Melihat kehamilan sebagai kutukan sehingga bayi tak lagi dinilai sebagai buah hati, makhluk hidup yang harus dikasihi, melainkan sumber bencana yang harus dihilangkan. Ketersambungan antara ibu dan anak, menjadi tak terbangun.

Bahkan, kata Tika lagi, bisa jadi sebelumnya ada usaha si ibu dan pasangannya untuk menggugurkan tapi tak berhasil. “Ini menjadi PR bagi negara kita agar memperbaiki tatanan keluarga Indonesia yang telah banyak carut-marut,” begitu katanya.

Sebagai solusi, Psikolog yang melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia itu menyarankan, agar keluarga, RT/RW, hingga pemuka agama merangkul para ibu muda yang tertekan tersebut. Apapun alasan yang membuat si ibu muda hamil di luar kehendaknya, sebaiknya pihak terdekat menenangkan dan mendampingi.

“Kalau merasa terbebani dengan mengasuh dan membesarkan anak, kan sudah ada rumah yatim piatu, ada Dinas Sosial, ada PPPA. Bukan dengan menambah masalah dengan membuang atau menewaskan anak sendiri," ujarnya.

(fox)