Rupiah Melemah ke Rp17.990 Hari Ini, Ini Penyebabnya Usai Gubernur BI Mundur
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, saat melantik 12 Pemimpin Satuan Kerja Bank Indonesia pada (17/07/2026) kemarin, di Jakarta. (Dok BI).
Jakarta, Batamnews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) langsung tertekan pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026 menyusul pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.00 WIB, rupiah tercatat melemah 0,15 persen ke level Rp17.990 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi indeks dolar AS yang justru berada pada posisi 101,23 atau menunjukkan tren penurunan. Sejumlah analis menilai langkah mundur Perry Warjiyo menjadi sentimen negatif utama yang menekan mata uang Garuda.
Baca juga: BREAKING NEWS: Perry Warjiyo Undur Diri dari Gubernur BI, Ini Penyebabnya
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan seharusnya rupiah berpeluang menguat karena indeks dolar AS sedang melemah seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
"Namun pengunduran diri Gubernur BI menekan sentimen pasar dan melemahkan rupiah," ujarnya dilansir dari RRI.
Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menambahkan bahwa pengunduran diri Perry kini menjadi fokus utama pelaku pasar. Menurutnya, investor sedang menantikan keputusan pemerintah soal pengganti definitif gubernur BI.
"Pelaku pasar akan mencermati siapa penggantinya dan implikasinya terhadap kesinambungan kebijakan moneter, kredibilitas kelembagaan, serta arah kebijakan bank sentral ke depan," jelas Jessica.
Berbeda dengan dua analis sebelumnya, Ibrahim Assuaibi dari Traze Andalan Futures justru menyoroti sikap gentleman Perry Warjiyo.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.963, Sentuh Rp18.000 Pekan Depan? Ini Kata Analis
"Dia memberi kesempatan kepada para deputinya untuk memimpin BI. Ini hal yang luar biasa," pujinya.
Namun Ibrahim menambahkan, siapapun yang nantinya menggantikan posisi Perry akan menghadapi tantangan berat. Menurutnya, sulit bagi pemimpin baru untuk mengembalikan rupiah ke jalur penguatan.
"Ini karena masalah geopolitik masih membayangi, ditambah perekonomian dalam negeri yang sedang carut marut. Kondisi itulah yang membuat rupiah kembali tertekan," pungkasnya.

Komentar Via Facebook :