Perawatan Pesawat Nasional Didorong Pulang ke Dalam Negeri, IAMSA Targetkan Indonesia Jadi Hub MRO Asia
Ketua IAMSA sekaligus Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, saat memberikan pemaparan dalam pembukaan Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam. IAMSA mendorong Indonesia menjadi hub MRO Asia dengan fokus memperkuat kapasitas perawatan mesin pesawat guna menarik pasar domestik yang masih lari ke luar negeri.
Batam, Batamnews – Industri perawatan pesawat nasional harus segera bertransformasi. Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) mendorong penguatan sektor Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di dalam negeri. Targetnya jelas: menjadikan Indonesia sebagai pusat layanan MRO utama di kawasan Asia.
Pernyataan itu disampaikan dalam pembukaan Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam. Pertemuan tahunan ini mengusung tema "Strengthening Indonesia's Position as Asia MRO Hub".
Ketua IAMSA sekaligus Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, mengakui Indonesia punya modal besar. Tapi ia juga jujur soal tantangan yang masih menghadang.
Baca juga: Inflasi Kepri Mei 2026 Tembus 3,92%, Tertinggi Keempat se-Sumatera: Dipicu Cabai & BBM
"Pertumbuhan saja tidak cukup. Untuk tetap kompetitif, kita harus membangun industri yang tangguh, inovatif, dan kolaboratif," ujar Andi di hadapan para pemangku kepentingan industri kedirgantaraan.
Apa saja kendalanya? Regulasi yang tumpang tindih, kebutuhan investasi besar-besaran, dan keterbatasan kapasitas perawatan komponen serta mesin pesawat.
Masalah logistik juga ikut membebani. Kebijakan larangan dan pembatasan (lartas), plus kendala klasifikasi HS Code, selama ini menekan daya saing MRO domestik.
Andi menjelaskan, proses penyederhanaan regulasi sebenarnya sudah berjalan. Kebijakan pengecualian lartas untuk industri penerbangan sudah digodok dua tahun terakhir. Pelaku industri kini menunggu payung hukum final dari kementerian terkait.
"Untuk spare part pesawat, bea masuk saat ini diarahkan menjadi 20 persen. Tahapan pembahasannya sudah selesai. Sekarang prosesnya masih tahap simbolisasi dan kami menunggu Peraturan Menteri Keuangan diterbitkan," kata Andi.
Harapannya, proses keluar-masuk komponen pesawat jadi lebih efisien dan kompetitif dibanding negara tetangga.
Berdasarkan pemetaan IAMSA, potensi pasar MRO nasional belum sepenuhnya dinikmati pelaku usaha dalam negeri. Untuk segmen hanggar dan perawatan struktur pesawat (airframe), Indonesia sudah sangat mandiri. Sekitar 90 persen pekerjaan dikerjakan di dalam negeri.
Namun, sektor perawatan komponen dan mesin (engine) masih jadi titik lemah.
"Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak OEM sekarang membangun fasilitas MRO sendiri. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri," ungkap Andi.
Dalam lima tahun ke depan, ia memproyeksikan belum ada investasi skala besar untuk fasilitas perawatan mesin baru di Indonesia.
Karena itu, IAMSA mengambil langkah taktis: fokus menguatkan kapasitas perawatan komponen dan mesin yang sudah ada. Strategi ini diharapkan mampu merebut kembali sekitar 46 persen pasar perawatan pesawat nasional yang selama ini mengalir ke luar negeri.
Baca juga: Hari Ini 4 Juni 2026 Rupiah Jatuh ke Rp18.023, DPR Desak BI dan Pemerintah Segera Bergerak
Soal rencana ekspansi GMF AeroAsia di proyek Kertajati Aerospace Park, Andi mengatakan perseroan masih dalam tahap persiapan intensif dan pematangan rencana pengembangan operasional.
Andi menegaskan, Indonesia punya keunggulan lengkap: pasar penerbangan masif, pertumbuhan armada domestik tinggi, tenaga kerja kompeten, dan posisi geografis strategis di jalur internasional.
"Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor," pungkasnya.
Komentar Via Facebook :