Kas Daerah Seret, Sekda Lingga Minta Kontraktor Bersabar Soal Tunda Bayar
Sekretaris Daerah (Sekda) Lingga, Armia. (Foto: dok.Diskominfo Lingga)
Lingga, Batamnews – Pemerintah Kabupaten Lingga akhirnya buka suara terkait mandeknya pembayaran kepada pihak ketiga atau kontraktor. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lingga meminta para pengusaha untuk bersabar sementara pemerintah daerah berupaya keras memutar otak mencari solusi di tengah tekanan finansial yang cukup berat.
Kondisi keuangan Lingga saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Belum tercapainya target pendapatan dari Dana Bagi Hasil (DBH) menjadi pukulan telak. Salah satu penyebab utamanya adalah belum optimalnya Harga Patokan Mineral (HPM) pasir kuarsa, yang berimbas langsung pada anjloknya Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, ada secercah harapan. Sekda mengungkapkan bahwa aktivitas ekspor pasir kuarsa menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
“Namun saat ini kita sudah mendapat informasi bahwa pasir kuarsa mulai bisa kembali dijual. Saya juga sudah berkoordinasi dan bertemu dengan pihak perusahaan. Jika aktivitas ini kembali berjalan normal, tentu akan sangat membantu meningkatkan PAD Kabupaten Lingga,” ujarnya.
Kondisi fiskal yang mencekik juga terlihat dari Dana Alokasi Umum (DAU) yang diterima daerah hanya berkisar Rp32 miliar. Angka ini hampir seluruhnya habis terserap untuk belanja rutin, terutama gaji ASN dan BPJS. Begitu sempitnya ruang anggaran, pemerintah bahkan harus mengambil kebijakan pahit dengan memotong Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
Meski keuangan daerah sedang kempis, Sekda menegaskan pemerintah tidak akan mengambil jalan pintas dengan mencekik rakyat lewat kenaikan pajak.
“Kita tidak mungkin membebani masyarakat dengan menaikkan pajak. Oleh karena itu, strategi yang kita dorong adalah optimalisasi sektor pendapatan, salah satunya melalui peningkatan nilai HPM pasir kuarsa yang diharapkan mampu mendongkrak PAD ke depan,” jelasnya, Sabtu (25/4/2026).
Di sisi lain, Sekda secara jujur mengakui kondisi kesehatannya yang sedang menurun. Namun, ia memastikan hal tersebut tidak akan membuat roda pemerintahan di Lingga berhenti berputar.
“Saya memang rutin menjalani kontrol dan cuci darah setiap hari Rabu, namun di luar itu roda pemerintahan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ada para asisten dan jajaran yang turut berkolaborasi menjalankan tugas pemerintahan,” ungkapnya tegas.
Kondisi kesehatan ini pula yang memicu rencana dirinya untuk mengajukan pensiun dini sebagai Sekda. Meski siap ditempatkan di mana saja jika memang harus digeser, nyatanya tenaga Sekda masih sangat dibutuhkan oleh Bupati, terutama untuk mengawal program strategis seperti "sekolah rakyat" dan pengembangan fasilitas kesehatan.
Kabar baiknya bagi warga Lingga, fasilitas cuci darah akan segera hadir di RSUD Encik Mariyam agar masyarakat tidak perlu lagi berobat jauh ke luar daerah dengan biaya tinggi.
"Saat ini juga sedang dalam proses pengembangan di RSUD Encik Mariyam Daik untuk menghadirkan fasilitas cuci darah. Ini tentu akan sangat membantu masyarakat agar tidak perlu lagi berobat ke luar daerah dengan biaya besar,” tambahnya.
Menutup keterangannya, Sekda kembali meyakinkan para kontraktor bahwa pemerintah tidak akan lari dari tanggung jawab. Walaupun target pembayaran sebelumnya belum tercapai sepenuhnya, komitmen penyelesaian tetap menjadi prioritas utama.
“Kami memahami kondisi yang dirasakan para kontraktor akibat tunda bayar ini. Untuk itu kami mohon kesabaran, dan pemerintah akan terus berupaya agar pembayaran dapat direalisasikan secepat mungkin, meskipun hingga saat ini target yang disampaikan sebelumnya masih belum sepenuhnya tercapai," pungkasnya.
Komentar Via Facebook :