Demam Emas Picu Gelombang Perampokan: Antrean Hingga Kekerasan Meningkat di Thailand, AS, dan Inggris

Demam Emas Picu Gelombang Perampokan: Antrean Hingga Kekerasan Meningkat di Thailand, AS, dan Inggris

Tangkapan layar video perampokan di salah satu toko emas di Thailand.

Nurjali

Batam, Batamnews - Emas. Inilah komoditas yang kini menjadi rebutan banyak orang. Harga logam mulia itu telah melonjak drastis dalam beberapa bulan terakhir, memicu antrean di depan toko-toko logam mulia di seluruh dunia, termasuk Australia. 

Kelangkaan alamiahnya dan sifatnya sebagai safe haven — terutama saat investasi lain terlihat goyah — menjadikannya magnet yang kuat.

Baru pekan lalu, emas menembus rekor tinggi di atas US$5.600 per ons, sebelum anjlok akhir pekan dan berbalik menguat lagi beberapa hari kemudian. Harganya kini sekitar 80 persen lebih tinggi daripada tahun lalu.

Baca juga: WhatsApp Kembangkan Fitur "Close Friends" dan Daftar Kustom untuk Status, Tingkatkan Privasi!

Namun, euforia dan keputusasaan untuk memiliki emas telah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan penuh kekerasan. Dalam rentang sedikit lebih dari dua pekan, setidaknya terjadi empat perampokan bersenjata yang dilaporkan, terutama di Thailand, tetapi juga di Amerika Serikat dan Inggris.

Pada 23 Januari, rekaman keamanan di Anaheim, California, menangkap mencekam: sebuah SUV menerobos trotoar dan menabrakkan diri ke dalam sebuah toko perhiasan. 

Delapan orang bertopeng lalu membobol etalase dan melarikan permata serta berlian senilai puluhan ribu dolar. Pemilik toko, Ramzy Tabello, mengancam dengan senjatanya, namun para perampok justru merebut senjata itu. 

Tujuh dari delapan pelaku berhasil ditangkap setelah kendaraannya terlibat dalam kecelakaan beruntun. Pelaku terakhir, seorang remaja 17 tahun, baru ditangkap pekan ini.

Lalu, pada 31 Januari, di Richmond, London tenggara, sebuah perampokan terjadi di siang bolong. 

Video di TikTok memperlihatkan seorang pria bertopeng bersenjatakan palu godam menghancurkan kaca etalase toko perhiasan, sementara seorang kompannya menunggu dengan tas Ikea. Beberapa barang berhasil mereka curi sebelum kabur.

Gelombang kekerasan justru paling terasa di Thailand, dengan tiga insiden terpisah dalam waktu singkat.

Pertama, di provinsi Nakhon Ratchasima, seorang pria bersenjata dan bermotorhelm mendatangi toko emas. Ia mengancam karyawan dan menembak sekali ke etalase, tetapi kabur tanpa membawa apa-apa setelah seorang asisten toko memicu alarm. 

Seorang anggota dewan kota berusia 67 tahun ditangkap keesokan harinya, mengaku terjerat utang.

Kedua, di pusat perbelanjaan Bangkok, seorang perampok berpakaian hitam menyelundup di bawah pintu rol yang terbuka sedikit sebelum tengah malam. Dengan senjata di tangan, ia memaksa dua pekerja wanita untuk mengisi tasnya dengan rantai emas. Ia berhasil kabur membawa lebih dari 2 kg emas dan uang tunai.

Ketiga, di Ubon Ratchathani, CCTV merekam seseorang berbaju gelap melompati konter, menghancurkan etalase, dan melarikan 33 kalung emas. Pelakunya, seorang remaja 15 tahun, berhasil ditangkap di terminal bus saat hendak melarikan diri.

Baca juga: Hukuman Mati Dituntut untuk 6 Tersangka Penyimpan 2 Ton Sabu di Batam

Polisi Thailand telah meningkatkan patroli sebagai respons atas rangkaian peristiwa ini. Investigasi atas perampokan di Bangkok disebut tidak akan lama, karena pelaku diduga masih berada di kota.

Lonjakan harga emas yang fantastis rupanya tidak hanya memicu demam beli, tetapi juga gelombang kejahatan yang berani dan terorganisir. Logam kuning yang selama ini dianggap sebagai simbol kemakmuran dan keamanan, kini justru menjadi pemicu aksi-aksi putus asa dan kekerasan di berbagai penjuru dunia.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :