Lurah Bengkong Indah Klarifikasai Soal Insiden Kempes Ban Mobil Warga, Janji Mediasi Usai Pulang dari Luar Kota
Lurah Bengkong, Randi, memberikan klarifikasi terkait insiden pengempisan ban mobil milik warga yang sempat viral di media sosial.
Batam, Batamnews - Lurah Bengkong, Randi, memberikan klarifikasi terkait insiden pengempisan ban mobil milik warga yang sempat viral di media sosial. Dalam keterangannya, Lurah Randi menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan dalam kapasitasnya sebagai warga biasa, bukan sebagai pejabat publik.
Lurah Randi menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi pada Rabu malam sekitar pukul 20.00 WIB ketika ia pulang dari makan malam bersama keluarga dan istri.
"Kita lihat posisinya dari sisi saya ya. Saya hari Rabu jam 8 malam pulang dari makan malam bersama keluarga dan istri. Saya tidak bisa parkir karena mobil mereka menempati tempat parkir yang saya buat," ujar Randi saat memberikan klarifikasi kepada Batamnew.co.id, Jumat (27/6/2025).
Randi menjelaskan bahwa ia sempat menunggu hingga pukul 22.30 WIB karena orang tuanya juga hendak pulang dan membutuhkan tempat parkir. Setelah menanyakan kepada tetangga kiri-kanan dan satpam, ternyata tidak ada yang mengakui kepemilikan mobil tersebut.
"Saya tanya Pak Satpam, mobil ini milik siapa yang parkir di depan rumah saya. Karena tidak ada yang mengakui, saya harus beri efek jera. Efek jera itulah saya kempesin ban mobilnya," jelasnya.
Ketika pemilik mobil datang dan mempertanyakan mengapa mobilnya dikempesin, Randi mengaku telah menjelaskan alasannya. Namun, pemilik mobil mengklaim mendapat izin dari salon untuk parkir di mana saja.
"Saya bilang, mbak parkir di tempat saya tanpa izin. Mbak ada izin tidak parkir di tempat saya? Dia bilang tidak ada dan katanya orang salon membolehkan parkir di mana saja," papar Randi.
Lurah Randi menegaskan bahwa yang dikempesin hanya dua ban, bukan semua ban mobil. "Saya kempesin cuma dua, biar ada efek jera. Harapannya mereka mendatangi rumah saya, ketuk pintu, minta maaf dengan sopan. Tapi ternyata tidak, malah mereka teriak-teriak," ungkapnya.
Randi menekankan bahwa tindakannya murni sebagai warga biasa yang haknya terganggu, bukan karena jabatannya sebagai lurah. "Posisi saya di situ sebagai masyarakat, bukan sebagai lurah. Ini terjadi jam malam, bukan jam siang. Kalau siang mungkin masih bisa dipahami orang bertamu," jelasnya.
"Sebenarnya bukan karena saya lurah atau tidak. Status saya penduduk di situ, saya juga warga di situ. Kebetulan saya lagi cuti dan di luar kota," tambah Randi.
Lurah Randi menyatakan kesediaannya untuk melakukan mediasi setelah kembali dari luar kota. "Saya lagi di luar kota dari tanggal 19 kemarin karena curi panjang, balik ke Batam insya Allah tanggal 2. Saya sudah minta arahan dari Bang Rudi Diskominfo Kota Batam, mungkin kita selesaikan secara kekeluargaan dengan upaya mediasi sama mbaknya nanti," katanya.
Randi menambahkan bahwa wilayah tempat tinggalnya memang merupakan daerah kos-kosan sehingga sering terjadi masalah serupa. "Kondisi wilayah rumah saya memang daerah kos, jadi ada sedikit banyak kejadian yang sering terulang terjadi. Ini salah satu penanganan yang menurut kami dan satpam harus diberi efek jera," pungkasnya.
Insiden ini diharapkan dapat diselesaikan dengan baik melalui mediasi yang akan dilakukan setelah Lurah Randi kembali ke Batam pada tanggal 2 mendatang.
Komentar Via Facebook :