Kisah Gusrianto, Raja EO Batam yang Kembali Bangkit setelah Didera Penyakit

Kisah Gusrianto, Raja EO Batam yang Kembali Bangkit setelah Didera Penyakit

M. Gusrianto, raja EO Batam yang kembali bangkit dari keterpurukan akibat didera sakit. (Foto: Juna/batamnews)

SOSOK Muhammad Gusrianto tak asing bagi pelaku jasa event planner di Kota Batam, Kepulauan Riau. Pria berdarah Minang kelahiran Pekanbaru, Riau 47 tahun silam ini memiliki segudang pengalaman.

Karir Om Rian, sapaan akrabnya, dimulai sejak 2002. Hampir 20 tahun berselang, ia masih eksis di dunia event organizer.

Dengan pengalamannya, Rian sukses mengelola berbagai perhelatan besar. Tak jarang pula ia mengadakan event sendiri.

"Sejauh ini event yang kita kelola selalu sukses dan lancar. Mungkin itu menjadi tolok ukur klien mempercayai kita sampai sekarang ini," katanya saat berbincang-bincang dengan Batamnews, Selasa (30/11/2021) sore.

Saking tenarnya Rian, ada 3 perusahaan operator telekomunikasi seluler raksasa di Indonesia pun meliriknya sebagai pengelola acara.

Awalnya ia hanya ikut di salah satu event organizer. Namun seiring berjalannya waktu Rian memberanikan diri untuk membentuk EO sendiri.

Tepat di 2004, ia membentuk EO bernama Ninetynine. Katanya, nama itu terinsipirasi dari Asmaul Husna dan juga angka hoki bagi etnis Tionghoa.

"Ninetynine itu 99. Terinsipirasi dari perspektif Islam, Asmaul Husna. Bagi orang Tionghoa pun 99 merupakan angka keberuntungan," ujar Rian.

Pada lima tahun pertamanya bersama Ninetynine, mereka lebih banyak mengeksekusi event outdoor. Bahkan ia berhasil meraup pendapatan hingga Rp 2,5 miliar per tahun.

"Saya lupa tepatnya di tahun berapa. Yang jelas di kurun waktu 2005 sampai 2008 mencapai rekor, per tahunnya bisa lebih dari 20 event. Mungkin orang nggak percaya kalau kami itu pernah mendapatkan sampai 2,5 miliar dalam setahun. Dalam satu event itu paling tinggi sekitar 800 jutaan," ujar dia.

Vakum Akibat Didera Sakit

 

Dari tahun 2010-2013, Rian tak dapat berbuat banyak. Ia bahkan berhenti mengelola event dikarenakan penyakit batu empedu yang dideritanya.

Selama kurun waktu 3 tahun itu, ia bolak-balik ke rumah sakit. Berobat dan berusaha untuk segera bangkit dan sembuh dari penyakitnya itu.

"Tiga tahun saya berhenti di event organizer. Sampai-sampai batu empedu ini akhirnya diangkat," katanya.

Menurut dia, di masa itu adalah salah satu era terpahit baginya. Ia bahkan membayangkan tak lagi bisa lagi mengelola Ninetynine.

"Padahal di kurun waktu 3 tahun itu, Ninetynine sedang naik-naiknya. Banyak klien yang meminta kami untuk mengelola event. Tapi mau bagaimana lagi, saya secara pribadi tak bisa berbuat banyak dan tak dapat memaksakan diri," ujar Rian.

Pada 2014, Rian akhirnya sembuh total dan kembali bangkit dengan menggarap beberapa event.

Di tengah kebangkitan itu, masa pahit pun kembali datang. Tepatnya di awal 2020, pandemi Corona melanda Indonesia. Batam pun terimbas hingga semua event tak bisa digelar.

"Selama pandemi, sekitar kurang lebih 1,8 tahun hanya ada 4 event kami tangani. Miris sekali. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga wabah," kata dia.

Singkat cerita, di awal November 2021 ini, ia sudah mulai merasakan menggeliatnya event di Batam. Sembari menurunnya status PPKM dan melandainya kasus Covid-19.

"Sejauh ini baru 2 event ditangani. Nanti juga akan diberlakukan PPKM level 3, jadi itu adalah langkah antisipatif skala nasional. Tapi saya meyakini di dalam satu kota tepatnya Batam, aktivitasnya masih sama seperti PPKM level 1 melihat sejauh ini hampir seluruh wilayah sudah zona hijau," ujar Rian.
 

(jun)

Berita Terkait