https://www.batamnews.co.id

Menelusuri Jejak Panglima Lidah Hitam, Guru Silat Lintau Asal Pariaman di Johor

Makam Panglima Lidah Hitam, guru Silat Lintau asal Pariaman di Kampung Parit Sakai, Distrik Muar, Johor . (Foto: Dodo/batamnews)

Johor Bahru - Sebutan bangsa serumpun antara Malaysia dengan Indonesia, sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Seperti di Johor Bahru, banyak artefak yang menyiratkan adanya hubungan antar kedua bangsa ini.

Saat batamnews.co.id berkunjung ke Distrik Muar, sekitar dua jam perjalanan menggunakan bus dari ibu kota Johor Bahru, menemukan bukti itu. Tepatnya, di kawasan Kampung Parit Sakai, sekitar 7 kilometer dari pusat Distrik Muar.

Sebuah makam berada di pinggir jalan kampung, namun tetap terpelihara dengan baik lengkap dengan pagar dan atapnya. Di makam itu, terbaring jasad Panglima Lidah Hitam, seorang guru Silat Lintau asal Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Md Zaidi bin Khamis, warga Muar menyebut makam Panglima Lidah Hitam sudah ada di tempat itu sejak ratusan tahun lalu.

"Makam ini sudah ada sejak saya masih kecil," kata Zaidi yang kini berusia 50 tahun lebih.

Zaidi mengatakan Panglima Lidah Hitam ini merupakan sosok yang sangat dihormati. Dari cerita para orang tua yang dia dapatkan, ajaran Silat Lintau dari Panglima Lidah Hitam ini banyak diikuti orang.

"Tapi sekarang sudah tak banyak lagi, hanya kalangan orang tua berusia di atas 60 tahun yang masih mempelajarinya," kata dia.

Makam Panglima Lidah Hitam yang terpelihara dengan baik di Kampung Sakai, Distrik Muar. (Foto: Dodo/batamnews)

Dari berbagai referensi, diketahui Panglima Lidah Hitam Ini memiliki nama asli Baginda Zahiruddin. Kedatangannya di Muar, hal yang kebetulan karena kapal yang ditumpanginya harus berhenti lantaran cuaca buruk.

Saat itu, Panglima Lidah Hitam bersama rombongan hendak menunaikan ibadah haji ke Mekkah, medio tahun 1700-an.

Kehadiran Panglima Lidah Hitam memancing perhatian tokoh setempat yakni Tok Bauk. Tokoh ini sempat mendengar kehebatan Panglima Lidah Hitam.

Akhirnya, dia pun berguru pada Panglima Lidah Hitam demi bisa mengalahkan perompak yang sering bergentayangan di Selat Malaka. Langkah ini, diikuti oleh sejumlah pemuda yang tertarik mempelajari Silat Lintau.

Hingga suatu ketika, tepatnya tahun 1776, pecah pertempuran antara Panglima Lidah Hitam dan pengikutnya melawan gerombolan perompak. Banyak korban yang timbul dalam pertempuran itu.

Panglima Lidah Hitam gugur setelah kapalnya ditenggelamkan oleh kelompok perompak. Jasadnya kemudian dihanyutkan dan terdampar di pantai Kampung Parit Sakai.

Saat ditemukan, jenazah Panglima Lidah Hitam disebut tak berbau. Selain itu, lidahnya panjang berwarna hitam dan berbulu. Bersama jasad yang diduga muridnya, Panglima Hitam kemudian dimakamkan di Parit Sakai.

Namun ada kejadian aneh, karena muncul sebuah batu hitam muncul dari pusara makam itu.

Hingga medio 80-an, banyak orang berkunjung dan berziarah ke makam tersebut. Mereka diyakini keturunan Panglima Lidah Hitam dan sempat mengajarkan silat kepada warga kampung. Akan tetapi, setelah itu tak ada lagi yang berkunjung selain wisatawan.

(dod)
 


Berita Terkait