Misi Raja Salman ke Asia: Perdagangan atau Keamanan Teluk?

Misi Raja Salman ke Asia: Perdagangan atau Keamanan Teluk?

Raja Arab Saudi Salman Abdulaziz Al Saud dan Presiden RI Joko Widodo. (EUROPEAN PRESSPHOTO AGENCY)

Nurlis E Meuko

Perjalanan Raja Arab Saudi Salman Abdulaziz Al Saud mengelilingi Asia sudah dimulai sejak pekan lalu. Ia melangkah ke Indonesia, Malaysia, kemudian Jepang, China, dan Maladewa.

Lawatan ini dilakukan setelah pertemuan tingkat tinggi negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council -GCC) dengan pejabat pemerintah China. GCC adalah blok dagang enam negara Arab di Teluk Persia, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Kuwait,dan Bahrain. GCC fokus pada kegiatan ekonomi dan sosial.

Itulah sebabnya, perjalanan Raja Salman diindikasikan sebagai tindak lanjut hubungan antara Teluk Arab dan Asia Timur. Jadi perjalanan ini akan fokus pada perdagangan, pertumbuhan ekonomi di Asia, dan keamanan di Teluk.

Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, Putra Mahkota Mohammed Salman berkunjung ke China, khusus membahas kerjasama keamanan China-Arab. Ternyata memang gayung bersambut. "China bersedia mendorong hubungan militer dengan Arab Saudi ke tingkat yang baru," kata  Menteri Pertahanan China Chang Wanquan.

Dua bulan kemudian, Pasukan Khusus Saudi dan tentara China, melaksanakan latihan bersama selama 15 hari. Mereka bersama-sama berlatih memerangi terorisme, penyanderaan, dan cuaca ekstrim.

Meskipun baru pertama kali latihan bersama, pejabat militer China langsung melobi GCC untuk menjalin hubungan agar makin erat. Hasilnya, Angkatan Laut China bisa berlabuh di Oman, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Di sini mereka beristirahat dan mengisi bahan bakar. Misi Angkatan Laut Escort Taskforce berlanjut hingga ke Teluk Aden dan di sepanjang pantai timur Afrika.

Saat berlabuh di negara-negara yang tergabung di GCC itu, perwira China berkesempatan bertemu tuan rumah, mengunjung fasilitas yang ada di Teluk. Bahkan juga berpartisipasi dalam pertukaran budaya dan olahraga. Jelas, China memandang Teluk sebagai zona operasional kepentingan strategis.

Sebagai importir minyak terbesar di dunia, maka yang menjadi pangkal utama hubungan China dengan GCC adalah perdagangan. Bisa dilihat dari perkembangan perdagangan yang menunjukkan grafik positif. Perdagangan bilateral meningkat dari US$ 10 miliar pada 2000 menjadi US$ 158 miliar pada  2014.

Karena itu, diharapkan perjanjian perdagangan bebas China-GCC segera terwujud. Hubungan ini diperkirakan akan meningkatkan keamanan di kawasan Teluk.
Apalagi, China memiliki komunitas ekspatriat terbesar di Jazirah Arab. Sebanyak 230 perusahaan China telah mendirikan kantor pusat regionalnya di Dubai.

Perusahaan-perusahaan ini terlibat dalam proyek berskala besar. Di antaranya membangun jalur kereta api untuk mengangkut jamaah haji. Selain itu juga, membangun pipa UEA dari lapangan minyak Habshan ke level garis pantai Samudera Hindia di Fujairah. Jalur pipa ini memotong  Selat Hormuz.

Antara tahun 2005-2014, perusahaan-perusahaan China diperkirakan telah meneken kontrek senilai US $ 30 miliar dari proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur di negara-negara GCC.

Semua itu tentu menjadi alasan bagi China untuk meningkatkan kehadirannya di Teluk, dan dengan lebih banyak aset serta ekspatriat di wilayah ini. Dinamika keamanan akan menjadi perhatian, China perlu memastikan bahwa kepentingannya di Timur Tengah dilindungi.

Menteri Luar Negeri Wang Yi, menyatakan China akan mengambil peran politik yang lebih besar di Timur Tengah. Selain itu yang paling penting adalah memperkuat kemampuan militernya.

Sebetulnya, Saudi telah lama ingin melihat China lebih aktif secara politik di Teluk. Mereka berharap China --sebagai mitra strategis-- mengambil peran yang lebih serius melampui hubungan perdagangan.

Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi ketegangan antara Teluk dan Amerika Serikat berserta sekutunya. Inilah yang menyebabkan para pemimpin GCC melirik kekuatan lain.

Walaupun target utamanya adalah China, namun rincian agenda kunjungan Raja Salman ke China hingga kini belum diumumkan. Ini menunjukkan bahwa yang akan dibahas di Beijing adalah persoalan keamanan tingkat tinggi.

Ketika berkunjung ke Malaysia, juga dibahas soal kemanan dengan perjanjian pertukaran militer, latihan bersama dan memperkuat kerja sama militer. Di Indonesia, ia berpidatodi DPR-RI dan mengajak bersatu melawan terorisme.

Di Jepang diharapkan juga fokus pada keamanan, dengan diskusi tentang kerjasama Jepang dalam memerangi terorisme, serta keterlibatan Jepang yang lebih besar dalam menjaga alur laut yang aman antara Timur Tengah dan Asia.

Intinya, perjalanan Raja Salman di Asia akan lebih mengintegrasikan negara-negara Asia Timur untuk berperan aktif dalam keamanan di Teluk. Ini menggeser dominasi AS ke penyatuan kekuatan yang lebih kompleks dengan jangkauan yang lebih luas dari negara-negara yang mengejar berbagai kepentingan di Teluk. ***

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.
Komentar Via Facebook :