Hujan Satu Jam, Jalan Laksamana Bintan Batam Tergenang 500 Meter, GMNI Soroti Drainase Kota

Hujan Satu Jam, Jalan Laksamana Bintan Batam Tergenang 500 Meter, GMNI Soroti Drainase Kota

Hujan deras yang mengguyur Kota Batam selama lebih dari satu jam pada Minggu (7/6/2026) menyebabkan genangan air sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Laksamana Bintan, kawasan Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota.

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Hujan deras yang mengguyur Kota Batam selama lebih dari satu jam pada Minggu (7/6/2026) menyebabkan genangan air sepanjang sekitar 500 meter di Jalan Laksamana Bintan, kawasan Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota.

Genangan terjadi di ruas jalan yang berseberangan dengan Jalan Mitra Raya. Ketinggian air dilaporkan mencapai betis orang dewasa, sehingga mengganggu arus lalu lintas dan memaksa pengendara roda dua maupun roda empat memperlambat laju kendaraan.

Akibatnya, kemacetan ringan sempat terjadi di lokasi saat hujan masih berlangsung dan beberapa saat setelahnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Kepala Bidang Politik DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Batam, Dony Setiawan, menilai genangan yang muncul setelah hujan dengan durasi relatif singkat menunjukkan masih adanya persoalan pada sistem drainase perkotaan.

“Drainase kita sudah lebih kalah dari laju dan pertumbuhan penduduk,” kata Dony, Minggu (7/6/2026).

Mahasiswa Universitas Ibnu Sina itu menilai persoalan banjir dan genangan tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah musiman. Menurutnya, pesatnya pembangunan kawasan dan pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur dasar, termasuk sistem drainase.

Ia menyoroti masih adanya saluran air yang sempit, kurang terawat, atau tidak lagi mampu menampung debit air saat curah hujan meningkat. Kondisi tersebut membuat air meluap ke badan jalan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Dony juga menilai persoalan drainase berkaitan erat dengan kualitas tata kelola pembangunan kota. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya proyek fisik yang berdiri, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menghadirkan lingkungan yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Jika setiap musim hujan masyarakat masih berhadapan dengan genangan akibat drainase yang buruk, parit yang tidak memadai, maupun saluran yang tersumbat sampah, berarti ada persoalan mendasar dalam tata kelola pembangunan yang harus segera dibenahi,” ujarnya.

Sebagai solusi, Dony mendorong Pemerintah Kota Batam melakukan normalisasi dan pelebaran drainase di titik-titik rawan genangan. Ia juga mengusulkan pembangunan kolam retensi di kawasan padat penduduk serta memperketat pengawasan terhadap sistem drainase yang ada.

Selain itu, setiap proyek pembangunan baru dinilai perlu dilengkapi kajian drainase yang memadai agar tidak menambah limpasan air ke lingkungan sekitar.

Tak hanya menyoroti banjir, Dony juga mengangkat persoalan debu yang kerap muncul saat musim kemarau akibat minimnya ruang terbuka hijau, kondisi bahu jalan yang belum tertata, serta aktivitas pembangunan yang kurang memperhatikan pengendalian debu.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penyelesaian persoalan banjir bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran masyarakat juga dinilai sangat penting, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke parit maupun saluran air.

Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih menjadi salah satu faktor yang memperparah penyumbatan drainase dan meningkatkan risiko genangan saat hujan turun.

“Pemerintah harus membenahi sistem drainase dan tata pembangunan kota. Namun masyarakat juga harus berhenti menjadikan parit dan selokan sebagai tempat pembuangan sampah. Jika dua hal ini berjalan bersama, persoalan banjir di Batam akan jauh lebih mudah diatasi,” tegasnya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :