Sukses Asian Games, Nestapa Porprov Kepri

Suyono Saputro (Foto: Istimewa)

Indonesia membuktikan kesuksesan sebagai tuan rumah Asian Games 2018 tanpa kendala berarti dan sukses sebagai peserta karena mampu menyodok ke posisi empat klasemen akhir dengan 31 emas 21 perak 43 perunggu.
 

Padahal, Kementerian Pemuda dan Olahraga hanya menargetkan 16 emas dan masuk posisi 10 besar setelah mempertimbangkan perolehan medali pada AG 2014 di Incheon, Korea Selatan dengan 4 emas.
 
Namun tak disangka, satu persatu medali emas berhasil direbut mulai dari Taekwondo, Sepeda Downhill, Wushu, Angkat Besi, Paragliding, Pencak Silat, Karate, hingga ditutup menjadi 31 emas oleh tim Sepak Takraw. Pencak silat yang baru dipertandingkan dalam AG justru menyumbang 14 emas dan nyaris sapu bersih medali.
 
Keberhasilan ini seperti mengulang sukses sebagai tuan rumah AG 1962 di Jakarta dengan tampil sebagai Juara Umum. Sejak itu, susah bagi kita untuk masuk ke jajaran elit terlebih ketika dominasi China, Jepang, dan Korea Selatan semakin tidak terbendung hampir di semua cabang olahraga.
 
Kita turut berbangga dengan prestasi yang sudah ditorehkan dengan susah payah oleh para atlet di medan pertandingan. Ini membuktikan Indonesia masih layak disegani dalam ajang kompetisi olah   raga terbesar di Asia itu.
 
Terlepas dari kesuksesan penyelenggaraan yang nyaris tanpa cela, ada beberapa catatan yang harusnya menjadi perhatian pemerintah dan pengurus cabang olah raga. Yaitu, meningkatkan prestasi cabang olahraga yang minim medali seperti atletik, akuatik, dan senam.
 
Ketiga cabang olahraga itu selain bertabur medali juga masuk zona merah dengan tingkat persaingan yang tinggi. Negara-negara kuat seperti China, Bahrain, India, dan Jepang berebut menjadi jawara di cabang ini.
 
Sebagai contoh cabang atletik, China mampu mengumpulkan 12 emas diikuti Bahrain juga dengan 12 emas, diikuti India tujuh emas, dan Jepang enam emas. Indonesia hanya berhasil meraih 1 perak dari nomor estafet 4x100 meter. Lalu M. Zohri yang digadang-gadang mampu meraih medali justru melempem dalam nomor favorit 100 m.
 
Dari cabang akuatik (renang, loncat indah, dan renang artistik), China masih menunjukkan dominasinya dengan perolehan total 29 emas, sementara Indonesia tidak mampu mencuri satu pun medali.
 
Tim renang Indonesia gagal mengulang prestasi Richard Sambera dkk saat berlaga di ajang AG 1990 di Beijing. Dari 41 nomor yang dipertandingkan dalam AG 2018, I Gede Siman Sudarwata dkk gagal merebut satu medali pun.
 
China kembali menunjukkan dominasi dari cabang senam dengan perolehan 10 emas, diikuti Korea Selatan, China Taipei, dan Kazakhstan masing-masing dengan dua emas. Indonesia harus puas dengan 1 perak 1 perunggu dan berada di posisi 9.
 
Sekelumit fakta dari tiga cabang olahraga tersebut menjadi bukti betapa lemahnya pola pembinaan olahraga kita. Indonesia seperti tak berdaya jika sudah bersaing di tiga cabang favorit tersebut.
 
Pelaksanaan AG 2018 harus menjadi catatan serius bagi pengurus olah raga di tingkat pusat dan daerah agar mulai serius memetakan potensi cabor unggulan yang mampu bersaing di semua level kompetisi.
 
Harus diakui, Indonesia masih menghadapi masalah fundamental dalam pembinaan atlet seperti venue yang representatif, pola pembinaan, latih tanding, dan keterbatasan anggaran. Contohnya renang, tidak banyak daerah yang memiliki venue renang yang layak dengan olympic standard.
 
Memang benar, kita tidak mungkin bisa menjadi jawara di semua cabang olahraga, perlu revolusi dibidang olahraga untuk menyamai visi China menjadi juara di segala cabang. Selain butuh biaya yang besar, juga dukungan politik yang kuat.
 
Kita patut bersyukur keikutsertaan cabang pencak silat pertama kali dalam Asian Games ternyata menyumbang mayoritas medali emas. Pencak silat yang kental dengan budaya asli Indonesia memang sudah memiliki pola pembinaan yang sangat baik. Begitu juga beberapa cabang yang lain.
 
Tapi secara keseluruhan Indonesia masih bergelut dengan masalah pembinaan, dan menciptakan bibit unggul di daerah serta sulitnya menghasilkan satu atlet internasional. Pembinaan berjenjang yang harusnya dimulai dari daerah justru tidak sepenuhnya berjalan.
 
Daerah yang punya kekuatan anggaran seolah tidak menemui masalah berarti seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur. Lalu, bagaimana dengan daerah yang minim anggaran pembinaan?
 
Kepulauan Riau adalah salah satunya. Anggaran pembinaan olahraga harus bertarung dengan alokasi anggaran kegiatan lain dalam APBD. Buntutnya, anggaran terbatas menyebabkan alokasi untuk cabang olahraga pun minim.
 
KONI Kepri sebagai induk olah raga di provinsi ini harus memutar otak mengelola anggaran yang memang tidak banyak, apalagi ditengah tingginya kebutuhan dana masing-masing cabang olahraga untuk pembinaan atlet.
 
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang digelar setiap empat tahun diharapkan menjadi ajang latih tanding atlet sebelum memasuki masa persiapan PON. Namun sekali lagi, alokasi anggaran APBD yang tidak jelas menyebabkan rencana pelaksanaan Porprov tahun 2018 pun terancam molor dari jadwal.
 
Bukan itu saja, atlet berkualitas Kepri pun terancam hengkang jika masalah anggaran ini tidak segera diselesaikan. Kesejahteraan berbanding lurus dengan prestasi atlet, bagaimana atlet bisa konsentrasi berlatih jika harus memikirkan lagi kebutuhan hidupnya.
 
Nestapa Porprov ini sangat kontras dengan hingar bingar kesuksesan Asian Games 2018. Panitia pelaksana seperti leluasa mengelola dana Rp30 triliun untuk persiapan pembukaan/penutupan, pembangunan infrastruktur dan venue, termasuk bonus untuk peraih medali.
 
Tugas berat menanti para pengurus olahraga, bagaimana Indonesia bisa bersaing dalam kompetisi yang lebih tinggi yaitu Olimpiade Tokyo 2020 dan mempertahankan atau bahkan memperbaiki peringkat pada Asian Games Hangzhou 2022. Salam olahraga!


Penulis adalah akademisi Universitas Internasional Batam dan Staf Ahli Bidang Ekonomi Kadin Provinsi Kepri, berdomisili di Batam


Berita Terkait