Duh, Perekonomian 2017 Kepulauan Riau Anjlok, Pertumbuhan Hanya 2 Persen

Duh, Perekonomian 2017 Kepulauan Riau Anjlok, Pertumbuhan Hanya 2 Persen

Landmark kota Batam "Welcome to Batam" yang kini menjadi ikon. (Foto: Eka P/Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Perekonomian Kepulauan Riau anjlok di triwulan pertama tahun 2017. Data Bank Indonesa pertumbuhan hanya 2,02 persen (year on year). Tentu saja ini jauh dari triwulah keempat tahun 2016 lalu yang mencapai 5.24 persen (yoy).

"Pertumbuhan ekonomi kita (Kepri) melambat, padahal pada triwulan IV tahun 2016 kita dapat memperoleh sebesar 5,24 % (yoy)," ujar Gusti Eka Raizal, Kepala BI di Grand i Hotel, Nagoya, Rabu (10/5/2017). 

Perlambatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya, dari sisi permintaan adanya penurunan net ekspor dan konsumsi pemerintah. Kendati demikian, yang melegakan, investasi tumbuh menguat sebesar 4,87 % (yoy).

Gusti menjelaskan, bahwa untuk net ekspor yang paling mempengaruhi adalah, ekspor domestik, sedangkan untuk ekspor luar negeri mengalami perbaikan. 


Sebab APBD telat

Konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 5,26 % (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,29 % (yoy), hal ini dikarenakan tertundanya pengesahan APBD dan penurunan dana bagi hasil dari pemerintah pusat. 

“Tapi untuk investasi tumbuh menguat, terutama pada sektor industri elektronik, serta pembangunan perumahan dan hotel, hal ini dilihat dari data yang diperoleh dari BKPM, bahwa PMA dan PMD sedikit mengalami peningkatan," kata Gusti. 

Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi bersumber dari penurunan kinerja sektor industri pengolahan dan pertambangan.

Gusti menambahkan, bahwa industri mengalami kontraksi 0,23 % (yoy), menurun dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,22 % (yoy) hal ini dikarenakan permintaan yang masih rendag khususnya pada industri pendukung migas, kapal dan besi baja. 

“Sama seperti sektor perdagangan melambat juga, untuk sektor konstruksi terindikasi dari penurunan konsumsi semen sedangkan perlambatan sektor perdagangan sejalan dengan lambatnya penjualan kendaraan bermotor," kata Gusti. 

Gusti mengungkapkan kondisi perlambatan perkenomian pada angka 2,02 % juga pernah dialami Kepri pada tahun 2019 dengan masa triwulan yang sama.***

 

(ret)