Tarik untuk refresh
Gotong Royong Pemuda Geranting Hidupkan Lagi Kampung yang Lama Sepi

Gotong Royong Pemuda Geranting Hidupkan Lagi Kampung yang Lama Sepi

1 minggu yang lalu

Batam, Batamnews — Dari pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk Kota Batam, Kepulauan Riau, para pemuda Geranting memilih bergerak dengan caranya sendiri. Mereka tidak menunggu bantuan datang. Mereka tidak sibuk mengeluh.  Mereka justru mengetuk pintu rumah warga satu per satu, mengumpulkan uang seadanya, lalu menghidupkan kembali kampung yang lama terasa sunyi. Pulau Geranting berada di Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Pulau ini dikenal sebagai kawasan pesisir yang dihuni masyarakat nelayan, dengan rumah-rumah panggung, hutan bakau, dan kehidupan yang berjalan tenang.  . Jumlah penduduknya lebih dari 200 kepala keluarga yang mayoritas hidup dari melaut, sementara sebagian lainnya membudidayakan rumput laut. Namun di balik ketenangan itu, Geranting menyimpan cerita panjang. Firdaus, salah satu pemuda setempat, menuturkan bahwa kampung itu pernah ramai pada 1989. Saat itu, ribuan orang datang ketika Geranting menjadi tuan rumah turnamen bola voli dan sepak bola antarkampung.  Setelah itu, suasana kembali sepi. Tak lama berselang, wabah malaria datang dan meninggalkan luka mendalam bagi warga. Dalam sehari, disebut ada tiga hingga lima orang meninggal dunia. Banyak warga kemudian pindah ke Batam, Kijang, dan pulau-pulau lain. Sejak itulah Geranting seperti kehilangan denyut besarnya. Puluhan tahun berlalu, suasana itu perlahan ingin diubah. Pada Agustus 2025, para pemuda Geranting mulai membuat langkah kecil. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-80, mereka menggelar berbagai perlombaan untuk pertama kalinya secara mandiri di kampung sendiri. Selama ini, warga lebih sering ikut perayaan di Belakang Padang. Kali ini, mereka ingin merah putih berkibar di tanah kelahiran mereka sendiri. Dana kegiatan itu murni hasil swadaya. Warga menyumbang mulai dari Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per orang. Dari upaya door to door yang dilakukan para pemuda, terkumpul Rp4,9 juta. Meski begitu, biaya pembukaan acara tercatat sudah mencapai Rp5,7 juta. Kekurangan dana akhirnya ditutup dengan pinjaman dari salah satu panitia, Siti Nasuha. Firdaus menyebut, saat itu pemerintah sebenarnya sudah diundang. Pihak kelurahan bahkan diberi pemberitahuan. Namun, tidak ada satu pun perwakilan yang hadir. Bantuan dari pemerintah kota juga tidak ada. Meski demikian, acara tetap berjalan. Bendera merah putih dipasang dari pelantar hingga lapangan. Anak-anak membawa umbul-umbul, warga berjualan, dan kampung yang lama diam itu kembali punya suasana. “Dari tangan mereka, kami belajar bahwa cinta pada kampung halaman tidak perlu diteriakkan. Cukup dibuktikan saja, kontan, tanpa banyak janji,” kata Firdaus. Semangat itu tidak berhenti di Agustus. Februari 2026, pemuda Geranting kembali membuat turnamen mini soccer. Kali ini skalanya lebih besar. Sebanyak 40 tim ikut mendaftar dan lebih dari 1.000 orang datang meramaikan acara. Peserta datang dari berbagai daerah, seperti Desa Jang di Karimun, Moro, Belakang Padang, hingga Bulang.  Dana awal dari masyarakat hanya sekitar Rp7 juta, sementara total kebutuhan acara mencapai Rp21 juta. Kekurangan itu lalu ditutupi lewat penjualan tiket penonton Rp5.000, biaya pendaftaran Rp200 ribu per tim, serta donasi tambahan. Total dana yang berhasil dihimpun akhirnya mencapai Rp22 juta. Bagi warga Geranting, acara itu bukan sekadar turnamen. Kampung mereka mulai dikenal. Warga dari pulau lain datang, ekonomi kecil bergerak, dan masyarakat bisa berjualan. Pemuda setempat merasa apa yang mereka lakukan mulai memberi arti bagi kampung sendiri. Namun di tengah semangat itu, ada ganjalan yang terus tersisa. Lagi-lagi, kata Firdaus, pihak kelurahan yang sudah diundang tidak hadir. Ini menjadi kali kedua pemerintah tidak datang ke kegiatan masyarakat Geranting. Kekecewaan itulah yang kemudian membuat para pemuda memilih tidak lagi berharap banyak. Untuk kegiatan berikutnya, mereka mengaku lebih nyaman mengundang RT dan RW saja. “Kami tidak butuh bantuan uang dari pemerintah. Yang kami harapkan adalah kehadiran Pak Lurah bersama masyarakat, supaya kami tidak merasa seperti anak tiri dibandingkan kampung-kampung lain di Kelurahan Pulau Terong,” ujar Firdaus. Setelah mini soccer, masyarakat Geranting kembali menggelar kegiatan lain pada Maret 2026, mulai dari voli, balapan speed, hingga sepak takraw. Semua tetap dilakukan dengan swadaya. Di mata pemuda setempat, yang mereka bangun bukan cuma acara, tapi juga rasa percaya diri bahwa kampung kecil di ujung Batam ini masih punya semangat untuk berdiri sendiri. Saat dikonfirmasi, Lurah Pulau Terong saat ini, Bustomi Maulana, mengaku mengapresiasi semangat pemuda Geranting. Ia mengatakan kegiatan seperti mini soccer dan perlombaan lainnya layak mendapat perhatian.  . Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak ada perwakilan kelurahan yang hadir. Di tengah segala keterbatasan itu, Geranting terus bergerak. Pemudanya sudah menyiapkan agenda berikutnya, Mini Soccer Cup II, yang rencananya kembali digelar dalam waktu dekat. Barangkali bagi orang luar, ini hanya turnamen kampung biasa.  Namun bagi warga Geranting, ini adalah cara mereka memperkenalkan kampung sendiri, menjaga kebersamaan, dan menunjukkan bahwa sebuah pulau kecil pun bisa berdiri dengan harga dirinya sendiri. (Jam)

Batam, Batamnews — Dari pulau kecil yang jauh dari hiruk-pikuk Kota Batam, Kepulauan Riau, para pemuda Geranting memilih bergerak dengan caranya sendiri. Mereka tidak menunggu bantuan datang. Mereka tidak sibuk mengeluh. 

Mereka justru mengetuk pintu rumah warga satu per satu, mengumpulkan uang seadanya, lalu menghidupkan kembali kampung yang lama terasa sunyi.

Pulau Geranting berada di Kelurahan Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Pulau ini dikenal sebagai kawasan pesisir yang dihuni masyarakat nelayan, dengan rumah-rumah panggung, hutan bakau, dan kehidupan yang berjalan tenang. 

Baca juga: Polsek Galang Bantah Video Viral Dugaan Pencabulan di Perairan Pulau Mubut: Itu Ayah dan Anak

Letaknya sekitar 18 kilometer dari daratan terluar Batam dan sekitar 30 kilometer dari Singapura. Jumlah penduduknya lebih dari 200 kepala keluarga yang mayoritas hidup dari melaut, sementara sebagian lainnya membudidayakan rumput laut.

Namun di balik ketenangan itu, Geranting menyimpan cerita panjang. Firdaus, salah satu pemuda setempat, menuturkan bahwa kampung itu pernah ramai pada 1989. Saat itu, ribuan orang datang ketika Geranting menjadi tuan rumah turnamen bola voli dan sepak bola antarkampung. 

Setelah itu, suasana kembali sepi. Tak lama berselang, wabah malaria datang dan meninggalkan luka mendalam bagi warga. Dalam sehari, disebut ada tiga hingga lima orang meninggal dunia. Banyak warga kemudian pindah ke Batam, Kijang, dan pulau-pulau lain. Sejak itulah Geranting seperti kehilangan denyut besarnya.

Puluhan tahun berlalu, suasana itu perlahan ingin diubah. Pada Agustus 2025, para pemuda Geranting mulai membuat langkah kecil. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-80, mereka menggelar berbagai perlombaan untuk pertama kalinya secara mandiri di kampung sendiri. Selama ini, warga lebih sering ikut perayaan di Belakang Padang. Kali ini, mereka ingin merah putih berkibar di tanah kelahiran mereka sendiri.

Dana kegiatan itu murni hasil swadaya. Warga menyumbang mulai dari Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per orang. Dari upaya door to door yang dilakukan para pemuda, terkumpul Rp4,9 juta. Meski begitu, biaya pembukaan acara tercatat sudah mencapai Rp5,7 juta. Kekurangan dana akhirnya ditutup dengan pinjaman dari salah satu panitia, Siti Nasuha.

Firdaus menyebut, saat itu pemerintah sebenarnya sudah diundang. Pihak kelurahan bahkan diberi pemberitahuan. Namun, tidak ada satu pun perwakilan yang hadir. Bantuan dari pemerintah kota juga tidak ada. Meski demikian, acara tetap berjalan. Bendera merah putih dipasang dari pelantar hingga lapangan. Anak-anak membawa umbul-umbul, warga berjualan, dan kampung yang lama diam itu kembali punya suasana.

“Dari tangan mereka, kami belajar bahwa cinta pada kampung halaman tidak perlu diteriakkan. Cukup dibuktikan saja, kontan, tanpa banyak janji,” kata Firdaus.

Semangat itu tidak berhenti di Agustus. Februari 2026, pemuda Geranting kembali membuat turnamen mini soccer. Kali ini skalanya lebih besar. Sebanyak 40 tim ikut mendaftar dan lebih dari 1.000 orang datang meramaikan acara. Peserta datang dari berbagai daerah, seperti Desa Jang di Karimun, Moro, Belakang Padang, hingga Bulang. 

Dana awal dari masyarakat hanya sekitar Rp7 juta, sementara total kebutuhan acara mencapai Rp21 juta. Kekurangan itu lalu ditutupi lewat penjualan tiket penonton Rp5.000, biaya pendaftaran Rp200 ribu per tim, serta donasi tambahan. Total dana yang berhasil dihimpun akhirnya mencapai Rp22 juta.

Bagi warga Geranting, acara itu bukan sekadar turnamen. Kampung mereka mulai dikenal. Warga dari pulau lain datang, ekonomi kecil bergerak, dan masyarakat bisa berjualan. Pemuda setempat merasa apa yang mereka lakukan mulai memberi arti bagi kampung sendiri.

Namun di tengah semangat itu, ada ganjalan yang terus tersisa. Lagi-lagi, kata Firdaus, pihak kelurahan yang sudah diundang tidak hadir. Ini menjadi kali kedua pemerintah tidak datang ke kegiatan masyarakat Geranting. Kekecewaan itulah yang kemudian membuat para pemuda memilih tidak lagi berharap banyak. Untuk kegiatan berikutnya, mereka mengaku lebih nyaman mengundang RT dan RW saja.

“Kami tidak butuh bantuan uang dari pemerintah. Yang kami harapkan adalah kehadiran Pak Lurah bersama masyarakat, supaya kami tidak merasa seperti anak tiri dibandingkan kampung-kampung lain di Kelurahan Pulau Terong,” ujar Firdaus.

Setelah mini soccer, masyarakat Geranting kembali menggelar kegiatan lain pada Maret 2026, mulai dari voli, balapan speed, hingga sepak takraw. Semua tetap dilakukan dengan swadaya. Di mata pemuda setempat, yang mereka bangun bukan cuma acara, tapi juga rasa percaya diri bahwa kampung kecil di ujung Batam ini masih punya semangat untuk berdiri sendiri.

Saat dikonfirmasi, Lurah Pulau Terong saat ini, Bustomi Maulana, mengaku mengapresiasi semangat pemuda Geranting. Ia mengatakan kegiatan seperti mini soccer dan perlombaan lainnya layak mendapat perhatian. 

Baca juga: Tak Ikut WFA, Disdukcapil Batam Pilih Tatap Muka: Ratusan Dokumen Selesai Tiap Hari

Soal ketidakhadirannya, ia menyebut tidak menerima undangan resmi dan pada saat bersamaan disibukkan dengan agenda pemerintahan, termasuk program sarana dan prasarana kelurahan serta pengukuran jerambah di Pulau Geranting. Ia juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak ada perwakilan kelurahan yang hadir.

Di tengah segala keterbatasan itu, Geranting terus bergerak. Pemudanya sudah menyiapkan agenda berikutnya, Mini Soccer Cup II, yang rencananya kembali digelar dalam waktu dekat. Barangkali bagi orang luar, ini hanya turnamen kampung biasa. 

Namun bagi warga Geranting, ini adalah cara mereka memperkenalkan kampung sendiri, menjaga kebersamaan, dan menunjukkan bahwa sebuah pulau kecil pun bisa berdiri dengan harga dirinya sendiri. (Jam)

Play
Stop
WA
FB
Copy
Batamnews Home
Memuat…