
3 minggu yang lalu
Batam, Batamnews - Seorang perempuan berinisial R mengalami teror dan pemerasan setelah menjalin hubungan dengan pria yang mengaku sebagai oknum TNI yang bertugas di Kota Batam. Pelaku tidak hanya menguras uang korban, tetapi juga mengancam akan menyebarkan video panggilan video vulgar milik korban jika tak lagi mau memberikan uang.
Perempuan yang akrab disapa Ratna itu menceritakan awal mula pertemuannya dengan pelaku terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026. Keduanya saling mengenal melalui media sosial dan komunikasi mereka pun berlangsung intens.
"Awalnya kami hanya chatting biasa. Dia mengaku sebagai anggota TNI di Batam. Bahkan sempat bilang kalau saya pulang, dia mau menemui orang tua saya dan menjadikan saya istri Persit," ujar Ratna saat ditemui batamnews.co.id, Senin, 23 Maret 2026.
Baca juga: Maling Beraksi Saat Warga Terlelap, Motor Vega R Milik Penghuni Kos di Lubuk Baja Batam Raib
Saat komunikasi semakin akrab, pelaku mengajak Ratna melakukan panggilan video. Di sinilah awal mula masalah terjadi. Panggilan video yang semula biasa berubah menjadi vulgar. Setelah itu, nada bicara pelaku mulai berubah.
Pelaku mulai meminjam uang dengan berbagai macam alasan. Mulai dari biaya pengobatan ayahnya yang disebut tengah dirawat karena penyakit diabetes, hingga mengaku perlu uang untuk menebus surat tanda nomor kendaraan (STNK) yang digadaikan.
"Besok paginya dia pinjam uang sekitar Rp2 juta untuk bapaknya yang katanya dirawat di rumah sakit. Saya sempat bilang tidak ada, tapi dia terus mendesak agar saya mencari pinjaman ke sana-sini," ungkapnya.
Ratna pun akhirnya mentransfer uang secara bertahap. Total uang yang sudah dikirim mencapai jutaan rupiah. Meski sempat ada pengembalian uang sebesar Rp2,3 juta, pelaku kembali meminjam dan terus mendesak korban mengirim uang hingga nominal Rp1 juta dan tambahan Rp200 ribu.
Tekanan semakin tidak tertahankan ketika Ratna tak lagi punya uang untuk memenuhi permintaan pelaku. Pelaku pun mengubah ancaman. Dia mengancam akan menyebarkan video pribadi korban yang direkam saat panggilan video ke media sosial jika tidak diberi uang sebesar Rp5 juta.
"Dia bilang, kalau saya tidak bantu, video saya akan disebarkan dan bahkan mau dijual untuk biaya pengobatan bapaknya. Saya sangat takut," katanya.
Tak berhenti di situ, Ratna juga mengaku nomor teleponnya dan keluarganya disebarkan oleh pelaku. Akibatnya, ia terus menerima pesan dan panggilan dari nomor-nomor tak dikenal yang mengaku sebagai wartawan hingga oknum aparat.
"Sampai sekarang banyak nomor baru yang menghubungi saya. Ada yang mengaku wartawan dari Cirebon, ada juga yang mengaku polisi. Tapi saya yakin itu pelaku yang menyamar," ungkapnya.
Bahkan pelaku sempat melakukan panggilan video dengan ibu kandung Ratna untuk menggali informasi pribadi.
Atas kejadian ini, korban berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti kasus dugaan pemerasan dan ancaman yang dialaminya.
Kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan orang baru di media sosial, serta tidak mudah memberikan data pribadi atau melakukan aktivitas yang berisiko disalahgunakan.