Tarik untuk refresh
Dampak Besar RTS Johor-Singapura: Perjalanan 5 Menit, Siap Operasi Akhir 2026

Dampak Besar RTS Johor-Singapura: Perjalanan 5 Menit, Siap Operasi Akhir 2026

16 Januari 2026 • 20:52

Jakarta, Batamnews – Beroperasinya Johor Bahru-Singapura Rapid Transit System (RTS) pada akhir tahun ini diperkirakan membawa perubahan besar pada mobilitas lintas negara sekaligus tantangan baru bagi pelaku transportasi konvensional. Melansir Channelnewsasia, para pakar memperkirakan sistem kereta api ringan ini akan mengurangi lalu lintas kendaraan di pos pemeriksaan Woodlands dan Tuas hingga 25%. Bagi ribuan komuter, ini adalah kabar baik. Namun, bagi pengusaha transportasi lintas batas seperti Farid Khan, Pendiri Singapore Cab Booking, ini merupakan tantangan yang serius. . "Ada dampak besar pada bisnis saya karena adanya RTS ini. Tetapi saya memiliki langkah pengurangan biaya. Kami akan menurunkan harga untuk rute JB, dan pada saat yang sama meningkatkan layanan antar-jemput dari rumah pelanggan," ujar Farid, Jumat, 16 Januari 2026. Khan berencana menurunkan tarif sebesar 20 hingga 30 persen. Misalnya, perjalanan dengan mobil tujuh tempat duduk yang kini berharga sekitar S$180–S$200 (sekitar Rp 2,65 juta), bisa turun menjadi sekitar S$150 (Rp 1,97 juta). Konsultan transportasi Kelvin Foo, Direktur Pelaksana TTS Group, memperkirakan hingga 25 persen pergerakan penumpang akan beralih ke RTS Link. Jalur ini di Singapura akan terhubung langsung ke Stasiun MRT Woodlands North (Jalur Thomson-East Coast).  Penumpang kemudian akan tiba di Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru, dengan waktu tempuh hanya sekitar lima menit antar stasiun. Menurut Otoritas Transportasi Darat, RTS Link dirancang memiliki kapasitas hingga 10.000 penumpang per jam di setiap arah pada jam sibuk. "Akan ada pergeseran lalu lintas dari sekitar 200.000 hingga 400.000 penumpang harian yang saat ini melintasi Second Link dan Causeway, ke sisi RTS," jelas Foo. Namun, dia menyoroti kemungkinan paradoks: berkurangnya kemacetan justru bisa mendorong lebih banyak orang menggunakan mobil pribadi. "Mungkin jalanan akan menjadi lebih lancar, sehingga permintaan untuk menggunakan mobil sebagai moda transportasi lain justru meningkat. Ini adalah proses penyeimbangan secara keseluruhan," tambahnya. Terlepas dari dinamika tersebut, Foo yakin efek bersihnya akan positif. Kemacetan di Causeway dan Second Link diprediksi berkurang, dengan waktu perjalanan yang lebih mudah diprediksi sebagai manfaat utama. . Yang pasti, waktu perjalanan secara keseluruhan akan berkurang," pungkasnya. RTS Link, yang diharapkan beroperasi akhir tahun ini, tidak hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga akan mengubah lanskap mobilitas dan ekonomi di wilayah perbatasan kedua negara.

Jakarta, Batamnews – Beroperasinya Johor Bahru-Singapura Rapid Transit System (RTS) pada akhir tahun ini diperkirakan membawa perubahan besar pada mobilitas lintas negara sekaligus tantangan baru bagi pelaku transportasi konvensional.

Melansir Channelnewsasia, para pakar memperkirakan sistem kereta api ringan ini akan mengurangi lalu lintas kendaraan di pos pemeriksaan Woodlands dan Tuas hingga 25%.

Bagi ribuan komuter, ini adalah kabar baik. Namun, bagi pengusaha transportasi lintas batas seperti Farid Khan, Pendiri Singapore Cab Booking, ini merupakan tantangan yang serius.

Baca juga: Viral di TikTok, Pegawai Ini Diberhentikan Karena "Terlalu Jujur" Saat Dimintai Masukan oleh Bos

Bisnisnya yang mengandalkan angkutan sedan, maxi cab, dan minibus antar Singapura dan Johor terancam menyusut.

"Ada dampak besar pada bisnis saya karena adanya RTS ini. Tetapi saya memiliki langkah pengurangan biaya. Kami akan menurunkan harga untuk rute JB, dan pada saat yang sama meningkatkan layanan antar-jemput dari rumah pelanggan," ujar Farid, Jumat, 16 Januari 2026.

Khan berencana menurunkan tarif sebesar 20 hingga 30 persen. Misalnya, perjalanan dengan mobil tujuh tempat duduk yang kini berharga sekitar S$180–S$200 (sekitar Rp 2,65 juta), bisa turun menjadi sekitar S$150 (Rp 1,97 juta).

Konsultan transportasi Kelvin Foo, Direktur Pelaksana TTS Group, memperkirakan hingga 25 persen pergerakan penumpang akan beralih ke RTS Link. Jalur ini di Singapura akan terhubung langsung ke Stasiun MRT Woodlands North (Jalur Thomson-East Coast). 

Penumpang kemudian akan tiba di Stasiun Bukit Chagar di Johor Bahru, dengan waktu tempuh hanya sekitar lima menit antar stasiun.

Menurut Otoritas Transportasi Darat, RTS Link dirancang memiliki kapasitas hingga 10.000 penumpang per jam di setiap arah pada jam sibuk.

"Akan ada pergeseran lalu lintas dari sekitar 200.000 hingga 400.000 penumpang harian yang saat ini melintasi Second Link dan Causeway, ke sisi RTS," jelas Foo.

Namun, dia menyoroti kemungkinan paradoks: berkurangnya kemacetan justru bisa mendorong lebih banyak orang menggunakan mobil pribadi.

"Mungkin jalanan akan menjadi lebih lancar, sehingga permintaan untuk menggunakan mobil sebagai moda transportasi lain justru meningkat. Ini adalah proses penyeimbangan secara keseluruhan," tambahnya.

Terlepas dari dinamika tersebut, Foo yakin efek bersihnya akan positif. Kemacetan di Causeway dan Second Link diprediksi berkurang, dengan waktu perjalanan yang lebih mudah diprediksi sebagai manfaat utama.

Baca juga: Gara-gara Pengendara Ambil Barang Jatuh, Sebuah Tabrakan Massal Motor Terjadi di Singapura-Malaysia

"Kita akan bisa memperkirakan lebih akurat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melewati bea cukai. Yang pasti, waktu perjalanan secara keseluruhan akan berkurang," pungkasnya.

RTS Link, yang diharapkan beroperasi akhir tahun ini, tidak hanya sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga akan mengubah lanskap mobilitas dan ekonomi di wilayah perbatasan kedua negara.

wa
fb
copy
Batamnews Home
Memuat…