Batam, Batamnews - Setelah kematian tragis Dwi Putri Aprilian Dini (25), pemandu lagu asal Lampung yang ditemukan tewas di sebuah mess di kawasan Jodoh Permai, gelombang kesaksian baru bermunculan. Para korban yang pernah berada di bawah kendali Wilson dan Melika mulai angkat suara, mengungkap dugaan praktik penyiksaan sistematis yang diduga telah berlangsung lama. Kesaksian-kesaksian tersebut memperkuat dugaan pola kekerasan yang juga dialami Dwi Putri sebelum meninggal: diborgol, disiram air, dipukul, ditendang, disekap, tidak diberi makan, serta dipaksa menelan obat dan minuman keras dalam jumlah besar. . Pola Penyiksaan yang Dialami Dwi Putri Sebelum Meninggal Dalam laporan sebelumnya, batamnews.co.id mengungkap bahwa Dwi Putri diduga diborgol, disiram air berjam-jam menggunakan selang, serta dipukuli hingga tubuhnya dipenuhi memar. Korban akhirnya tewas di dalam mess, namun jasadnya justru dibawa ke RS Elisabeth Sagulung — lokasi yang jauh dari tempat tinggal korban di Batu Ampar. Petugas rumah sakit menyatakan bahwa kondisi ini sangat janggal. “Saat tiba, jenazah sudah membusuk. Pelaku berbohong, membawa korban jauh-jauh. Kami langsung hubungi polisi.” Kini, kesaksian baru dari para korban menunjukkan bahwa pola kekerasan sadis seperti yang dialami Dwi Putri memang sudah sering terjadi. Rekam Jejak Kekerasan: Testimoni Para Korban Wilson & Melika Diborgol, Dicekik, Dilempar Koper. Salah satu korban mengaku diperlakukan layaknya binatang. “Aku dilempar pakai koper, dicekik, diborgol. Perutku ditumbuk tangan koordinator, ditampar suruhan Wilson.” Kesaksian ini identik dengan luka-luka yang ditemukan pada tubuh Dwi Putri. Dipaksa Menelan Obat & Miras dalam Jumlah Banyak. Banyak korban mengaku dipaksa minum obat penenang berwarna pink — diduga alprazolam — hingga 10–12 butir sekali konsumsi, kemudian dipaksa menenggak minuman keras. “Dikasih 10 biji obat pink, disuruh minum Jack Daniel’s sampai muntah. Setelah lemas dipukul lagi.” Beberapa saksi menyebut banyak korban overdosis dan bahkan ada yang “sempat meninggal di mess”. Disekap 4 Hari Tanpa Makan & Minum. Seorang korban menulis: “Dikurung 4 hari, tidak dikasih makan dan minum. Ada yang punya anak kecil, tapi tetap disiksa sampai meninggal.” Kesaksian ini memperkuat dugaan bahwa Dwi Putri juga mengalami kondisi serupa sebelum tewas. Hampir Mati karena Kehabisan Darah. Seorang korban menunjukkan luka sayatan di lengannya yang hampir memutus urat nadi. “Aku hampir pingsan karena kehabisan darah di RS. Disiksa hampir mati. Ini menunjukkan tingkat kekerasan yang ekstrem dan berulang. Upaya Menjebak Dokter Setelah Korban Meninggal. Menurut saksi di RS Elisabeth Sagulung, pelaku sempat mencoba memanipulasi penyebab kematian korban. “Pelaku bilang itu ART mereka, dipukul pacarnya. Padahal mayat sudah bau. Mereka mau jebak dokter.” Ini selaras dengan pola manipulasi saat pelaku membawa jasad Dwi Putri jauh dari TKP. Banyak Korban Lain yang Takut Bicara. Beberapa komentar publik menyebut kasus ini bukan yang pertama. “Sebelumnya ada korban dari Medan, ada yang kabur. Ada yang nyaris mati. Ini bukan kejadian baru.” Ada juga laporan bahwa setidaknya 9 orang lainnya masih diduga disekap atau tidak berani keluar. Kekerasan Sudah Berlangsung Lama Kesaksian dari para korban menunjukkan bahwa praktik kekerasan ini sudah terjadi sejak 2022–2023. Polanya meliputi: kerja dari pagi hingga subuh, dipukul jika dianggap salah, dicekoki obat agar patuh, dipaksa minum alkohol, dilarang pulang, dikendalikan dengan ancaman dan kekerasan, perempuan menjadi korban paling rentan. . Beberapa korban sebelumnya selamat karena berhasil kabur atau ditolong orang lain. Dwi Putri tidak seberuntung mereka. Polisi Diminta Serius Bongkar Jaringan dan Mengungkap Semua Korban Keluarga korban dan para penyintas meminta agar: pelaku utama, koordinator, serta seluruh pihak yang terlibat diusut hingga tuntas. Masyarakat juga berharap polisi memeriksa dugaan bahwa masih ada korban lain yang hingga kini disekap.
Batam, Batamnews - Setelah kematian tragis Dwi Putri Aprilian Dini (25), pemandu lagu asal Lampung yang ditemukan tewas di sebuah mess di kawasan Jodoh Permai, gelombang kesaksian baru bermunculan.
Para korban yang pernah berada di bawah kendali Wilson dan Melika mulai angkat suara, mengungkap dugaan praktik penyiksaan sistematis yang diduga telah berlangsung lama.
Kesaksian-kesaksian tersebut memperkuat dugaan pola kekerasan yang juga dialami Dwi Putri sebelum meninggal: diborgol, disiram air, dipukul, ditendang, disekap, tidak diberi makan, serta dipaksa menelan obat dan minuman keras dalam jumlah besar.
Baca juga: Dwi Putri Dimakamkan di Lampung, Keluarga Ungkap Alasan Tolak Pinalti dan Dugaan Korban Terjebak Lowongan Kerja LC
Semua cerita yang muncul kini mengarah pada satu garis merah — penyiksaan di lingkungan agency tersebut bukanlah kejadian tunggal, melainkan pola kekerasan berulang selama bertahun-tahun.
Pola Penyiksaan yang Dialami Dwi Putri Sebelum Meninggal
Dalam laporan sebelumnya, batamnews.co.id mengungkap bahwa Dwi Putri diduga diborgol, disiram air berjam-jam menggunakan selang, serta dipukuli hingga tubuhnya dipenuhi memar. Korban akhirnya tewas di dalam mess, namun jasadnya justru dibawa ke RS Elisabeth Sagulung — lokasi yang jauh dari tempat tinggal korban di Batu Ampar.
Petugas rumah sakit menyatakan bahwa kondisi ini sangat janggal.
“Saat tiba, jenazah sudah membusuk. Pelaku berbohong, membawa korban jauh-jauh. Kami langsung hubungi polisi.”
Kini, kesaksian baru dari para korban menunjukkan bahwa pola kekerasan sadis seperti yang dialami Dwi Putri memang sudah sering terjadi.
Rekam Jejak Kekerasan: Testimoni Para Korban Wilson & Melika
- Diborgol, Dicekik, Dilempar Koper. Salah satu korban mengaku diperlakukan layaknya binatang. “Aku dilempar pakai koper, dicekik, diborgol. Perutku ditumbuk tangan koordinator, ditampar suruhan Wilson.” Kesaksian ini identik dengan luka-luka yang ditemukan pada tubuh Dwi Putri.
- Dipaksa Menelan Obat & Miras dalam Jumlah Banyak. Banyak korban mengaku dipaksa minum obat penenang berwarna pink — diduga alprazolam — hingga 10–12 butir sekali konsumsi, kemudian dipaksa menenggak minuman keras. “Dikasih 10 biji obat pink, disuruh minum Jack Daniel’s sampai muntah. Setelah lemas dipukul lagi.” Beberapa saksi menyebut banyak korban overdosis dan bahkan ada yang “sempat meninggal di mess”.
- Disekap 4 Hari Tanpa Makan & Minum. Seorang korban menulis: “Dikurung 4 hari, tidak dikasih makan dan minum. Ada yang punya anak kecil, tapi tetap disiksa sampai meninggal.” Kesaksian ini memperkuat dugaan bahwa Dwi Putri juga mengalami kondisi serupa sebelum tewas.
- Hampir Mati karena Kehabisan Darah. Seorang korban menunjukkan luka sayatan di lengannya yang hampir memutus urat nadi. “Aku hampir pingsan karena kehabisan darah di RS. Disiksa hampir mati. Ini menunjukkan tingkat kekerasan yang ekstrem dan berulang.
- Upaya Menjebak Dokter Setelah Korban Meninggal. Menurut saksi di RS Elisabeth Sagulung, pelaku sempat mencoba memanipulasi penyebab kematian korban. “Pelaku bilang itu ART mereka, dipukul pacarnya. Padahal mayat sudah bau. Mereka mau jebak dokter.” Ini selaras dengan pola manipulasi saat pelaku membawa jasad Dwi Putri jauh dari TKP.
- Banyak Korban Lain yang Takut Bicara. Beberapa komentar publik menyebut kasus ini bukan yang pertama. “Sebelumnya ada korban dari Medan, ada yang kabur. Ada yang nyaris mati. Ini bukan kejadian baru.” Ada juga laporan bahwa setidaknya 9 orang lainnya masih diduga disekap atau tidak berani keluar.
Kekerasan Sudah Berlangsung Lama
Kesaksian dari para korban menunjukkan bahwa praktik kekerasan ini sudah terjadi sejak 2022–2023. Polanya meliputi: kerja dari pagi hingga subuh, dipukul jika dianggap salah, dicekoki obat agar patuh, dipaksa minum alkohol, dilarang pulang, dikendalikan dengan ancaman dan kekerasan, perempuan menjadi korban paling rentan.
Baca juga: Tewas Penuh Kejanggalan, Dwi Putri Pemandu Lagu KTV Batam Dibawa Bos ke RS Elisabeth Sagulung
Kematian Dwi Putri Diduga Puncak dari Pola Kekerasan Ini
Berdasarkan berbagai kesaksian, kematian Dwi Putri diduga bukan kejadian spontan, melainkan puncak dari praktik penyiksaan yang telah berlangsung lama.
Beberapa korban sebelumnya selamat karena berhasil kabur atau ditolong orang lain.
Dwi Putri tidak seberuntung mereka.
Polisi Diminta Serius Bongkar Jaringan dan Mengungkap Semua Korban
Keluarga korban dan para penyintas meminta agar: pelaku utama, koordinator, serta seluruh pihak yang terlibat diusut hingga tuntas.
Masyarakat juga berharap polisi memeriksa dugaan bahwa masih ada korban lain yang hingga kini disekap.