Tarik untuk refresh
Belajar dari AS, Data Center Batam Jangan Membebani Air dan Listrik Warga

Belajar dari AS, Data Center Batam Jangan Membebani Air dan Listrik Warga

2 hari yang lalu

Batam sedang bergerak cepat menjadi salah satu pusat data center dan kecerdasan buatan atau AI. Investasi besar masuk. Proyek-proyek baru dibangun, terutama di kawasan Nongsa. Ini tentu menjadi peluang besar bagi Batam. Investasi data center bisa membawa teknologi, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Batam dalam ekonomi digital. Namun, ada pertanyaan penting yang tidak boleh dilupakan: Apakah pasokan air dan listrik Batam cukup ketika data center mulai beroperasi dalam skala besar? Pertanyaan ini penting karena data center bukan industri biasa. Server bekerja selama 24 jam dan membutuhkan listrik yang besar serta stabil. Untuk data center berbasis AI, kebutuhan listriknya bahkan jauh lebih besar. Belajar dari Amerika Kekhawatiran terhadap dampak data center bukan hanya terjadi di Batam. Di Amerika Serikat, pembangunan data center AI mulai mendapat penolakan di sejumlah daerah. Warga mempertanyakan dampaknya terhadap jaringan listrik, pasokan air, lingkungan, hingga kenaikan biaya listrik yang akhirnya ditanggung masyarakat. Pengalaman itu layak menjadi pelajaran bagi Batam. Amerika tentu berbeda dengan Batam. Sistem listrik, sumber air, regulasi dan skala industrinya tidak sama. Tetapi ada satu persoalan yang sama: Data center membutuhkan listrik dan air dalam jumlah sangat besar. Karena itu, pembangunan data center tidak cukup hanya berbicara soal nilai investasi. Pemerintah juga harus menghitung kemampuan kota menyediakan kebutuhan dasarnya. Kebutuhan listrik terus membesar Di Batam, skalanya sudah mulai terlihat. Sejumlah perusahaan data center telah menandatangani kontrak pasokan listrik dengan PLN Batam dalam kapasitas ratusan MVA. PLN Batam juga menyiapkan pembangunan pembangkit baru untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik hingga 2030. Langkah ini tentu penting. Namun, masyarakat juga membutuhkan kepastian bahwa pembangunan pembangkit dan jaringan listrik berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan data center. Jangan sampai data center lebih dulu membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sementara tambahan pasokannya belum sepenuhnya siap. Sebab listrik Batam bukan hanya untuk data center. Ada rumah masyarakat, rumah sakit, sekolah, UMKM, hotel, galangan kapal dan berbagai industri yang juga membutuhkan listrik setiap hari. Pertanyaannya sederhana: Ketika kebutuhan listrik data center meningkat tajam, apakah listrik rumah warga tetap aman? Persoalan air lebih sensitif Air bahkan bisa menjadi persoalan yang lebih serius. Batam sangat bergantung pada waduk sebagai sumber air baku. Ketika curah hujan turun dan volume waduk menyusut, dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Aliran air mengecil. Distribusi terganggu. Di sejumlah wilayah, warga bahkan harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan air. Di tengah kondisi itu, kebutuhan air data center juga akan meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh Batamnews, kebutuhan air operasional EGS AI Data Centre di Teluk Mata Ikan diproyeksikan mencapai sekitar 311 liter per detik pada 2028. Jika dihitung sebagai aliran selama 24 jam, jumlah tersebut setara hampir 27 juta liter per hari. Sementara kebutuhan air di kawasan Nongsa Digital Park diproyeksikan dapat mencapai sekitar 404 liter per detik pada 2032. Angka itu menunjukkan satu hal: Kebutuhan air data center bukan kebutuhan kecil. Memang, angka kapasitas tersebut tidak otomatis berarti seluruh air akan habis digunakan setiap hari. Konsumsi sebenarnya bergantung pada sistem pendinginan, teknologi daur ulang dan cara setiap data center beroperasi. Namun justru karena kebutuhannya besar, masyarakat perlu mendapat penjelasan yang jelas. Dari mana air tersebut akan diperoleh? Apakah menggunakan sumber yang sama dengan rumah masyarakat? Berapa banyak air yang akan didaur ulang? Apakah data center diwajibkan menggunakan teknologi pendinginan yang hemat air? Dan bagaimana jika Batam kembali mengalami kemarau panjang? Jangan sampai warga yang mengalah Batam tentu tidak boleh menutup pintu terhadap investasi. Data center dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Industri ini juga dapat memperkuat posisi Batam sebagai pusat teknologi di kawasan. Tetapi investasi sebesar apa pun tidak boleh membuat kebutuhan dasar masyarakat menjadi nomor dua. Jangan sampai pusat data mendapatkan listrik stabil selama 24 jam, sementara rumah warga mengalami pemadaman. Jangan sampai jutaan liter air tersedia untuk industri, sementara masyarakat harus menunggu keran mengalir. Kekhawatiran seperti ini harus dijawab dengan perencanaan yang matang dan data yang terbuka. BP Batam, Pemerintah Kota Batam, PLN Batam, pengelola air dan perusahaan data center perlu menjelaskan kepada publik berapa total kebutuhan listrik dan air ketika seluruh proyek tersebut beroperasi. Masyarakat juga perlu mengetahui dari mana tambahan listrik dan air itu berasal serta bagaimana pemerintah menjamin kebutuhan rumah tangga tetap menjadi prioritas. Bukan menolak investasi Kekhawatiran terhadap air dan listrik bukan berarti Batam harus menolak data center. Tidak tepat pula langsung menyimpulkan bahwa gangguan air atau listrik yang terjadi saat ini disebabkan data center. Kesimpulan seperti itu harus dibuktikan dengan data konsumsi dan sumber pasokan yang jelas. Tetapi pemerintah juga tidak boleh menunggu sampai masalah benar-benar terjadi. Krisis harus dicegah sebelum masyarakat merasakannya. Pengalaman sejumlah wilayah di Amerika menjadi peringatan bahwa pembangunan data center yang terlalu cepat dapat menimbulkan persoalan ketika infrastruktur tidak berkembang dengan kecepatan yang sama. Batam masih punya kesempatan untuk mengantisipasinya sejak awal. Investor harus didorong menggunakan teknologi pendinginan hemat air, mendaur ulang air sebanyak mungkin, serta ikut membangun sumber energi yang tidak menambah beban berlebihan pada sistem listrik Batam. Regulasi lingkungan juga tidak boleh menjadi sekadar formalitas untuk mendapatkan izin. Kemajuan harus dirasakan warga Batam boleh menjadi pusat data dan AI. Batam juga boleh mengejar investasi bernilai triliunan rupiah. Namun keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya data center yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk. Ukuran paling sederhana justru ada di rumah masyarakat. Ketika server data center menyala 24 jam, listrik rumah warga juga harus tetap menyala. Ketika industri membutuhkan jutaan liter air, keran rumah warga juga harus tetap mengalir. Data center harus membawa Batam maju. Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat masyarakat Batam harus berebut air dan listrik.

Batam sedang bergerak cepat menjadi salah satu pusat data center dan kecerdasan buatan atau AI. Investasi besar masuk. Proyek-proyek baru dibangun, terutama di kawasan Nongsa.

Ini tentu menjadi peluang besar bagi Batam. Investasi data center bisa membawa teknologi, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat posisi Batam dalam ekonomi digital.

Namun, ada pertanyaan penting yang tidak boleh dilupakan:

Apakah pasokan air dan listrik Batam cukup ketika data center mulai beroperasi dalam skala besar?

Pertanyaan ini penting karena data center bukan industri biasa. Server bekerja selama 24 jam dan membutuhkan listrik yang besar serta stabil.

Untuk data center berbasis AI, kebutuhan listriknya bahkan jauh lebih besar.

Belajar dari Amerika

Kekhawatiran terhadap dampak data center bukan hanya terjadi di Batam.

Di Amerika Serikat, pembangunan data center AI mulai mendapat penolakan di sejumlah daerah. Warga mempertanyakan dampaknya terhadap jaringan listrik, pasokan air, lingkungan, hingga kenaikan biaya listrik yang akhirnya ditanggung masyarakat.

Pengalaman itu layak menjadi pelajaran bagi Batam.

Amerika tentu berbeda dengan Batam. Sistem listrik, sumber air, regulasi dan skala industrinya tidak sama.

Tetapi ada satu persoalan yang sama:

Data center membutuhkan listrik dan air dalam jumlah sangat besar.

Karena itu, pembangunan data center tidak cukup hanya berbicara soal nilai investasi. Pemerintah juga harus menghitung kemampuan kota menyediakan kebutuhan dasarnya.

Kebutuhan listrik terus membesar

Di Batam, skalanya sudah mulai terlihat.

Sejumlah perusahaan data center telah menandatangani kontrak pasokan listrik dengan PLN Batam dalam kapasitas ratusan MVA.

PLN Batam juga menyiapkan pembangunan pembangkit baru untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik hingga 2030.

Langkah ini tentu penting.

Namun, masyarakat juga membutuhkan kepastian bahwa pembangunan pembangkit dan jaringan listrik berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan data center.

Jangan sampai data center lebih dulu membutuhkan listrik dalam jumlah besar, sementara tambahan pasokannya belum sepenuhnya siap.

Sebab listrik Batam bukan hanya untuk data center.

Ada rumah masyarakat, rumah sakit, sekolah, UMKM, hotel, galangan kapal dan berbagai industri yang juga membutuhkan listrik setiap hari.

Pertanyaannya sederhana:

Ketika kebutuhan listrik data center meningkat tajam, apakah listrik rumah warga tetap aman?

Persoalan air lebih sensitif

Air bahkan bisa menjadi persoalan yang lebih serius.

Batam sangat bergantung pada waduk sebagai sumber air baku. Ketika curah hujan turun dan volume waduk menyusut, dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Aliran air mengecil. Distribusi terganggu. Di sejumlah wilayah, warga bahkan harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan air.

Di tengah kondisi itu, kebutuhan air data center juga akan meningkat.

Berdasarkan data yang diperoleh Batamnews, kebutuhan air operasional EGS AI Data Centre di Teluk Mata Ikan diproyeksikan mencapai sekitar 311 liter per detik pada 2028.

Jika dihitung sebagai aliran selama 24 jam, jumlah tersebut setara hampir 27 juta liter per hari.

Sementara kebutuhan air di kawasan Nongsa Digital Park diproyeksikan dapat mencapai sekitar 404 liter per detik pada 2032.

Angka itu menunjukkan satu hal:

Kebutuhan air data center bukan kebutuhan kecil.

Memang, angka kapasitas tersebut tidak otomatis berarti seluruh air akan habis digunakan setiap hari. Konsumsi sebenarnya bergantung pada sistem pendinginan, teknologi daur ulang dan cara setiap data center beroperasi.

Namun justru karena kebutuhannya besar, masyarakat perlu mendapat penjelasan yang jelas.

Dari mana air tersebut akan diperoleh?

Apakah menggunakan sumber yang sama dengan rumah masyarakat?

Berapa banyak air yang akan didaur ulang?

Apakah data center diwajibkan menggunakan teknologi pendinginan yang hemat air?

Dan bagaimana jika Batam kembali mengalami kemarau panjang?

Jangan sampai warga yang mengalah

Batam tentu tidak boleh menutup pintu terhadap investasi.

Data center dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru. Industri ini juga dapat memperkuat posisi Batam sebagai pusat teknologi di kawasan.

Tetapi investasi sebesar apa pun tidak boleh membuat kebutuhan dasar masyarakat menjadi nomor dua.

Jangan sampai pusat data mendapatkan listrik stabil selama 24 jam, sementara rumah warga mengalami pemadaman.

Jangan sampai jutaan liter air tersedia untuk industri, sementara masyarakat harus menunggu keran mengalir.

Kekhawatiran seperti ini harus dijawab dengan perencanaan yang matang dan data yang terbuka.

BP Batam, Pemerintah Kota Batam, PLN Batam, pengelola air dan perusahaan data center perlu menjelaskan kepada publik berapa total kebutuhan listrik dan air ketika seluruh proyek tersebut beroperasi.

Masyarakat juga perlu mengetahui dari mana tambahan listrik dan air itu berasal serta bagaimana pemerintah menjamin kebutuhan rumah tangga tetap menjadi prioritas.

Bukan menolak investasi

Kekhawatiran terhadap air dan listrik bukan berarti Batam harus menolak data center.

Tidak tepat pula langsung menyimpulkan bahwa gangguan air atau listrik yang terjadi saat ini disebabkan data center. Kesimpulan seperti itu harus dibuktikan dengan data konsumsi dan sumber pasokan yang jelas.

Tetapi pemerintah juga tidak boleh menunggu sampai masalah benar-benar terjadi.

Krisis harus dicegah sebelum masyarakat merasakannya.

Pengalaman sejumlah wilayah di Amerika menjadi peringatan bahwa pembangunan data center yang terlalu cepat dapat menimbulkan persoalan ketika infrastruktur tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Batam masih punya kesempatan untuk mengantisipasinya sejak awal.

Investor harus didorong menggunakan teknologi pendinginan hemat air, mendaur ulang air sebanyak mungkin, serta ikut membangun sumber energi yang tidak menambah beban berlebihan pada sistem listrik Batam.

Regulasi lingkungan juga tidak boleh menjadi sekadar formalitas untuk mendapatkan izin.

Kemajuan harus dirasakan warga

Batam boleh menjadi pusat data dan AI.

Batam juga boleh mengejar investasi bernilai triliunan rupiah.

Namun keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya data center yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk.

Ukuran paling sederhana justru ada di rumah masyarakat.

Ketika server data center menyala 24 jam, listrik rumah warga juga harus tetap menyala.

Ketika industri membutuhkan jutaan liter air, keran rumah warga juga harus tetap mengalir.

Data center harus membawa Batam maju.

Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat masyarakat Batam harus berebut air dan listrik.

wa
fb
copy
Batamnews Home
Memuat…