2 minggu yang lalu
Jakarta, Batamnews — Sebuah unggahan terkait wisatawan asal Malaysia yang dituding tidak membayar tagihan makan di Restoran Pagi Sore, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, ramai menjadi perbincangan di media sosial.
Kasus ini memicu reaksi warganet Malaysia. Sejumlah pengguna media sosial bahkan menyerukan boikot terhadap Restoran Pagi Sore setelah rombongan turis tersebut disebut-sebut diviralkan karena diduga meninggalkan restoran tanpa membayar tagihan.
Peristiwa itu bermula saat seorang wisatawan asal Malaysia bernama Ain Myunus membagikan pengalamannya di media sosial. Ia mengaku kecewa setelah rombongannya dituding belum melunasi pembayaran usai makan di restoran tersebut.
Dalam keterangannya, Ain menyebut ia datang bersama rombongan berjumlah enam orang. Mereka makan di Restoran Pagi Sore PIK dengan total tagihan Rp907.500 sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung menggunakan kereta cepat Whoosh.
Namun, tiga hari setelah kejadian, saat hendak bersiap kembali ke Malaysia, Ain mendapat informasi dari pihak agen travel bahwa rombongannya disebut belum membayar tagihan makan. Informasi itu disebut sudah beredar di media sosial dan membuat nama rombongan merasa tercemar.
Ain kemudian membuat klarifikasi. Ia menegaskan unggahannya bukan untuk menjatuhkan pihak restoran, melainkan sebagai peringatan kepada wisatawan lain agar selalu menyimpan bukti pembayaran, terutama saat bepergian ke luar negeri.
“Posting ni just utk awareness sesiapa yang pergi luar negara, tolong la simpan resit. Bukan utk burukkan mana-mana pihak. Sebaliknya kami yg rasa diburukkan,” tulis Ain dalam unggahannya yang ramai dibagikan ulang di media sosial.
Menurut Ain, rombongannya sempat panik karena tidak langsung menemukan nota fisik pembayaran. Mereka juga harus memeriksa kembali riwayat transaksi perbankan untuk membuktikan bahwa pembayaran menggunakan kartu telah berhasil dilakukan.
Ia menduga kesalahpahaman muncul karena saat berada di meja makan, rombongannya sempat bercanda mengenai siapa yang akan membayar tagihan.
“Kitorang memang bayar walau pun masa makan tu kitorang ada la melawak cakap nak lari sorang2 sebab nak suruh kawan kitorang yg seorang tu bayar. Bukan kitorang lari terus tak bayar,” tulisnya.
Setelah memeriksa barang bawaan, nota pembayaran akhirnya ditemukan di dalam tas salah satu anggota rombongan. Bukti itu kemudian diserahkan kepada pihak restoran melalui bantuan agen travel.
Ain menyebut, setelah bukti pembayaran diberikan, pihak manajemen Restoran Pagi Sore mengakui adanya kesalahpahaman atau miskomunikasi internal.
“To be short, after bagi bukti semua tu baru la management Pagi Sore mengaku yg ada misscomunication,” tulis Ain.
Kasus ini kemudian melebar menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan warganet Malaysia. Sejumlah akun di Threads membagikan ulang cerita tersebut dan menyoroti cara pihak restoran menangani persoalan sebelum memastikan bukti pembayaran.
Informasi mengenai ajakan boikot dan kronologi kasus ini juga beredar luas di Threads dan Instagram. Pihak Restoran Pagi Sore disebut telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui video rilis.
Permintaan maaf itu disampaikan setelah manajemen menerima bukti pembayaran dari rombongan turis Malaysia tersebut.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi pelaku usaha dan wisatawan. Bagi restoran, verifikasi internal menjadi penting sebelum menyampaikan tuduhan kepada publik. Sementara bagi wisatawan, menyimpan nota atau bukti transaksi menjadi langkah penting untuk menghindari persoalan serupa.