3 hari yang lalu
Batam, Batamnews - Penggerebekan ratusan warga negara asing (WNA) di Apartemen Baloi View, Lubuk Baja, Batam, menyisakan banyak tanda tanya.
Informasi yang dihimpun Batamnews menyebutkan, lima orang yang diduga sebagai bos jaringan judi online, love scamming, dan phishing e-commerce disebut lebih dulu kabur sebelum petugas Imigrasi Batam datang ke lokasi.
Lima orang itu terdiri dari empat warga negara Tiongkok dan satu warga negara Indonesia berinisial AL. Mereka disebut meninggalkan lokasi beberapa jam atau sehari sebelum operasi berlangsung.
AL diduga menjadi salah satu pengendali aktivitas scamming di Batam. Ia disebut memiliki peran penting dalam jaringan yang mempekerjakan ratusan WNA di Apartemen Baloi View.
Selain AL, empat WNA asal Tiongkok juga disebut memiliki peran sebagai pengatur dalam jaringan tersebut. Mereka diduga memiliki hubungan bisnis dengan William Huang, WNA asal Tiongkok yang sebelumnya ditangkap FBI di Thailand.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari aparat terkait identitas lengkap para bos yang diduga kabur tersebut.
Kasus ini mencuat setelah Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam menggerebek Apartemen Baloi View, Jalan Gajah Mada, Baloi Indah, Lubuk Baja, Batam. Dalam operasi itu, ratusan WNA diamankan.
Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian, Yuldi Yusman, mengatakan pihaknya telah mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan sejak pertengahan April 2026.
“Informasi intelijen adanya deteksi dini pada pertengahan April 2026 mengenai aktivitas mencurigakan dari sejumlah WNI yang tinggal di Apartemen Baloi View, Kota Batam,” ujar Yuldi saat konferensi pers di Kantor Imigrasi Batam, Jumat (8/5/2026).
Meski begitu, Yuldi tidak merinci siapa saja WNI yang dimaksud. Ia juga belum menjelaskan peran mereka dalam aktivitas yang diduga berlangsung di apartemen tersebut.
Dari informasi yang diperoleh Batamnews, jaringan ini diduga bekerja secara rapi. Para WNA yang diamankan disebut berperan sebagai operator. Mereka diduga menjalankan aktivitas judi online, love scamming, hingga phishing e-commerce.
Sementara itu, AL disebut kerap mendapat pengawalan dari seorang aparat kepolisian berinisial BA. BA diketahui merupakan pengawal pribadi Gubernur Kepri, Ansar Ahmad.
BA disebut pernah terlihat mendampingi AL dalam sejumlah kegiatan. Bahkan, ia juga diduga pernah terekam kamera saat menemani AL melakukan penukaran bitcoin bernilai miliaran rupiah.
Dugaan ini sebelumnya sudah dibantah. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kepri, Hendri Kurniadi, menyebut BA merupakan anggota Polri yang mendapat penugasan pengamanan tertutup terhadap pejabat di Kepri.
Hendri juga menyebut BA membantah terlibat dalam aktivitas ilegal.
“BA menyatakan tidak pernah melakukan kegiatan ilegal seperti yang disebutkan,” ujar Hendri.
Di sisi lain, Batamnews menemukan sejumlah kejanggalan saat penggerebekan berlangsung. Saat jurnalis berada di lokasi, sejumlah orang berpakaian sipil sempat melarang wartawan mengambil gambar dan video.
Selain warga sipil, petugas di lokasi juga tampak menghalangi proses peliputan. Padahal, penggerebekan itu berlangsung di area apartemen yang menjadi perhatian publik.
Kejanggalan lain muncul dari keberadaan sejumlah mobil di belakang apartemen. Saat operasi berlangsung, terlihat empat unit mobil terparkir di lokasi. Tiga di antaranya diduga Toyota Alphard hitam dan satu unit Mitsubishi Xpander putih.
Mobil Xpander putih itu diduga pernah digunakan oleh adik AL yang disebut sebagai koordinator lapangan di area apartemen. Salah satu kendaraan juga diduga menggunakan pelat nomor palsu.
Kapolda Kepri membantah adanya keterlibatan pengusaha atau WNI dalam jaringan tersebut. Saat dikonfirmasi wartawan, Kapolda mempertanyakan sumber informasi itu.
“Karena kita dengar dari imigrasi yang langsung melakukan investigasi, tidak ada nama itu,” ujarnya.
Namun, ketika ditanya soal rekaman CCTV di dalam maupun sekitar apartemen, Kapolda hanya menjawab singkat.
“Sedang proses,” katanya.
Saat ditanya apakah unit apartemen tersebut disewa, ia juga belum memberikan penjelasan rinci.
“Nanti kita cek ya,” ujarnya sambil masuk ke dalam mobil.
Kapolresta Barelang juga membantah kabar AL kabur sebelum penggerebekan berlangsung.
“Jangan hoaks, jangan hoaks,” ujarnya kepada wartawan usai mendampingi Kapolda Kepri.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona Pricillia Ohei, meminta wartawan menanyakan langsung informasi tersebut kepada pihak yang pertama kali menyebarkannya.
“Tanya sama yang bikin berita itu,” katanya.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Wahyu Eka Putra, juga belum banyak memberi penjelasan soal dugaan keterlibatan WNI, keberadaan CCTV, maupun mobil mewah di lokasi.
“Kami cocokkan data yang kami punya untuk sama-sama didalami,” ujar Wahyu.
Terkait mobil Alphard yang berada di lokasi, Wahyu mengakui kendaraan itu sudah masuk dalam pantauan pihak Imigrasi.
“Itu mobil Alphard sudah menjadi pantauan kami. Ini sedang dalam proses pengembangan,” tuturnya.
Wahyu mengatakan, sejauh ini pihaknya belum menemukan bukti keterlibatan langsung WNI dalam jaringan tersebut. Namun, ia memastikan penyelidikan masih terus dilakukan.
“Ke depan kami akan kejar terus siapa pun yang terlibat dalam kejahatan ini, baik WNA maupun WNI,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, keberadaan AL dan empat WNA asal Tiongkok yang disebut sebagai bos jaringan tersebut masih menjadi tanda tanya. Batamnews masih berupaya meminta konfirmasi lebih lanjut kepada pihak terkait.