Tarik untuk refresh
Utamakan Anak Batam, Akademisi Hukum Sebut Sikap Li Claudia Wakili Keresahan Warga Asli

Utamakan Anak Batam, Akademisi Hukum Sebut Sikap Li Claudia Wakili Keresahan Warga Asli

01 Mei 2026 • 13:38

Batam, Batamnews – Aksi tegas Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, saat menegur penambang pasir ilegal di Nongsa beberapa waktu lalu memicu gelombang diskusi di publik. Namun, di mata akademisi hukum Kota Batam, Miftahul Huda, tindakan tersebut bukanlah sekadar emosi sesaat, melainkan representasi dari "kejengkelan" yang mendalam dari warga asli Batam. Miftahul menilai, meski ucapan Li Claudia menuai kontroversi, hal itu adalah luapan kegelisahan masyarakat asli yang melihat kotanya semakin padat, angka kriminalitas meningkat, dan sulitnya mencari nafkah di tanah sendiri. "Yang asli, lahir besar di Batam, sekarang agak jengkel dengan fenomena sosial hari ini. Anak asli batam itu merasakan persaingan dunia kerja hariini yang sangat kompetitif dan sulit" kata Miftahul Huda saat dimintai tanggapan, Jumat (1/5/2026). Data yang dipaparkannya cukup mengejutkan. Saat ini, tercatat sekitar 190 ribu pekerja di Batam justru memegang KTP luar daerah, sementara warga ber-KTP Batam yang bekerja hanya 170 ribu orang.  "Ini baru yang tercatat, belum yang tidak tercatat" tambahnya. Miftahul menekankan bahwa pembangunan Batam yang inklusif harus dimulai dengan keberanian mengendalikan pertumbuhan penduduk dan mengutamakan tenaga kerja lokal. Bagi Miftahul, keberpihakan pada warga tempatan adalah harga mati untuk meredam kemarahan 30 ribu anak muda asli Batam yang kini masih menganggur.  "Mengurus KTP Batam, harus di permudah, tapi pengawasannya harus diperketat” ujarnya. Ia pun memberikan pembelaan terbuka terhadap sang Wakil Wali Kota, "Utamakan anak Batam, dari pada pendatang dalam dunia kerja. apa yang dilakukan dilakukan Li Claudia sudah tepat," cetusnya. Di sisi lain, Li Claudia Chandra yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala BP Batam, memberikan klarifikasinya langsung di hadapan ratusan buruh saat merayakan May Day di Dataran WTB, Jumat (1/5/2026). Ia menegaskan bahwa aksi sidaknya murni untuk menjaga Batam agar tidak hancur oleh praktik ilegal. "Kami lagi benahin Batam, supaya tidak terjadi kerusakan" tegas Li Claudia. Ia menjelaskan bahwa aktivitas galian C ilegal yang ia tindak tempo hari sangat membahayakan infrastruktur publik, seperti aspal jalan yang bisa amblas. Bagi Li Claudia, menjaga keindahan dan ketertiban Batam adalah tanggung jawab bersama. Ia tak ingin fasilitas kota dan estetika lingkungan rusak hanya demi kepentingan segelintir oknum.  "Yng rugi kan kita nanti kalo rusak" ujarnya. Sebagai penutup, ia mengajak semua pihak untuk memiliki rasa memiliki terhadap kota ini. "Itu bunga bougenville juga rusak nanti. jaga tanaman, jaga lingkungan, jaga keamanan kota yang kita cintai ini" pungkasnya.

Batam, Batamnews – Aksi tegas Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, saat menegur penambang pasir ilegal di Nongsa beberapa waktu lalu memicu gelombang diskusi di publik.

Namun, di mata akademisi hukum Kota Batam, Miftahul Huda, tindakan tersebut bukanlah sekadar emosi sesaat, melainkan representasi dari "kejengkelan" yang mendalam dari warga asli Batam.

Miftahul menilai, meski ucapan Li Claudia menuai kontroversi, hal itu adalah luapan kegelisahan masyarakat asli yang melihat kotanya semakin padat, angka kriminalitas meningkat, dan sulitnya mencari nafkah di tanah sendiri.

"Yang asli, lahir besar di Batam, sekarang agak jengkel dengan fenomena sosial hari ini. Anak asli batam itu merasakan persaingan dunia kerja hariini yang sangat kompetitif dan sulit" kata Miftahul Huda saat dimintai tanggapan, Jumat (1/5/2026).

Data yang dipaparkannya cukup mengejutkan. Saat ini, tercatat sekitar 190 ribu pekerja di Batam justru memegang KTP luar daerah, sementara warga ber-KTP Batam yang bekerja hanya 170 ribu orang. 

"Ini baru yang tercatat, belum yang tidak tercatat" tambahnya.

Miftahul menekankan bahwa pembangunan Batam yang inklusif harus dimulai dengan keberanian mengendalikan pertumbuhan penduduk dan mengutamakan tenaga kerja lokal.

Bagi Miftahul, keberpihakan pada warga tempatan adalah harga mati untuk meredam kemarahan 30 ribu anak muda asli Batam yang kini masih menganggur. 

"Mengurus KTP Batam, harus di permudah, tapi pengawasannya harus diperketat” ujarnya. Ia pun memberikan pembelaan terbuka terhadap sang Wakil Wali Kota, "Utamakan anak Batam, dari pada pendatang dalam dunia kerja. apa yang dilakukan dilakukan Li Claudia sudah tepat," cetusnya.

Di sisi lain, Li Claudia Chandra yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala BP Batam, memberikan klarifikasinya langsung di hadapan ratusan buruh saat merayakan May Day di Dataran WTB, Jumat (1/5/2026). Ia menegaskan bahwa aksi sidaknya murni untuk menjaga Batam agar tidak hancur oleh praktik ilegal.

"Kami lagi benahin Batam, supaya tidak terjadi kerusakan" tegas Li Claudia. Ia menjelaskan bahwa aktivitas galian C ilegal yang ia tindak tempo hari sangat membahayakan infrastruktur publik, seperti aspal jalan yang bisa amblas.

Bagi Li Claudia, menjaga keindahan dan ketertiban Batam adalah tanggung jawab bersama. Ia tak ingin fasilitas kota dan estetika lingkungan rusak hanya demi kepentingan segelintir oknum. 

"Yng rugi kan kita nanti kalo rusak" ujarnya. Sebagai penutup, ia mengajak semua pihak untuk memiliki rasa memiliki terhadap kota ini. "Itu bunga bougenville juga rusak nanti. jaga tanaman, jaga lingkungan, jaga keamanan kota yang kita cintai ini" pungkasnya.

wa
fb
copy
Batamnews Home
Memuat…