1 minggu yang lalu
Batam, Batamnews — Pesan itu singkat. Sangat singkat. Namun justru di situlah letak getirnya.
“Tolong beli obat, sakit kali perutku.”
Kalimat itu dikirim seorang gadis muda berinisial JPB, 21 tahun, kepada rekannya, Senin, 6 April 2026. Saat itu, tak ada yang menyangka, pesan tersebut akan menjadi salah satu jejak terakhir sebelum hidup perempuan muda itu berakhir di sebuah kamar kos di Batuaji, Batam, pada Selasa, 7 April 2026.
Hari sudah larut ketika kegelisahan mulai tumbuh. Rekannya mencoba menelepon, namun tak ada jawaban. Panggilan demi panggilan tak diangkat. Rasa tak enak akhirnya membawa saksi mendatangi tempat tinggal JPB di rumah kos Perumahan Pendawa Asri Blok B3 Nomor 01, Kelurahan Buliang, Kecamatan Batuaji.
Sesampainya di lantai dua, kamar nomor 204 itu tampak sedikit terbuka.
Sekilas, suasana terlihat biasa. Namun ketika dilihat ke dalam, JPB tak ada di kamar. Saksi kemudian menuju kamar mandi di sebelah kanan. Pintu diketuk. Tak ada sahutan. Tak ada jawaban. Hanya sunyi.
Karena tak mendapat respons, saksi masuk ke kamar mandi sebelah kiri, lalu memanjat dinding pembatas untuk mengintip ke sisi sebelah. Dari situlah pemandangan memilukan itu terlihat.
JPB terbaring terlentang di lantai kamar mandi. Ia hanya mengenakan tanktop. Tubuhnya tak lagi memberi jawaban.
Saksi sempat panik. Ia turun, memanggil penghuni kos lainnya, lalu kembali memeriksa keadaan korban. Tubuh JPB sempat digoyangkan. Namanya dipanggil berulang kali. Namun tak ada respons.
Perempuan 21 tahun itu kemudian diangkat ke kasur. Harapan mungkin masih ada saat itu. Bersama petugas keamanan, saksi lalu membawa korban ke Rumah Sakit Graha Hermine dengan sepeda motor. Mereka bahkan harus bonceng tiga di tengah malam, berlomba dengan waktu, berharap nyawa JPB masih bisa diselamatkan.
Namun takdir berkata lain.
Pihak kepolisian yang menerima laporan pada Selasa dini hari sekitar pukul 00.30 WIB langsung bergerak ke lokasi. Dari pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Akan tetapi, tragedi di kamar kos itu ternyata belum selesai.
Beberapa jam kemudian, Selasa sore sekitar pukul 16.20 WIB, polisi kembali datang ke kamar yang sama untuk melakukan pengecekan lanjutan. Dari hasil pengembangan dan keterangan para saksi, petugas menelusuri lebih rinci isi kamar tersebut.
Lalu, di sebuah lemari pakaian, tepatnya di rak paling bawah yang tertutup rapat, petugas menemukan kenyataan lain yang tak kalah mengguncang.
Di dalamnya, terdapat sesosok mayat bayi laki-laki. Tubuh kecil itu dibungkus dengan sehelai handuk biru tua.
Temuan itu membuat suasana di lokasi berubah. Bukan hanya duka atas meninggalnya seorang perempuan muda, tetapi juga kesedihan atas nasib seorang bayi yang bahkan belum sempat mengenal dunia.
Kamar kos yang semula hanya terlihat seperti tempat tinggal sederhana, mendadak menjadi saksi bisu dari rangkaian peristiwa tragis yang menyisakan banyak pertanyaan.
Polisi kemudian berkoordinasi dengan Ketua RT setempat, pemilik rumah kos, dan Unit Inafis Polresta Barelang. Sekitar pukul 17.10 WIB, tim Inafis tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Selanjutnya, jasad bayi dibawa ke RS Bhayangkara Batam sekitar pukul 18.00 WIB.
Kini, penyelidikan masih terus berjalan. Polisi mendalami penyebab pasti kematian JPB dan menelusuri kaitan antara meninggalnya perempuan muda itu dengan ditemukannya bayi laki-laki di dalam lemari kamar kosnya.
Di balik garis polisi dan olah TKP, tersisa cerita yang tidak sederhana. Tentang seorang gadis muda yang sempat mengeluh kesakitan. Tentang pesan minta tolong yang datang beberapa jam sebelum maut. Dan tentang seorang bayi kecil yang ditemukan dalam sunyi, tersembunyi di balik pintu lemari.
Sebuah malam yang barangkali akan lama diingat oleh penghuni kos itu. Karena dari kamar nomor 204, duka datang berlapis.