27 Maret 2026 • 09:22
Batam, Batamnews – Konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah memicu gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai belahan dunia dalam hampir satu bulan terakhir. Lonjakan harga ini bukan main-main, mengancam stabilitas ekonomi global dan berpotensi memicu krisis pangan.
Mengutip laporan Al Jazeera, penyebab utama lonjakan ini adalah terganggunya distribusi minyak dan gas dunia, khususnya di Selat Hormuz. Jalur vital ini, yang menjadi rute penting bagi pasokan energi global dari kawasan Teluk, nyaris lumpuh akibat ketegangan tersebut.
Data dari Global Petrol Prices menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM ini tak hanya terjadi di satu kawasan, melainkan meluas secara global. Negara-negara di Asia dan negara berkembang menjadi yang paling terpukul karena tingginya ketergantungan pada impor energi.
Jepang dan Korea Selatan, misalnya, berada di garis depan kerentanan. Jepang mengimpor sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk, sementara Korea Selatan mengimpor sekitar 70 persen.
Untuk menjaga stabilitas, Jepang bahkan telah meminta fasilitas cadangan minyak bersiap untuk pelepasan stok strategis, sementara Korea Selatan menetapkan batas harga maksimum bensin dan solar—langkah yang baru pertama kali diambil dalam 30 tahun terakhir.
Di Asia Selatan, tekanan pasokan energi terasa jauh lebih berat. Pakistan dan Bangladesh menghadapi keterbatasan fiskal serta cadangan energi yang menipis. Pakistan sampai harus memangkas hari kerja kantor pemerintahan menjadi empat hari sepekan, menutup sekolah, dan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah 50 persen demi menekan konsumsi bahan bakar.
Sementara itu, Bangladesh mengambil langkah ekstrem dengan meminta seluruh universitas negeri dan swasta ditutup untuk menghemat energi.
Indonesia Juga Kena Imbas, Harga Pertamax Naik!
Indonesia sendiri tidak luput dari daftar negara yang mengalami kenaikan harga BBM. Harga bensin oktan 95 atau Pertamax dilaporkan naik 4,24 persen, dari Rp11.800 pada Februari menjadi Rp12.300 per liter pada bulan ini.
Selain Indonesia, sejumlah negara di kawasan Asia seperti Pakistan, Maladewa, Australia, Singapura, China, Myanmar, Afghanistan, dan Sri Lanka juga merasakan dampak serupa. Kenaikan harga BBM juga terjadi di Timur Tengah dan Asia Tengah, termasuk Uni Emirat Arab, Turki, Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Korea Selatan, Qatar, Bhutan, Kazakhstan, Jepang, Yordania, hingga Kyrgyzstan.
Fenomena ini meluas lintas benua, meliputi Puerto Rico, Jerman, Guatemala, Seychelles, Sierra Leone, Lebanon, Spanyol, Austria, Swedia, Luksemburg, Zimbabwe, Ukraina, San Marino, Albania, Denmark, Makedonia Utara, Moldova, Panama, Ethiopia, Belgia, Prancis, Republik Demokratis Kongo, Bulgaria, Republik Dominika, Burundi, Liberia, Italia, Mesir, Norwegia, Swiss, Latvia, Yunani, serta Suriname.
Daftar negara terdampak semakin panjang dengan Monako, Aruba, Peru, Argentina, Andorra, Montenegro, Portugal, Curacao, Rumania, Liechtenstein, Jamaika, Grenada, Israel, Serbia, Brasil, Inggris, Islandia, Siprus, Honduras, dan Selandia Baru. Termasuk pula El Salvador, Bosnia dan Herzegovina, Kosta Rika, Tanzania, Mauritius, Mozambik, Lithuania, Slovenia, Ghana, Barbados, Georgia, Maroko, Nikaragua, Rwanda, dan Tunisia.
Di Amerika Serikat, harga bensin reguler tercatat naik sekitar 20 persen dari rata-rata US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon.
Sementara itu, di sejumlah negara bagian, harga BBM bahkan menembus US$4 per galon, sementara di California melampaui US$5 per galon, tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Ancaman Krisis Pangan Global
Lonjakan harga minyak global ini bukan hanya soal transportasi, melainkan juga dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga pangan dunia. Energi memiliki peran krusial dalam seluruh rantai pasok pangan, mulai dari produksi pupuk, proses pengolahan, hingga distribusi ke pasar.
Negara-negara berpendapatan rendah dinilai paling rentan menghadapi tekanan ini. Pasalnya, porsi pengeluaran masyarakat untuk pangan lebih besar, dan banyak negara masih bergantung pada impor komoditas strategis seperti gandum dan pupuk.
10 Negara dengan Kenaikan Harga BBM Tertinggi:
Kamboja: naik 67,81 persen
Vietnam: naik 49,73 persen
Nigeria: naik 35,02 persen
Laos: naik 32,94 persen
Kanada: naik 28,36 persen
Pakistan: naik 24,49 persen
Maladewa: naik 18,54 persen
Australia: naik 18,23 persen
Amerika Serikat: naik 16,55 persen
Singapura: naik 15,69 persen
Situasi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh dunia akan dampak berantai dari konflik geopolitik yang bisa mengancam stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat global.