Batam, Batamnews – Seorang pria yang biasa disapa Sempu ditemukan meninggal dunia di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Kamis (26/02/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Korban ditemukan tergeletak di lajur pejalan kaki dengan mengenakan kaos coklat motif kotak-kotak. Korban diketahui sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan harian. Hal itu disampaikan rekan kerjanya, Wahyudi, yang mengenal Sempu sejak masih aktif bekerja. “Dia biasa kerja bangunan harian. Biasanya nongkrong di halte dekat mess waktu masih kerja. Setelah tidak bekerja, dia tidak punya tempat tinggal,” ujar Wahyudi, saat diwawancarai batamnews.co.id di lokasi kejadian. Menurut Wahyudi, selama mengenal korban, Sempu tidak pernah mengeluhkan penyakit serius. Namun, ia sempat mendengar korban memiliki riwayat ayan. “Tidak pernah mengeluh sakit. Tapi saya pernah dengar dia punya riwayat ayan. Waktu kami kerja di ketinggian, dia takut dan badannya sampai bergetar,” katanya. Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya yang tidak enak. Ia bahkan meminta tolong untuk dikerok sebelum akhirnya berpamitan untuk mandi dan beristirahat. “Sebelum meninggal, dia sempat minta dikerok badannya. Setelah itu pamit mau mandi. Tapi sebelum sampai ke halte untuk istirahat, di tengah jalan dia terbaring dan meninggal dunia,” ungkap Wahyudi. Wahyudi juga menyebut, pada hari kejadian korban tampak berbeda, terutama saat waktu berbuka puasa. “Biasanya dia rajin sholat dan puasa. Tapi hari ini waktu berbuka dia tidak makan, hanya banyak minum air,” tambahnya. Saat ini, jasad korban telah dievakuasi oleh pihak kepolisian ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Pemeriksaan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.
Batam, Batamnews – Seorang pria yang biasa disapa Sempu ditemukan meninggal dunia di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Kamis (26/02/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Korban ditemukan tergeletak di lajur pejalan kaki dengan mengenakan kaos coklat motif kotak-kotak.
Korban diketahui sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan harian. Hal itu disampaikan rekan kerjanya, Wahyudi, yang mengenal Sempu sejak masih aktif bekerja.
“Dia biasa kerja bangunan harian. Biasanya nongkrong di halte dekat mess waktu masih kerja. Setelah tidak bekerja, dia tidak punya tempat tinggal,” ujar Wahyudi, saat diwawancarai batamnews.co.id di lokasi kejadian.
Menurut Wahyudi, selama mengenal korban, Sempu tidak pernah mengeluhkan penyakit serius. Namun, ia sempat mendengar korban memiliki riwayat ayan.
“Tidak pernah mengeluh sakit. Tapi saya pernah dengar dia punya riwayat ayan. Waktu kami kerja di ketinggian, dia takut dan badannya sampai bergetar,” katanya.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat mengeluhkan kondisi tubuhnya yang tidak enak. Ia bahkan meminta tolong untuk dikerok sebelum akhirnya berpamitan untuk mandi dan beristirahat.
“Sebelum meninggal, dia sempat minta dikerok badannya. Setelah itu pamit mau mandi. Tapi sebelum sampai ke halte untuk istirahat, di tengah jalan dia terbaring dan meninggal dunia,” ungkap Wahyudi.
Wahyudi juga menyebut, pada hari kejadian korban tampak berbeda, terutama saat waktu berbuka puasa.
“Biasanya dia rajin sholat dan puasa. Tapi hari ini waktu berbuka dia tidak makan, hanya banyak minum air,” tambahnya.
Saat ini, jasad korban telah dievakuasi oleh pihak kepolisian ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Riau. Pemeriksaan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.