Tarik untuk refresh
Salah Tafsir `Ayah Ambil Rapor` dan Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan

Salah Tafsir `Ayah Ambil Rapor` dan Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan

20 Desember 2025 • 08:32

Oleh: Raja Dachroni Gerakan “Ayah Ambil Rapor” yang kini digaungkan di banyak kota adalah langkah positif untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Sayangnya, tidak sedikit yang masih salah menafsirkan gerakan ini. Sebagian menganggapnya hanya sebagai formalitas tahunan atau sekadar membagi tugas dengan ibu. Padahal, ajakan ini menyimpan makna mendalam tentang pentingnya keterlibatan emosional dan spiritual seorang ayah dalam tumbuh kembang anak. Saya memandang ini sebagai kesempatan penting untuk menggeser pola pikir lama. Selama ini, banyak keluarga masih memposisikan ayah hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, dalam konsep pengasuhan modern bahkan dalam perspektif Islam  peran ayah jauh lebih luas dan strategis. Ia adalah pemimpin keluarga (qawwam), pendidik, pelindung, sekaligus teladan akhlak bagi anak-anaknya. Ketika seorang ayah mengambil rapor anak, sesungguhnya ia sedang menunjukkan bahwa ia hadir secara utuh dalam kehidupan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan, tumbuh kembang, dan pembentukan karakter. Maka, salah tafsir terhadap gerakan ini perlu diluruskan. Ini bukan tugas tambahan ini adalah tanggung jawab utama.    Peran ayah dalam Islam sangat ditekankan, bahkan dicontohkan langsung dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Nabi Ya’qub mendidik anak-anaknya. Dalam QS. Yusuf ayat 4–6, beliau mendengarkan mimpi Nabi Yusuf dan menasihatinya dengan penuh kelembutan dan hikmah. Ayah hadir sebagai pendengar, pembimbing, dan penjaga emosi anak. Ini adalah contoh keterlibatan yang bukan hanya fisik, tapi juga emosional dan spiritual. Begitu pula dalam QS. Luqman ayat 13–19, Luqman menasihati anaknya dengan bijak tentang tauhid, akhlak, dan cara bersikap dalam kehidupan. Ini memperlihatkan bahwa ayah adalah pendidik pertama dan utama. Bukan hanya ibu. Ayah bertanggung jawab atas pendidikan moral, agama, dan sosial anak. Maka jika hari ini seorang ayah datang mengambil rapor anaknya di sekolah, ia sejatinya sedang menjalankan peran yang sangat mulia sebagaimana ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Dunia riset dan Sains pun mendukung ini. Data dari National Fatherhood Initiative menyebutkan bahwa anak tanpa kehadiran ayah cenderung lebih rentan mengalami gangguan emosional, prestasi akademik buruk, bahkan berisiko tinggi pada kenakalan remaja. Sementara riset dari *Journal of Family Psychology* menegaskan bahwa anak dengan keterlibatan ayah yang tinggi menunjukkan kemampuan sosial dan akademik yang lebih baik. Masalahnya, di banyak keluarga hari ini, ayah masih merasa cukup dengan "bekerja keras" di luar rumah. Padahal, momen sederhana seperti duduk bersama guru di ruang kelas anak, mendengarkan catatan perkembangan, dan memberikan pelukan hangat bisa menjadi pengalaman emosional yang membekas seumur hidup bagi anak. Ayah yang hadir secara utuh  bukan hanya lewat transfer gaji, tapi juga waktu dan perhatian adalah hadiah terbaik bagi pertumbuhan anak. Kehadiran ayah dalam pengasuhan adalah perintah moral sekaligus spiritual. Dalam perspektif Islam, tanggung jawab pendidikan anak tidak bisa dipindahkan sepenuhnya kepada ibu atau sekolah. QS. At-Tahrim ayat 6 mengingatkan, "Wahai orang-orang yang beriman, pelihara lah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." ini adalah panggilan langsung bagi kepala keluarga, seorang ayah, untuk aktif memelihara akhlak dan iman keluarganya. Mengambil rapor bukanlah seremoni biasa, melainkan simbol kehadiran dan perhatian. Dalam momen itu, ayah bisa mendengar bagaimana perkembangan anak, memberikan dukungan langsung, dan menjadi teladan. Ini juga mencerminkan nilai-nilai Islam tentang musyawarah, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama dalam keluarga. Jika selama ini masyarakat memandang urusan sekolah sebagai tanggung jawab ibu, maka sudah waktunya kita meluruskan. Anak membutuhkan kedua orang tuanya  tidak hanya secara biologis, tetapi secara emosional, sosial, dan spiritual. Gerakan “Ayah Ambil Rapor” bisa menjadi awal dari kesadaran kolektif bahwa ayah punya peran strategis yang tak tergantikan. Mari kita geser cara pandang kita. Jadikan setiap momen pengasuhan sebagai ladang amal dan investasi masa depan. Ayah bukan hanya pelindung, tapi juga pendidik. Bukan hanya pemimpin, tapi juga pendengar. Dalam pelukan ayah, anak belajar tentang kekuatan. Dalam nasihatnya, anak mengenal hikmah. Dan dalam kehadirannya, anak menemukan cinta yang utuh. Itulah ayah yang dimuliakan oleh Al-Qur’an  dan itulah ayah yang dibutuhkan anak hari ini. ----------- Penulis adalah Ayah Empat Anak Cowok Semua.

Oleh: Raja Dachroni

Gerakan “Ayah Ambil Rapor” yang kini digaungkan di banyak kota adalah langkah positif untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Sayangnya, tidak sedikit yang masih salah menafsirkan gerakan ini. Sebagian menganggapnya hanya sebagai formalitas tahunan atau sekadar membagi tugas dengan ibu. Padahal, ajakan ini menyimpan makna mendalam tentang pentingnya keterlibatan emosional dan spiritual seorang ayah dalam tumbuh kembang anak.

Saya memandang ini sebagai kesempatan penting untuk menggeser pola pikir lama. Selama ini, banyak keluarga masih memposisikan ayah hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, dalam konsep pengasuhan modern bahkan dalam perspektif Islam  peran ayah jauh lebih luas dan strategis. Ia adalah pemimpin keluarga (qawwam), pendidik, pelindung, sekaligus teladan akhlak bagi anak-anaknya.

Ketika seorang ayah mengambil rapor anak, sesungguhnya ia sedang menunjukkan bahwa ia hadir secara utuh dalam kehidupan anak, bukan hanya memenuhi kebutuhan materi, tapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan, tumbuh kembang, dan pembentukan karakter. Maka, salah tafsir terhadap gerakan ini perlu diluruskan. Ini bukan tugas tambahan ini adalah tanggung jawab utama.
  
Peran ayah dalam Islam sangat ditekankan, bahkan dicontohkan langsung dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Nabi Ya’qub mendidik anak-anaknya. Dalam QS. Yusuf ayat 4–6, beliau mendengarkan mimpi Nabi Yusuf dan menasihatinya dengan penuh kelembutan dan hikmah. Ayah hadir sebagai pendengar, pembimbing, dan penjaga emosi anak. Ini adalah contoh keterlibatan yang bukan hanya fisik, tapi juga emosional dan spiritual.

Begitu pula dalam QS. Luqman ayat 13–19, Luqman menasihati anaknya dengan bijak tentang tauhid, akhlak, dan cara bersikap dalam kehidupan. Ini memperlihatkan bahwa ayah adalah pendidik pertama dan utama. Bukan hanya ibu. Ayah bertanggung jawab atas pendidikan moral, agama, dan sosial anak. Maka jika hari ini seorang ayah datang mengambil rapor anaknya di sekolah, ia sejatinya sedang menjalankan peran yang sangat mulia sebagaimana ditunjukkan dalam Al-Qur’an.

Dunia riset dan Sains pun mendukung ini. Data dari National Fatherhood Initiative menyebutkan bahwa anak tanpa kehadiran ayah cenderung lebih rentan mengalami gangguan emosional, prestasi akademik buruk, bahkan berisiko tinggi pada kenakalan remaja. Sementara riset dari *Journal of Family Psychology* menegaskan bahwa anak dengan keterlibatan ayah yang tinggi menunjukkan kemampuan sosial dan akademik yang lebih baik.

Masalahnya, di banyak keluarga hari ini, ayah masih merasa cukup dengan "bekerja keras" di luar rumah. Padahal, momen sederhana seperti duduk bersama guru di ruang kelas anak, mendengarkan catatan perkembangan, dan memberikan pelukan hangat bisa menjadi pengalaman emosional yang membekas seumur hidup bagi anak. Ayah yang hadir secara utuh  bukan hanya lewat transfer gaji, tapi juga waktu dan perhatian adalah hadiah terbaik bagi pertumbuhan anak.

Kehadiran ayah dalam pengasuhan adalah perintah moral sekaligus spiritual. Dalam perspektif Islam, tanggung jawab pendidikan anak tidak bisa dipindahkan sepenuhnya kepada ibu atau sekolah. QS. At-Tahrim ayat 6 mengingatkan, "Wahai orang-orang yang beriman, pelihara lah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." ini adalah panggilan langsung bagi kepala keluarga, seorang ayah, untuk aktif memelihara akhlak dan iman keluarganya.

Mengambil rapor bukanlah seremoni biasa, melainkan simbol kehadiran dan perhatian. Dalam momen itu, ayah bisa mendengar bagaimana perkembangan anak, memberikan dukungan langsung, dan menjadi teladan. Ini juga mencerminkan nilai-nilai Islam tentang musyawarah, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama dalam keluarga.

Jika selama ini masyarakat memandang urusan sekolah sebagai tanggung jawab ibu, maka sudah waktunya kita meluruskan. Anak membutuhkan kedua orang tuanya  tidak hanya secara biologis, tetapi secara emosional, sosial, dan spiritual. Gerakan “Ayah Ambil Rapor” bisa menjadi awal dari kesadaran kolektif bahwa ayah punya peran strategis yang tak tergantikan.


Mari kita geser cara pandang kita. Jadikan setiap momen pengasuhan sebagai ladang amal dan investasi masa depan. Ayah bukan hanya pelindung, tapi juga pendidik. Bukan hanya pemimpin, tapi juga pendengar. Dalam pelukan ayah, anak belajar tentang kekuatan. Dalam nasihatnya, anak mengenal hikmah. Dan dalam kehadirannya, anak menemukan cinta yang utuh. Itulah ayah yang dimuliakan oleh Al-Qur’an  dan itulah ayah yang dibutuhkan anak hari ini.

-----------

Penulis adalah Ayah Empat Anak Cowok Semua.

Play
Stop
WA
FB
Copy
Batamnews Home
Memuat…