Singapura, Batamnews - Seorang warga Singapura berusia 28 tahun, sebut saja Lovelle (bukan nama sebenarnya), hidup dalam kecemasan sejak Juni 2025. Ia dan orang-orang terdekatnya diteror oleh seorang wanita asal Kota Batam yang terus mengirimkan ancaman, pesan bernada agresif, hingga melakukan panggilan spam tanpa henti. Wanita tersebut—warga Indonesia yang dalam laporan disebut sebagai A—diduga sedang mencari seorang pria yang pernah ditemuinya di Batam. Ia meyakini Lovelle dan teman-temannya memiliki hubungan dengan pria itu. “Dia menelepon tunangan saya tanpa henti, bahkan saat upacara Registry of Marriages (ROM) kami berlangsung,” kata Lovelle. “Saya hanya ingin ada pihak yang bisa membantu kasus kami.” Mencari pria bernama "Tony", mengaku hamil Teror dimulai pada 3 Juni 2025, ketika A pertama kali menghubungi Lovelle melalui Instagram. Ia terus-menerus berkomentar di unggahan Lovelle dan meminta agar dihubungkan dengan sahabat dekatnya. Belakangan Lovelle mengetahui bahwa A sedang mencari seorang pria bernama Tony, kenalan biasa dari sahabatnya. A mengaku bahwa Tony menghamilinya ketika mereka bertemu di Batam, lalu pergi tanpa jejak. Karena Tony tidak menanggapi pesannya, A kemudian menargetkan orang-orang yang ia yakini dekat dengan pria tersebut—termasuk Lovelle dan sahabatnya. Mengganggu dan mengancam sejak Juni Awalnya, Lovelle mengabaikan pesan-pesan itu. Namun A terus mengirimkan pesan, semakin sering dan semakin agresif. Ia membuat lebih dari 30 akun palsu di Instagram dan TikTok untuk menekan Lovelle. Dalam beberapa tangkapan layar pesan yang dilihat oleh media, A tampak bergantian mengirim permohonan dan ancaman. Di salah satu pesannya, A menulis: “Aku punya foto kalian semua. Tolong bantu aku, kalau tidak hati-hati… mungkin ada yang membunuhmu saat keluar rumah.” Tak hanya Lovelle, A juga mengirim ancaman terhadap sahabatnya bahkan terhadap anjing peliharaannya. Polisi Singapura dan Indonesia ikut turun tangan Situasi memburuk ketika A mulai mengirim email ke perusahaan tempat Lovelle bekerja pada 13 Juni. Merasa terancam, Lovelle membawa kasus ini ke polisi Singapura. Ia juga mendapat bantuan dari Singapore Council of Women’s Organisations (SCWO) untuk memblokir akun-akun palsu A. Namun permasalahan tidak berhenti di situ. Meski A sempat dipanggil polisi di Batam setelah Tony membuat laporan, ia kembali bebas dan tetap melanjutkan aksinya. Targetnya kini meluas ke sahabat Lovelle dan bahkan suaminya melalui Telegram. Minimnya jalan keluar membuat Lovelle menghubungi Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA). Ia disarankan membuat laporan resmi di Batam, dan kini menunggu tindak lanjut dari Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Hingga 2 Desember, A dilaporkan masih berusaha menghubungi rekan-rekan kerja Lovelle demi menemukan Tony, pria yang ia klaim sebagai kekasih yang “menghilang.” Media telah menghubungi Kedutaan Indonesia untuk meminta tanggapan terkait perkembangan kasus ini.
Singapura, Batamnews - Seorang warga Singapura berusia 28 tahun, sebut saja Lovelle (bukan nama sebenarnya), hidup dalam kecemasan sejak Juni 2025. Ia dan orang-orang terdekatnya diteror oleh seorang wanita asal Kota Batam yang terus mengirimkan ancaman, pesan bernada agresif, hingga melakukan panggilan spam tanpa henti.
Wanita tersebut—warga Indonesia yang dalam laporan disebut sebagai A—diduga sedang mencari seorang pria yang pernah ditemuinya di Batam. Ia meyakini Lovelle dan teman-temannya memiliki hubungan dengan pria itu.
“Dia menelepon tunangan saya tanpa henti, bahkan saat upacara Registry of Marriages (ROM) kami berlangsung,” kata Lovelle.
“Saya hanya ingin ada pihak yang bisa membantu kasus kami.”
Mencari pria bernama "Tony", mengaku hamil
Teror dimulai pada 3 Juni 2025, ketika A pertama kali menghubungi Lovelle melalui Instagram. Ia terus-menerus berkomentar di unggahan Lovelle dan meminta agar dihubungkan dengan sahabat dekatnya.
Belakangan Lovelle mengetahui bahwa A sedang mencari seorang pria bernama Tony, kenalan biasa dari sahabatnya. A mengaku bahwa Tony menghamilinya ketika mereka bertemu di Batam, lalu pergi tanpa jejak.
Karena Tony tidak menanggapi pesannya, A kemudian menargetkan orang-orang yang ia yakini dekat dengan pria tersebut—termasuk Lovelle dan sahabatnya.
Mengganggu dan mengancam sejak Juni
Awalnya, Lovelle mengabaikan pesan-pesan itu. Namun A terus mengirimkan pesan, semakin sering dan semakin agresif. Ia membuat lebih dari 30 akun palsu di Instagram dan TikTok untuk menekan Lovelle.
Dalam beberapa tangkapan layar pesan yang dilihat oleh media, A tampak bergantian mengirim permohonan dan ancaman.
Di salah satu pesannya, A menulis:
“Aku punya foto kalian semua. Tolong bantu aku, kalau tidak hati-hati… mungkin ada yang membunuhmu saat keluar rumah.”
Tak hanya Lovelle, A juga mengirim ancaman terhadap sahabatnya bahkan terhadap anjing peliharaannya.
Polisi Singapura dan Indonesia ikut turun tangan
Situasi memburuk ketika A mulai mengirim email ke perusahaan tempat Lovelle bekerja pada 13 Juni. Merasa terancam, Lovelle membawa kasus ini ke polisi Singapura.
Ia juga mendapat bantuan dari Singapore Council of Women’s Organisations (SCWO) untuk memblokir akun-akun palsu A. Namun permasalahan tidak berhenti di situ.
Meski A sempat dipanggil polisi di Batam setelah Tony membuat laporan, ia kembali bebas dan tetap melanjutkan aksinya. Targetnya kini meluas ke sahabat Lovelle dan bahkan suaminya melalui Telegram.
Minimnya jalan keluar membuat Lovelle menghubungi Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA). Ia disarankan membuat laporan resmi di Batam, dan kini menunggu tindak lanjut dari Kedutaan Besar Indonesia di Singapura.
Hingga 2 Desember, A dilaporkan masih berusaha menghubungi rekan-rekan kerja Lovelle demi menemukan Tony, pria yang ia klaim sebagai kekasih yang “menghilang.”
Media telah menghubungi Kedutaan Indonesia untuk meminta tanggapan terkait perkembangan kasus ini.